Jalan Putus, Ratusan KK di Gedangan Tegalombo Terisolasi

oleh -Dibaca 1.465 kali
Jalur di Desa Gedangan terputus, sehingga guru terpaksa jalan kaki lewati hutan. (Foto: Bambang El Pacitano)
Jalur di Desa Gedangan terputus, sehingga guru terpaksa jalan kaki lewati hutan. (Foto: Bambang El Pacitano)

Pacitanku.com, TEGALOMBO – Bencana longsor yang terjadi di Dusun Gebang, Desa Gedangan, Kecamatan Tegalombo berdampak serius. Ratusan kepala keluarga (KK) di di dusun tersebut sementara terisolasi. Pasalnya, akses jalan desa yang menghubungkan antara Dusun Gebang dengan Kalilongan putus. Badan jalan putus setelah sehari sebelumnya tergerus longsor.

Tidak hanya terisolasi, aktivitas perekonomian warga setempat terganggu. Sebagian penduduk Dusun Gebang yang mayoritas bekerja sebagai penjual kayu bakar, sementara ini tidak bisa berdagang. Sebab, jalan tersebut sudah tidak bisa dilalui alat transportasi apapun.

Untuk menuju ke pusat pemerintahan desa yang berada di pinggir Jalan Raya Pacitan-Solo warga harus melewati jalan setapak. Jalan yang hanya bisa dilalui dengan berjalan kaki itu dibuat oleh warga secara bergotong royong sehari pasca tebing setinggi 60 meter di pinggir jalan longsor dan memutuskan akses infrastruktur milik desa.

Salah seorang warga Dusun Gebang, Sunarto mengatakan, longsor yang memutuskan akses jalan desa itu dipicu hujan deras sejak Selasa (13/12) dini hari. Melihat kondisi saat ini, dimungkinkan bakal terjadi longsoran kembali di titik tersebut. ‘’Sebab tanah di tempat tersebut labil atau tanah mati. Sehingga, ketika hujan deras turun tanah tidak bisa menyerap banyak air,’’ ujarnya.




Menurutnya, panjang jalan desa yang terputus akibat diterjang longsor tersebut mencapai hampir 100 meter. Warga Dusun Gebang jelas kebingungan. Sebab tidak ada jalan lain untuk keluar dusun ini. ‘’Ada alternatif lain, tapi melalui jalan setapak yang hanya bisa dilalui pejalan kaki. Itupun harus melewati hutan dan bukit-bukit,’’ katanya.

Kepala Desa Gedangan Sunaryo menyebutkan, ada sekitar 196 KK dari Dusun Gebang yang hidup terisolir akibat jalan desa tersebut putus. Selain berdampak pada perekonomian warga, akses pendidikan menuju ke SDN Gedangan I juga terganggu. Semenjak jalan desa terputus diterjang longsor, sejumlah guru SDN Gedangan I dari Kecamatan Pacitan terpaksa harus estafet agar bisa sampai di sekolah. ‘’Sepeda motor ditinggal. Kemudian mereka jalan kaki menuju ke sekolah,’’ ujarnya.

Bukan hanya itu saja, pelayanan kesehatan bagi warga Desa Gedangan juga terancam. Sebab, keberadaan polindes terletak di Dusun Gebang sementara akses menuju ke dusun tersebut putus. ‘’Ini masih kami pikirkan. Kami sudah lapor ke kecamatan, tapi belum ada tanggapan,’’ ungkapnya.

Menurutnya, penanganan longsor dimungkinkan baru bisa dilakukan tahun depan. Pasalnya, apabila dipaksakan ditangani tahun ini anggaran desa sudah tidak mencukupi. ‘’Rencananya akan kami masukkan APBDes 2017. Item anggarannya menyewa alat berat untuk mengevakuasi longsor tersebut, kemudian dibangun jalan baru,’’ jelasnya.

Jalan putus ini juga mengakibatkan terputusnya akses pendidikan menuju ke Sekolah Dasar Negeri (SDN) Gedangan I. Akibatnya, para guru harus bertukar sepeda motor dengan warga sekitar yang hendak turun jika ingin melanjutkan menuju ke sekolah.

Jika tidak ada warga yang bisa diajak bertukar sepeda motor, maka terpaksa para pendidik tersebut harus berjalan kaki melewati hutan sekitar 3 hingga 4 kilometer untuk melaksanakan kewajiban mengajarnya.

“Karena jalan ke tempat kerja (SDN Gedangan I) terputus karena longsor, maka lewat hutanlah yang harus dilalui sejauh 3 km setelah longsoran,”kata Isnandir, Pengawas Unit Pelaksana Teknis (UPT) TK/SD Kecamatan Tegalombo, baru-baru ini.

Tak hanya guru, para siswa yang hendak ke sekolah pun terpaksa berjalan kaki sejauh 4 km untuk menuju ke jalan raya. “Saya dan teman-teman harus berjalan sekitar 4 km untuk menuju jalan raya untuk bisa bersekolah,”kata Refita, siswa kelas IX Sekolah Menengah Pertama Negeri (SMPN) I Tegalombo, saat ditemui Pacitanku. (her/yup/RAPP002)

Sumber: Radar Madiun