Musim Hujan Datang, Begini Cara BPBD Kurangi Risiko Bencana

oleh -131.144 views
Ilustrasi hujan
Ilustrasi Hujan Angin
Ilustrasi Hujan Angin
Ilustrasi Hujan Angin

Pacitanku.com, SURABAYA – Intensitas hujan yang tinggi saat ini merupakan peralihan kemarau ke musim hujan. Beberapa daerah yang berpotensi terjadi hujan lebat di kawasan Jawa Timur bagian selatan seperti Trenggalek, Pacitan, Lumajang, Banyuwangi, Blitar hingga Malang Selatan.

Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Jatim mencatat, mulai Oktober ini sudah memasuki musim hujan dengan intensitas curah hujan mencapai 100-400 millimeter, dan semakin meningkat pada November hingga mencapai 150-500 millimeter.

Mengantisipasi bencana yang dikhawatirkan datang, BPBD Jatim berkonsolidasi dengan BPBD kabupaten/kota sekaligus memeriksa kesiapan daerah mengenai peralatan dan logistik.  Selain itu, dalam waktu dekat, Jatim akan menetapkan siaga darurat bencana sehingga perlu dilakukan langkah-langkah dan upaya mengantisipasi datangnya banjir, tanah longsor, angin kencang dan lainnya.

Hingga saat ini, daerah yang sudah menetapkan siaga darurat bencana adalah Bondowoso, Pamekasan, Sampang dan Kabupaten Blitar. “Untuk sisanya 34 kabupaten/kota yang lain sudah mengajukan status siaga darurat bencana ke pemerintah setempat,” ujar Kepala Pelaksana BPBD Jatim Sudarmawan, baru-baru ini.

Sekadar catatan, di Jatim saat ini ada tiga kota yang belum membentuk BPBD, yakni Kota Blitar, Kota Mojokerto dan Kota Surabaya. Mengantisipasinya, pihaknya saat ini masih mengevaluasi “buffer stock” logistik dan peralatan di daerah, apakah masih cukup atau tidak.

Selain itu, kata dia, yang terpenting adalah kesiapsiagaan posko dan meng-“update” rencana kontijensi bencana, terkait kesiapan sumber daya manusia maupun peralatan.

Tidak itu saja, BPBD Jatim telah memasang sebanyak 64 ekstensometer atau alat pendeteksi dini bencana tanah longsor di titik-titik yang dianggap rawan untuk mengantisipasi longsor sekaligus menjadi upaya mitigasi mengurangi risiko jatuhnya korban.

Ekstensometer merupakan perangkat elektronika yang berfungsi mengukur parameter pergeseran tanah dengan sensor yang menggunakan potensiometer multiturn sebagai komponen utama disertai dengan rangkaian penguat dan peng-kondisi sinyal.

Alat ini diciptakan oleh peneliti Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) dengan sistem kerja mendeteksi pergerakan tanah, curah hujan dan sudut kemiringan permukaan tanah. “Jika tiga indikator ditangkap ekstensometer maka otomatis membunyikan alarm dengan sirine yang telah dipasang,” ucapnya.

Dengan adanya alat ini, lanjut dia, memberikan rasa aman pada masyarakat sebab sebelum longsor terjadi sudah diantisipasi sehingga meminimalkan timbulnya korban jiwa.

Seluruh ekstensometer ini telah dipasang di 22 kabupaten/kota di Jatim, terutama daerah rawan terjadi longsor, seperti di Kabupaten Nganjuk, Kabupaten Pacitan, Kabupaten Bondowoso, Kota Batu, Kabupaten Kediri, Kabupaten Lumajang, Kabupaten Ponorogo, Kabupaten Pasuruan, Kabupaten Tulungagung dan beberapa daerah lain. “Khusus di Nganjuk dan Pacitan masing-masing dipasang empat ekstensometer, sedangkan daerah lain mayoritas tiga ekstensometer,” katanya.

Gotong Royong Langkah lain untuk mengantisipasi bencana agar tak terulang yakni dengan bersama-sama bergerak dan saling bergotong royong, terutama dari sektor pemerintah, DPRD, masyarakat, tokoh masyarakat hingga tokoh agama.

Hal ini seperti disampaikan Gubernur Jatim Soekarwo. “Gotong royong merupakan cara dan tradisi dari masyarakat Jatim untuk tolong-menolong merehabilitasi sarana dan prasarana hingga fasilitas umum yang rusak karena bencana,” tuturnya.

Pakde Karwo, sapaan akrabnya, menilai bahwa bencana alam yang terjadi menyebabkan banyak kerusakan, baik fisik dan non-fisik, termasuk ditambah dengan dampak psikologis yang terjadi pada masyarakat. “Kita harus mampu mengambil sisi positif dari adanya musibah. Lihatlah sawah-sawah humus dan pupuknya sangat luar biasa dan memberi kesuburan bagi tanah,” katanya. (RAPP002/Antara)