Cerita Sri Pamungkas Dirikan Lembaga Pendampingan Anak di Pacitan yang Sukses Raih Penghargaan Nasional KPAI

oleh -Dibaca 1.473 kali
Program kegiatan mendongeng dan membaca puisi dari Lembaga Dboecah's Pacitan. (Foto: Dok. Dboecah's Pacitan)

Pacitanku.com, PACITAN – Lembaga karakter anak Dboecah’s Kabupaten Pacitan yang didirikan oleh akademisi Sri Pamungkas meraih anugerah KPAI 2022 untuk kategori Lembaga Layanan Masyarakat Peduli Anak.

Penghargaan tersebut diberikan oleh Komisioner KPAI Putu Elvina kepada Ketua Dboecah’s Kabupaten Pacitan Sri Pamungkas  (21/7/2022) di Hotel Redtop Jakarta.

Lalu bagaimana perjalanan Dboecah’s Pacitan selama 9 tahun didirikan hingga akhirnya meraih penghargaan nasional tersebut?

Sri Pamungkas yang merupakan akademisi dari STKIP PGRI Pacitan ini menceritakan Dboecah’s merupakan lembaga karakter anak yang kami dirikan sejak tahun 2013. Dia menceritakan awal mula didirikan Lembaga pendampingan anak tersebut.

“Waktu itu saya studi S3 di UNS dan karena saya beasiswa negara jadi dibebastugaskan dari aktivitas kampus sementara kuliah saya hanya 2 hari. Saya yang biasanya beraktivitas tinggi harus banyak diam. Ini cara Allah menuntun saya untuk bisa lebih bermanfaat,”katanya saat dikonfirmasi Pacitanku.com pada Ahad (24/7/2022).

Pada suatu Ketika, perempuan yang akrab disapa Dr Mamung ini mendapati anaknya yang saat itu kelas 4 SD ikut seleksi marching band tidak terpilih.

“Putri kami kecewa dan menangis luar biasa bahkan menyalahkan posturnya yang tidak begitu tinggi. Hari itu menjadi hari yang sangat membuat kami terpukul karena keceriaan putri saya jadi hilang,”kata dia.

Dr Mamung kemudian menyodorkan laptop kepada putrinya untuk menuliskan apa yang membuat sang anak kecewa.

Dboecah’s Kabupaten Pacitan yang didirikan oleh akademisi Sri Pamungkas meraih anugerah KPAI 2022 untuk kategori Lembaga Layanan Masyarakat Peduli Anak. (Foto: Dok. KPAI)

“Saya sodorkan laptop ke putri saya, saya bilang, kakak tulis di sini ya, Ibu ndak begitu jelas mendengar cerita kakak (panggilan untuk putrinya, red), karena kakak ceritanya sambil nangis,”ceritanya.

Dr Mamung kemudian melihat putrinya menulis dengan sangat antusias sampai kemudian ia tertidur di meja kerja ibunya.

“Saya mulai mencermati kalimat per kalimat yang dia susun. Paginya ketika sarapan pagi, saya sampaikan kepada putri saya. Kak, tulisannya bagus lho. Kakak mau ndak jadi penulis. Ibu dampingi. Kalau  punya buku akan lebih bermanfaat trus istimewanya dapat pahala di dunia dan di akhirat. saat itu saya melihat raut bahagia dan semangat,”papar Dr Mamung.

Enam bulan didampingi, Dr Mamung mengatakan pada akhirnya lahir karya pertama putrinya yang berupa kumpulan cerpen “The Winner” yang diterbitkan oleh penerbit Mizan Bandung.

Berawal dari pengalaman itulah, Dr Mamung bersama suaminya mulai berpikir bagaimana anak-anak Pacitan didampingi dan menjadi penulis-penulis cilik.

“Akhirnya lahirah Dboecah’s pada 1 November 2013, dengan program pertama kelas ekspresi untuk PAUD dan SD, untuk meningkatkan konsentrasi, kemampuan komu, dan percaya diri anak. Di kelas ini anak-anak kami ajari pantomim,bermain peran, baca puisi, reporter cilik, dolanan anak, mendongeng, dan sebagainya,”ungkap dia.

Program yang kedua, kata Dr Mamung, adalah kelas penulis cilik yang karya-karya mereka sudah terbit secara nasional.

“Program ketiga adalah Kelas IT anak targetnya adalah mengenalkan kepada anak-anak bagiamana mengoperasikan IT dengan baik dan etika2 dalam bermedia sosial, dll. Kami adalah lembaga berbasis literasi dengan pendekatan bahasa, sastra, dan budaya, dan program keempat adalah kelas penulis remaja untuk SMP, SMA dan mahasiswa,”ceritanya.

Selain itu, Dr Mamung menceritakan Dboecah’s juga memiliki sejumlah inovasi, yaitu Kepras atau kelas praktisi.

“Di kelas ini, jadi selain kami yang mengajar, kami juga menghadrkan praktisi-praktisi seperti pendongeng berskala nasional, penulis berskala nasional, pantomime, dan lain-lain,”tandasnya.

Inovasi yang kedua, imbuh Dosen STKIP PGRI Pacitan ini, adalah Dboecah’s Peduli. Dboecah’s peduli adalah pendidikan untuk anak-anak yatim piatu dan keluarga tidak mampu, ambil bagian dalam asessmen anak-anak yang orang tuanya meninggal karena COVID-19.

“Yang ketiga adalah Sekolah Literasi Gratis (SLG) untuk siapa pun yang ingin belajar menulis, untuk mengisi liburan adik-adik SMA maupun mahasiswa, dan inovasi keempat adalah Pekan Literasi Anak Indoesia (PLAI) yang kami lakukan untuk mengisi liburan sekolah sebelum pandemi covid-19 lalu, dan lain-lain,”ungkap dia.

Dr Mamung juga mengaku bersyukur atas raihan prestasi anugerah KPAI tersebut. Baginya hal itu adalah anugerah luar biasa.

“Alhamdulillah, kami sangat bersyukur pada Alah SWT atas anugerah yang luar biasa ini. Kami tidak menyangka Tuhan begitu sayang kepada kami, hingga akhirnya anugerah ini diberikan kepada kami yang ada di Kabupaten,”pungkasnya.

Video Hobi Baca Sejak Kecil, Bu Mamung Kini Jadi Dosen Bergelar Doktor di Pacitan

No More Posts Available.

No more pages to load.