Pacitanku.com, PACITAN — Perbedaan karakteristik geologis dan struktur batuan terbukti menjadi faktor krusial yang menentukan tingkat kerusakan akibat gempa bumi tektonik berkekuatan Magnitudo 6,2 yang mengguncang wilayah selatan Jawa Timur pada Jumat dini hari, 6 Februari 2026.
Meskipun pusat gempa berada di laut berjarak 89 kilometer Tenggara Pacitan, fakta di lapangan menunjukkan anomali di mana tingkat kerusakan fisik bangunan justru lebih masif terjadi di wilayah Kabupaten Bantul, Yogyakarta, dibandingkan di Pacitan yang secara geografis lebih dekat dengan episenter.
Staf BMKG Stasiun Geofisika Kelas 1 Sleman, Ayu Krisno Ekarsti, dalam analisisnya bersama Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Pacitan menjelaskan bahwa fenomena ini berkaitan erat dengan jenis tanah di kedua wilayah tersebut.
Wilayah Bantul didominasi oleh tanah endapan lunak yang memiliki sifat mengamplifikasi atau memperbesar guncangan gelombang gempa, sehingga dampak perusakannya jauh lebih terasa meskipun jaraknya lebih jauh dari pusat gempa.
Kondisi ini berbanding terbalik dengan wilayah Pacitan, khususnya di kawasan Pringkuku, yang tersusun atas batuan kapur atau gamping keras yang secara alamiah mampu meredam getaran seismik.
Ayu menegaskan bahwa secara instrumen, intensitas guncangan di Pacitan memang tercatat tinggi mencapai skala VI MMI, namun dampaknya tereduksi oleh kekerasan batuan setempat.
“Bantul itu merupakan daerah endapan yang justru pada saat terjadi gempa dia akan cenderung mengamplifikasi atau memperbesar amplitudo dari gelombang yang akan menimbulkan dampak kerusakan yang lebih besar,”kata Ayu saat memberikan keterangan resmi mengenai anomali kerusakan tersebut.
Data lapangan dari BPBD setempat memperkuat analisis para ahli tersebut. Hingga berita ini diturunkan, laporan kerusakan yang masuk di wilayah Pacitan hanya berkisar 17 unit bangunan dengan skala ringan hingga sedang.

Angka ini sangat kontras dengan laporan dari Bantul yang mencatat kerusakan struktural signifikan hingga keretakan jalan aspal. Fenomena peredaman dampak gempa oleh batuan kapur ini juga teramati di Kabupaten Gunung Kidul, yang memiliki karakteristik geologis serupa dengan Pacitan, di mana laporan kerusakan tercatat sangat minim atau bahkan nihil.
Terkait parameter gempa, Kepala Pusat Gempa Bumi dan Tsunami BMKG, Daryono, menyampaikan pembaruan data bahwa gempa yang terjadi tepat pukul 01.06 WIB tersebut memiliki kekuatan Magnitudo 6,2, merevisi informasi pendahuluan yang sebelumnya menyebut angka 6,4.
Gempa ini diklasifikasikan sebagai gempa dangkal dengan kedalaman 58 kilometer yang dipicu oleh aktivitas subduksi lempeng dengan mekanisme pergerakan naik atau thrust fault.
BMKG juga memastikan bahwa meskipun guncangan terasa kuat dan meluas, peristiwa ini tidak berpotensi memicu gelombang tsunami, sehingga masyarakat diimbau untuk tetap tenang namun waspada terhadap karakteristik bangunan dan tanah di lingkungan tempat tinggal masing-masing.
Video Pusat Gempa di Pacitan, Kok Malah di Bantul-Gunkid yang Banyak Kerusakan? 😱 Ternyata Ini Alasannya!











