Bakteri Jadi Biang Keracunan, DPRD Pacitan Desak Evaluasi Total MBG

oleh -162 Dilihat
Ketua Komisi II DPRD Pacitan Rudi Handoko mengenakan pakaian adat beskap saat menghadiri peringatan Hari Jadi ke-281 Kabupaten Pacitan di Pendopo.
Komisi II DPRD Pacitan. (Foto: Dok. Rudi Handoko for Pacitanku)

Pacitanku.com, PACITAN – Komisi II DPRD Kabupaten Pacitan mendesak Badan Gizi Nasional (BGN) dan Satuan Pelayanan Makan Bergizi (SPPG) melakukan evaluasi menyeluruh terhadap implementasi program Makan Bergizi Gratis (MBG).

Hal itu perlu dilakukan setelah Dinas Kesehatan setempat mengonfirmasi bahwa kontaminasi bakteri menjadi penyebab keracunan massal yang menimpa 158 siswa di Kecamatan Tegalombo.

Ketua Komisi II DPRD Pacitan, Rudi Handoko, menegaskan bahwa insiden ini harus menjadi momentum bagi BGN untuk memperketat pengawasan.

Baca juga: Dinkes Pacitan Pastikan Bakteri Jadi Penyebab Keracunan MBG Ratusan Siswa di Tegalombo

Legislator Partai Demokrat ini juga meminta agar seluruh jajaran pelaksana di daerah disiplin mengikuti petunjuk teknis (juknis) guna menjamin keamanan pangan bagi siswa.

“Kami berharap program dari pemerintah pusat ini implementasinya di bawah harus benar-benar konsisten dan sesuai dengan petunjuk teknis yang sudah dilakukan. Permasalahan ini tentunya menjadi pembelajaran dan perhatian utama terkait SPPG di mana pun,”kata Rudi Handoko dalam keterangan resminya, Sabtu (18/4/2026) di Pacitan.

Rudi juga mendorong penguatan koordinasi lintas sektor, khususnya antara SPPG dengan Puskesmas di tingkat kecamatan.

Menurutnya, meskipun SPPG memiliki ahli gizi internal, keterlibatan aktif tenaga kesehatan dari Puskesmas diperlukan untuk memastikan standar higienitas yang lebih berlapis.

“Kepala SPPG dan mitra ini lebih memberdayakan koordinasi lintas sektor. Ada Puskesmas di kecamatan untuk berkolaborasi, sehingga aspek higienisnya lebih bagus lagi,”tambahnya.

Selain masalah pangan, legislatif juga menyoroti pentingnya pengelolaan Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) pada unit penyedia makan.

SPPG diminta bersinergi dengan Dinas Lingkungan Hidup (DLH) guna memastikan fasilitas operasional memenuhi standar lingkungan. Terkait langkah BGN Korwil Pacitan yang menghentikan sementara operasional SPPG yang bermasalah, pihak DPRD menyatakan dukungan penuh.

“Kami sepakat dengan langkah BGN Korwil Pacitan untuk melakukan evaluasi SPPG yang dirasa ada masalah. Ini penting untuk meminimalisir risiko dan mengetahui sejauh mana upaya mengatasi permasalahan yang ada,”pungkas Rudi.

Kronologi Kejadian dan Hasil Uji Lab

Insiden keracunan massal ini bermula pada Kamis (9/4/2026). Sebanyak 158 siswa dari jenjang TK hingga SMP yang tersebar di lima desa—Desa Kebondalem, Gedangan, Ngreco, Kemuning, dan Tegalombo—mengalami gejala mual, muntah, hingga diare usai menyantap menu harian program MBG.

Warga awalnya mencurigai komponen buah melon yang terasa masam dan saus tahu sebagai pemicu. Akibat kejadian tersebut, sebanyak 28 siswa harus menjalani perawatan intensif di Puskesmas Pembantu Tegalombo dan RSU Medical Mandiri Pacitan sebelum akhirnya kondisi mereka dinyatakan stabil.

Pihak Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Pacitan akhirnya merilis hasil uji laboratorium dari tiga lembaga rujukan.

Hasil pemeriksaan memastikan adanya kandungan bakteri pada sampel makanan tanggal 8, 9, dan 10 April 2026, khususnya pada menu sayur sawi, edamame, dan mie sayuran.

Selain pada makanan, kontaminasi bakteri juga ditemukan pada sampel air bersih yang digunakan di SPPG Sejahtera Kebondalem berdasarkan hasil uji Labkesda Pacitan.

No More Posts Available.

No more pages to load.