Cerita Ketua PCNU Pacitan Tentang Perjuangan Santri dan Kiai Wujudkan Indonesia Merdeka

oleh -1399 views
KH Mahmud Ketua PCNU Pacitan. (Foto: Screenshoot Youtube Pemkab Pacitan)

Pacitanku.com, PACITAN – Ketua Pengurus Cabang (PC) Nahdlatul Ulama (NU) Kabupaten Pacitan KH Mahmud menceritakan tentang perjuangan para santri dan kiai dalam mewujudkan kemerdekaan Indonesia. Hal itu disampaikan oleh KH Mahmud saat memberikan sambutan dalam acara doa dan istighotsah Hari Santri Nasional (HSN) pada Kamis (22/10/2020) di Pacitan.

“Banyak masyarakat yang bertanya, sebenarnya seberapa besar peran santri terhadap negara ini sehingga pemerintah perlu mengeluarkan Keppres tentang hari santri? perlu diketahui, sebelum ada TNI sebelum ada TNI atau dulu BKR, itu dulu tentara-tentara yang ada di Indonesia itu pusatnya di pesantren-pesantren, sehingga sebenarnya kiai-kiai dulu itu gelarnya jenderal, karena tidak mau dikasih gelar jenderal cukup kiai haji-kiai haji saja, sehingga peran keamanan atau peran ulama terhadap NKRI ini tidak begitu kelihatan,”cerita KH Mahmud.

Terbukti, kata KH Mahmud, pada tahun 1933, untuk mengobarkan semangat melawan penjajah, salah satu pendiri NU, Almaghfurlah KH. Abdul Wahab Hasbullah menciptakan lagu. Indonesia biladzi anta un wa nufaqoma, khulumah tomiqaya

Indonesia Biladi Anta ‘Unwanul Fakhoma Kullu May Ya’tika Yauma Thomihay Yalqo Himama,”tandasnya.

KH Mahmud mengatakan itu adalah bentuk salah satu karya ulama ulama memberikan semangat berkorban untuk melawan penjajah.

“Dengan mengatakan Indonesia Negeriku Engkau Panji Martabatku Siapa Datang Mengancammu Kan Binasa di bawah durimu, Coba kita bayangkan bagaimana mengobarkan semangat melawan penjajah tahun 1933,”jelas KH Mahmud.

Tak hanya itu, KH Mahmud juga menceritakan perang belum usai walaupun sudah merdeka tahun 1945, dimana pada 17 Agustus 1945, kemerdekaan RI diproklamirkan oleh Presiden Soekarno dan Muhammad Hatta.

“Dalam buku Antologi peran santri KH Agus Sanyoto, disebutkan disitu pemerintah pusat  saja waktu itu tidak percaya setelah merdeka itu akan ada agresi perang dunia perang yang II Belanda dan Inggris kembali ke Indoensia, ternyata Hadratussyaikh KH Hasyim Asy’ari matur ke presiden nyuwun permohonan izin mengumpulkan para kiai dan ulama,”jelas KH Mahmud.

Permohonan izin itu, kata dia, adalah untuk mengantisipasi apabila nanti agresi meiliter setelah perang kemerdekaan terjadi. Sehingga, pada 21-22 Oktober 1945, atau dua hari para ulama se-Jawa dan Madura berkumpul dipimpin KH Hasyim Asy’ari  untuk  bermusyawarah bagaiaman melawan penjajah.

“Sehingga dari dua hari musyarawah itu tanggal 22 bakda Maghrib dibacakan hasilnya berupa resolusi jihad yang dibacakan oleh KH Wahab Hasbullah,”tukasnya.

Inti dari resolusi jihad itu, kata KH Mahmud, adalah wajib atau fardhu ‘ain bagi WNI, khususnya umat Islam, baik laki-laki, perempuan, tua maupun muda yang berjarak 94 km dari lokasi penjajah itu datang hukumnya fardu ain untuk berperang melawan penjajah.

“Dan yang berjarak lebih dari 94 km hukumnya fardu kifayah atau harus ada yang mewakili untuk perang melawan penjajah, akhirnya terjadi puncaknya agresi militer yang masuk di Tanjung Perak Surabaya. Berdasarkan resolusi jihad inilah akhirnya masyarakat tergerak untuk melawan penjajah,”paparnya.

Dimana, kata KH Mahmud, yang mengobarkan semangat berperang melawan penjajah kala itu, adalah sosok pemuda bernama Bung Tomo.

“Yang mengobarkan salah satunya adalah pemuda yang namanya Bung Tomo. Sehingga terdengar pekik takbir Allahu Akbar, dan beliau salah satu anggota musyawarah alim ulama yang mengeluarkan resolusi jihad, dan terjadi betul perang di Surabaya 10 November 1945,”papar KH Mahmud.

Dengan kemampuan dan kobaran semangat alim ulama dan santri itulah, kata KH Mahmud, masyarakat yang kemudian sering disebut arek-arek Suroboyo berhasil melawan penjajah.

“Alhamdulillah berkah kekuasaan dari Allah SWT walaupun peralatan para syuhada di Indonesia para kiai para ulama yang sederhana jauh lebih sederhana dari para penjajah penjajah bisa dikeluarkan bisa dibinasakan,”tukasnya.

Bahkan, imbuh KH Mahmud, para santri saat itu juga ikut andil dalam terbunuhnya sosok pentolan penjajah, yakni Brigadir Jenderal Aubertin Walter Sothern (AWS) Mallaby.

“Bahkan Jenderal Mallaby bisa dibunuh oleh salah satu santri yang namanya Hasyim, asli santri dari Tebuireng, dan yang menyobek bendera merah putih biru, birunya disobek itu seorang santri dari Pondok Pesantren Sidosermo,”kata KH Mahmud.

Atas dasar itulah, imbuh KH Mahmud, Pemerintah RI menjadikan tanggal 10 November sebagai Hari Pahlawan.

“Maka oleh pemerintah 10 November dijadikan hari pahlawan karena semangat kepahalawnana yang dicontohkan oleh kiai dan ulama bisa mengusir penjajah, dan ingat, pahlawan-pahlawan itu adalah santri,”ujarnya.

Selain itu, KH Mahmud mengatakan hal itu jugalah yang mendasarkan Pemerintah RI pada akhirnya menetapkan tanggal 22 Oktober sebagai Hari Santri.

“Maka sudah pantas tanggal 22 oktober diperingati sebagai hari santri, itulah sekilas tentang pentingnya hari santri,”pungkasnya.