Lestarikan Warisan Budaya, Desa Plunturan Konsisten Gunakan Reyog Pakem Lama

oleh -256 views
Desa Plunturan Konsisten Gunakan Reyog Pakem Lama. (Foto: Yolanda Pinandita)

Pacitanku.com, PONOROGO – Bumi Reyog Ponorogo adalah slogan khas Kabupaten Ponorogo sebagai pengenalan identitas diri kepada masyarakat.

Slogan ini juga digunakan sebagai salah satu cara untuk memperkenalkan kesenian asli Kabupaten Ponorogo yaitu Reyog.

Kesenian Reyog sendiri memang sudah dikenal baik secara nasional maupun internasional. KesenianReyog memiliki keunikan yang tidak terdapat pada kesenian tradisional lain yaitu adanya topeng raksasa dengan ukiran macan khas dan bulu merak dengan jumlah yang banyak.

Eksistensi kesenian Reyog Ponorogo yang sudah meluas mendorong para seniman-seniman muda di Kabupaten Ponorogo untuk berkreasi dan mengeksplor kemampuan diri dalam salah satu warisan budaya bangsa ini.

Hal tersebut terlihat dengan adanya berbagai macam jenis kesenian Reyog yang baru dan sesuai dengan perkembangan zaman. Inovasi kesenian Reyog terlihat dari segi gerakan dan segi pakaian.

Inovasi dan kreasi para seniman tersebut tentunyamerupakan sebuah kemajuan untuk kesenian Reyog Ponorogo. Namun, kreasi kesenian Reyog yang semakin beragam juga tidak lepas dari sisi negatif.

Kreasi Reyog yang terus mengalami perubahan sesuai dengan perkembangan zaman lambat laun membuat masyarakat mulai melupakan kesenian Reyog asli atau pakem lama.

Hanya segelintir masyarakat yang mengetahui mengenai kesenian Reyog pakem lama. Tentu hal ini sangat miris dikarenakan bisa jadi warisan budaya bangsa ini akan diklaim oleh negara lain.

Reyog pakem lama memiliki gerakan – gerakan yang sesuai dengan sejarah atau legenda dahulu dari Reyog. Musik iringan tari Reyog pakem lama berbeda dengan tari Reyog pada umumnya. Hanya masyarakat Desa Plunturan dan Desa Pulung Merdiko yang bisa memainkan iringan musik tari Reyog pakem lama.

Desa Plunturan merupakan salah satu desa yang masih mempertahankan dan melestarikan kesenian Reyog pakem lama di Kabupaten Ponorogo. Seluruh lapisan masyarakat desa ikut berpartisipasi dalam pelestarian warisan budaya ini.

Dimulai dari anak – anak, remaja, orang dewasa dan para lansia. Demi melancarkan program pelestarian kesenian Reyog pakem lama  tersebut, kepala desa dan beberapa tokoh masyarakat setempat membuat jadwal rutinuntuk latihan gerakan tari Reyog dan latihan iringan tari Reyog.

Kegiatan latihan tersebut dilaksanakan pada setiap malam di hari senin untuk bapak – bapak pengrawit desa, selasa dan jumat untuk karawitan ibu – ibu PKK, dan sabtu untuk Reyog karang taruna.

Salah satu sesepuh Desa Plunturan Mbah Bikan mengatakan jika hal tersebut dilakukan agar kesenian tersebut tidak hilang dan masyarakat bisa tetap mengetahui kebudayaannya sendiri.

Pelestarian kesenian Reyog pakem lama tidak hanya sebatas itu saja. Masyarakat Desa Plunturan juga melakukan hal lainnya untuk melestarikan dan memperkenalkan kesenian Reyog pakem lama.

Masyarakat desa akan mengadakan acara Festival Malam Purnama  Gebyar Budaya  pada tanggal 11 – 12 Januari 2020.

”Festival Gebyar Budaya adalah acara inisiatif dari warga desa untuk mengenalkan kembali kesenian Reyog pakem lama kepada masyarakat luas, yang juga diharapkan dapat meningkatkandaya tarik Desa Plunturan sebagai desa wisata budaya,” ucap Mbah Bikan.

Festival ini akan dihadiri tidak hanya oleh tamu undangan dari dalam negeri,namun juga tamu mancanegara.

Identitas Diri :

Nama: Yolanda Pinandita
Tempat Tanggal Lahir: Sidoarjo, 14 Desember 1997
Usia: 22 Tahun
Alamat: Kalijaten Gang 1B no 109, Taman – Sidoarjo
Asal:  Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya
Nomor Kontak : 083844991878