Pacitanku.com, PACITAN – Menteri Agama RI, K.H. Nasaruddin Umar, menghadiri puncak Dzikro Haul ke-169 K.H. Abdul Manan Dipomenggolo di Sarean Gede, Desa Semanten, Pacitan, Kamis (16/4/2026).
Selain memberikan penghormatan kepada sang peretas jejaring ulama Nusantara, Menag memberikan motivasi kuat bahwa santri memiliki peluang besar untuk mengambil peran strategis sebagai pemimpin bangsa.
Rombongan Menteri tiba di makbaroh (makam) pendiri Pondok Tremas setelah menempuh perjalanan darat dari Yogyakarta.
Kehadiran Menag disambut langsung oleh Pengasuh sekaligus Ketua Majelis Ma’arif Pondok Tremas, K.H. Luqman Haris Dimyati, jajaran masyayikh, Sekda Pacitan Heru Wiwoho, serta unsur Forkopimda.
Dalam tausiahnya, Menag Nasaruddin Umar menekankan bahwa K.H. Abdul Manan Dipomenggolo adalah sosok ulama besar yang sangat berjasa dalam perkembangan Islam.
Berdasarkan definisi Al-Qur’an, orang yang mewakafkan hidupnya di jalan Allah sejatinya tidak mati dan rezekinya dijamin oleh Allah SWT.
“Kita sudah tahu siapa dan bagaimana perjuangan K.H. Abdul Mannan,” ungkap Menag mengapresiasi warisan dakwah sang ulama yang merintis pesantren sejak era 1800-an tersebut.
Usai mengikuti rangkaian tahlil, maulidul rosul, dan mahalul qiyam, Menag melanjutkan agenda kunjungan ke Perguruan Islam Pondok Tremas di Kecamatan Arjosari.
Di hadapan ratusan santri, ia menyampaikan bahwa latar belakang pesantren bukanlah hambatan untuk meraih cita-cita tertinggi.
“Santri tidak terbatas dalam bercita-cita. Kalian bisa menjadi apa saja, bahkan menjadi pemimpin bangsa. Tidak ada larangan bagi santri untuk mengambil peran strategis di pemerintahan,” tegas Menag.
Beliau juga membagikan pengalaman hidupnya sebagai motivasi agar para santri terus semangat menuntut ilmu tanpa perlu merasa rendah diri karena latar belakang masa lalu.
“Jangan melihat masa lalu sebagai penghalang. Di mana ada kemauan, di situ ada jalan. Saya ingin membagikan semangat ini kepada para santri agar terus maju dan percaya diri,” tambahnya.
Menutup arahannya, Menag mengingatkan bahwa kesuksesan seorang santri tidak hanya diukur dari kecerdasan intelektual, melainkan dari integritas moral yang dijaga dengan konsisten.
“Ilmu harus dibarengi dengan akhlak. Santri dikenal karena adab dan kepribadiannya. Itu yang harus terus dijaga,” pungkas Menag Nasaruddin Umar.
Sementara itu, Pengasuh Pondok Tremas, K.H. Luqman Haris Dimyati, menuturkan bahwa pesantren yang didirikan K.H. Abdul Manan telah melewati berbagai dinamika sejak berdiri hingga kini memiliki santri dari berbagai penjuru, termasuk mancanegara.
“Sejak berdiri sampai saat ini Pondok Tremas mengalami pasang surut. Banyak santri-santri yang datang belajar dari luar Pacitan bahkan dari luar negeri,”kata Kiai Luqman.












