Pacitanku.com, NGADIROJO-Masjid Syekh Yahuda yang berada di Desa Nogosari, Kecamatan Ngadirojo, Kabupaten Pacitan, merupakan salah satu masjid peninggalan Syekh Yahuda.
Keberadaan masjid ini tidak hanya berfungsi sebagai tempat ibadah, tetapi juga menjadi bagian dari ruang sosial dan budaya yang hidup dalam ingatan masyarakat setempat.
Dalam pandangan masyarakat, Syekh Yahuda dipercaya sebagai salah satu tokoh auliya, yakni sebutan bagi orang-orang yang dianggap memiliki kedekatan spiritual dengan Allah karena ketakwaan dan kesalehannya dalam menjalankan ajaran agama.
Selain itu, ia juga diyakini sebagai sosok yang membabat wilayah Nogosari.
Nama Nogosari sendiri dikaitkan dengan banyaknya tanaman nogosari di daerah tersebut hingga kemudian dikenal sebagai Desa Nogosari.
Berdasarkan hasil wawancara dengan Mukoiri selaku pihak keluarga, penyebutan Syekh Yahuda sebagai auliya berasal dari para masayikh atau kiai.
Di sisi lain, ia menegaskan bahwa Syekh Yahuda tidak menghendaki kemasyhuran dirinya, sehingga tidak banyak catatan tertulis yang dapat dijadikan rujukan.
Oleh karena itu, berbagai informasi yang berkembang di masyarakat perlu disikapi secara hati-hati.
Dalam salah satu penuturannya, Mukoiri juga menceritakan adanya tamu dari Malaysia yang pernah berkunjung setelah menemukan dokumen di perpustakaan salah satu universitas.
Dokumen tersebut disebut berkaitan dengan perjuangan Pangeran Diponegoro dan memuat penyebutan nama Syekh Yahuda sebagai guru.
Selain masjid, terdapat makam keluarga yang dijaga ketat.
Para peziarah diharapkan menjaga sopan santun dan menaati aturan, seperti larangan mengambil foto atau video, serta larangan melakukan praktik yang tidak sesuai dengan ajaran Islam, seperti membawa sesajen.
Sebagai penutup wawancara (21/04/2026), Mukoiri menyampaikan harapan agar masyarakat turut menjaga dan melestarikan keberadaan tempat tersebut tanpa menyalahgunakannya.
Ia juga menegaskan bahwa dalam memahami sosok Syekh Yahuda diperlukan sikap bijak dan kehati-hatian, terutama ketika informasi yang tersedia masih didominasi oleh tradisi lisan.
“Saya kira bila sumbernya tidak valid, lebih baik diam,” tegasnya.










