Pacitanku.com, PACITAN – Kepala Dinas Koperasi, Usaha Mikro, dan Perindustrian (Dikuperin) Kabupaten Pacitan, Muhammad Ali Mustofa, resmi membuka gelaran Pacitan Art Market edisi ketiga di halaman Perpustakaan Daerah Kabupaten Pacitan, Sabtu (30/5/2026).
Event tahunan yang bertepatan dengan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-4 Komunitas Kriya Pacitan ini digelar selama dua hari untuk mengenalkan sekaligus mendorong pemanfaatan produk kerajinan lokal unggulan masyarakat Pacitan.
Acara yang dimulai sejak pukul 09.00 WIB ini menyuguhkan berbagai agenda menarik hingga Minggu (31/5/2026). Selama dua hari, masyarakat dapat menikmati pameran karya kriya unggulan, pentas seni tari, workshop gerabah, kelas melukis, hingga perlombaan seperti fashion show serta lomba melukis dan mewarnai untuk anak-anak.
Dalam kesempatan tersebut, Muhammad Ali Mustofa yang hadir mewakili Bupati Pacitan menegaskan nilai strategis industri kriya bagi perekonomian dan identitas daerah. Pemerintah daerah berkomitmen penuh untuk terus mendukung ekosistem ekonomi kreatif agar terus tumbuh.
“Pemerintah Daerah menyadari betul bahwa sektor ekonomi kreatif, khususnya subsektor kriya, memegang peranan yang sangat strategis dalam struktur perekonomian daerah. Kriya bukan hanya sekadar produk bernilai ekonomis, tetapi di dalamnya terkandung nilai-nilai estetika, budaya, kearifan lokal, dan identitas jati diri masyarakat Pacitan,” ujar Muhammad Ali Mustofa saat membacakan sambutan tertulis Bupati Pacitan.

Sementara itu, Ketua Komunitas Kriya Pacitan, Anik Setyaningtyas, mengungkapkan bahwa ajang tahun ini mengusung tema “Srawung Roso, Sambung Karyo”. Tema ini diadopsi untuk merekatkan keberagaman serta menyatukan para perajin lokal dari berbagai wilayah di Pacitan yang secara geografis cukup berjauhan.
“Perjuangan Komunitas Kriya 4 tahun ini tidak mudah. Dengan berbagai keberagaman, baik dari SDM, kemudian dari tingkat ekonomi, dari jarak yang sangat jauh—ada yang dari Pringkuku, dari Ngadirojo, dari Sudimoro, dari Nawangan. Kita membentuk wadah supaya bisa mewakili keinginan dan cita-cita mereka,”kata Anik.
Anik menambahkan bahwa esensi dari Pacitan Art Market 2026 bukan semata-mata untuk mengejar target penjualan, melainkan sebagai sarana edukasi massal.
“Tujuan kita juga tidak hanya sekadar berjualan. Kita juga ingin mengenalkan kepada masyarakat umum, kepada kalangan yang lebih luas, bahwa di Pacitan pun punya potensi. Jadi, jangan menyepelekan. Kita punya kekuatan, kita punya potensi, cuma memang belum tergali dengan maksimal,” tambahnya.
Apresiasi terhadap eksistensi komunitas ini juga datang dari Kepala Bidang Ekonomi Kreatif Disparbudpora Pacitan, Adetya Wicaksana Putra, yang hadir mewakili Kepala Dinas Parbudpora. Ia berharap kolaborasi lintas sektor atau pentahelix dapat diperkuat demi kemajuan industri kreatif.
“Usia empat tahun adalah waktu yang cukup bagi sebuah komunitas untuk terus tumbuh, mematangkan diri, dan menunjukkan eksistensinya. Terima kasih atas dedikasi, kerja keras, dan kontribusi nyatanya selama ini dalam mewadahi serta memajukan para pengrajin dan pelaku kriya di Pacitan,” ungkap Adetya Wicaksana Putra.
Melalui penyelenggaraan Pacitan Art Market #3 ini, pemerintah daerah bersama komunitas berharap kesadaran masyarakat untuk membeli dan menggunakan produk-produk asli buatan perajin lokal dapat semakin meningkat demi menjaga keberlangsung UMKM di Kabupaten Pacitan.













