Pacitanku.com, NGANJUK – Semilir angin di tengah hamparan sawah Desa Nglundo, Kecamatan Sukomoro, Kabupaten Nganjuk, seolah menyapa kedatangan rombongan peziarah pada akhir November 2025 lalu.
Di sana, di sebuah pusara yang terlindung atap teduh dan berpagar rapi, bersemayam jasad seorang perempuan tangguh yang namanya abadi dalam sejarah perburuhan Indonesia.
Suasana khidmat menyelimuti ketika 30 pegiat media sosial atau influencer asal Jawa Timur menundukkan kepala, memanjatkan doa terbaik bagi Marsinah, sosok yang kini telah resmi menyandang gelar Pahlawan Nasional.
Kunjungan para pemuda kreatif ini bukan sekadar wisata sejarah biasa, melainkan upaya merawat ingatan atas perjuangan keadilan sosial.
Lokasi makam yang terletak di sebelah utara Jalan Raya Jombang-Nganjuk ini cukup mudah dikenali karena keberadaannya yang bersebelahan dengan hiruk-pikuk jalur Tol Trans Jawa.
Di tempat peristirahatan terakhir inilah, para influencer mengenang kembali keberanian Marsinah dalam menyuarakan hak-hak kaum kecil.
Momentum ziarah ini terasa semakin istimewa karena Marsinah baru saja mendapatkan pengakuan tertinggi dari negara.
Presiden Prabowo Subianto secara resmi menganugerahkan gelar Pahlawan Nasional Indonesia kepada Marsinah pada 10 November 2025, bertepatan dengan Hari Pahlawan.
Gelar ini menjadi penegas bahwa perjuangan aktivis buruh asal Nganjuk tersebut adalah simbol perjuangan kaum buruh.
Staf Dinas Kepemudaan, Olahraga, Kebudayaan, dan Pariwisata (Disporabudpar) Kabupaten Nganjuk, Aris, menyambut baik antusiasme generasi muda yang ingin mengenal lebih dekat sosok pahlawan daerahnya.
Saat ditemui di sela kegiatan, Aris mengungkapkan rasa bangganya karena Nganjuk kini memiliki ikon perjuangan nasional baru yang lahir dari rahim rakyat biasa.
“Kota Nganjuk sekarang bertambah satu Pahlawan Nasional, yaitu Ibu Marsinah, yang betul-betul asli kelahiran Nganjuk. Beliau memperjuangkan hak-hak kewarganegaraan,”kata Aris.
Lebih lanjut, Aris menceritakan sisi humanis Marsinah yang patut diteladani. Menurutnya, ketangguhan Marsinah sudah ditempa sejak usia belia.
Hidup jauh dari orang tua dan menumpang pada kerabat tidak mematahkan semangatnya untuk mandiri hingga akhirnya bekerja sebagai buruh pabrik.
Kisah hidup yang penuh liku itulah yang membentuk karakter bajanya dalam membela sesama rekan pekerja. Aris berharap, semangat tersebut tidak berhenti di buku sejarah, melainkan hidup dalam jiwa anak muda masa kini.
“Beliau memiliki keteladanan yang cukup tinggi. Mulai dari kecil hingga dewasa, beliau terus berjuang. Sekarang, beliau menjadi panutan bagi masyarakat Indonesia secara nasional, khususnya terkait ketenagakerjaan,”imbuh Aris.
“Maka dari itu, harapan kami adalah segala cita-cita dan keinginan yang diperjuangkan Mbak Marsinah dapat dilanjutkan dan diteruskan oleh teman-teman semua, khususnya para pemuda dan pemudi rakyat Indonesia,”kata Aris penuh harap.
Semangat perjuangan Marsinah tidak hanya terpatri di nisan makamnya, tetapi juga tervisualisasikan dengan gagah melalui sebuah monumen yang berdiri tak jauh dari area pemakaman.
Monumen Pahlawan Buruh Marsinah yang terletak di tepi Jalan Raya Baron, Desa Nglundo, menjadi pengingat abadi bagi siapa saja yang melintas. Di sana, sebuah patung perempuan berwarna emas dengan rambut sebahu berdiri tegak di atas dudukan berbentuk teratai.
Visualisasi patung tersebut sangat ikonik, menggambarkan Marsinah yang mengenakan kemeja, rok, dan sepatu kets.
Tangan kirinya mengepal meninju udara, sebuah gestur abadi yang menyimbolkan perlawanan dan keberanian yang tak pernah padam.
Di bawah patung tersebut, sebuah prasasti marmer bertuliskan “Pahlawan Buruh Marsinah” menjadi saksi bisu bahwa semangatnya akan terus hidup, melampaui zaman, dan kini diakui sebagai pahlawan bagi seluruh bangsa Indonesia.












