Kisah Pria Pacitan yang Jadi Figur Perlindungan Anak Nasional

oleh -10760 views

Pacitanku.com, PACITAN – Kabupaten Pacitan, Jawa Timur, merupakan daerah dengan kondisi perbukitan, sehingga menantang orang di kawasan ini untuk keluar dari zona nyaman, termasuk Susanto, yang kini menjadi Wakil Ketua Komisi Perlindungan Anak Indonesa (KPAI).

Kondisi Pacitan merupakan wilayah pegunungan dan berbukit. Jumlah penduduknya sekitar 599.476 jiwa dengan mayoritas penduduknya berprofesi sebagai petani serta sebagian kecil sebagai pegawai dan pedagang.

Pemandangan kampung halaman Susanto di Desa Temon Arjosari, untuk melanjutkan sekolah bagi warganya sampai bangku kuliah merupakan hal yang langka.”Saya ‘bismillah’, Susanto harus sekolah setinggi mungkin,” kata Wiji, ibu Susanto, saat bercerita mengenai anak pertama dari dua bersaudara itu.

Tidak terbayang bagi orang tua Susanto, kelak dia akan menjadi figur perlindungan anak di kampung halamannya. Apalagi, tradisi anak muda di desa tersebut saat lulus SMP merantau ke Jakarta atau ke kota-kota besar, sebagian lagi merantau ke Negeri Jiran untuk menjadi TKI.

Generasi di Pacitan umumnya sekadar mengenyam pendidikan di tingkat dasar dan menengah. Selain beberapa merantau, sebagian lainnya kembali ke habitat jadi petani sebagaimana mayoritas profesi penduduk di kabupaten tersebut.

Atas kenyataan masyarakat seperti itu, ayah dari Susanto, almarhum Misgiman, tidak ikhlas jika anak desa kelahiran 5 Mei 1978 itu mengikuti jejak teman-teman sebayanya.




Almarhum Misgiman sendiri adalah seorang ayah yang gigih dan tak mengenal lelah dalam mendidik kedua anaknya.

Meski tinggal di desa, kesadaran Misgiman dan Wiji akan pendidikan begitu tinggi. Pendidikan tidak bisa diacuhkan begitu saja meski mereka bukanlah kalangan akademisi yaitu peternak dan petani di Pacitan.

Bagi almarhum Misgiman, pendidikan adalah warisan utama bagi anak. Dia tidak peduli berapa besar biaya yang dikeluarkan untuk membiayai sekolah kedua anaknya walau harus mengalah untuk urusan pribadinya demi kesuksesan anak-anaknya.

Lingkungan desa yang tradisional dan awam, membuat tetangga ragu terhadap kegigihan almarhum Misgiman dalam menyekolahkan anaknya. Saat menginjak kuliah ada saja tetangga kurang memberikan dukungan moral.

Di desa, ada anggapan umum demikian bahwa habis tabungan, habis ladang, habis sawah, habis kebun jati, habis biaya tapi “ora dadi garan arit” (Jawa: tidak menjadi gagang sabit yang maksudnya tidak menjadi apa-apa).

Kendati demikian, bagi Misgiman dan Wiji kekhawatiran tetangga seperti itu tidak mematahkan semangat. Hal itu justru berbalik menjadi pelecut dalam menyekolahkan kedua anaknya, termasuk Susanto yang mampu lulus pascasarjana di Program Studi Teknologi Pendidikan Universitas Negeri Jakarta.

Pengalaman berorganisasi jugalah yang mengantarkan Susanto mendapatkan amanah sebagai Ketua Departemen Pengembangan Kebijakan PAUD, Pendidikan Dasar dan Menengah Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) Pusat periode 2015-2020.

Selain itu, dia menjadi Wakil Ketua Pimpinan Pusat Lembaga Pendidikan Maarif Pengurus Besar Nahdlatul Ulama Periode 2015-2020.

Menilik ke belakang, orang tua Susanto mendidik anaknya dengan telaten dan penuh konsistensi. Salah satu buah dari disiplin itu, sejak SD Susanto kerap rangking satu di kelasnya, bahkan tradisi menjadi yang pertama acapkali didapat hingga pascasarjana.

Dunia perlombaan juga tidak asing baginya. Saat menempuh pendidikan menengah keagamaan di MTs dan MA Pondok Pesantren Al Fattah, Pacitan, Jawa Timur dia kerap mewakili perlombaan mulai tingkat kabupaten hingga provinsi.




“Sedikit banyak, karakter pesantren membentuk pribadi saya. Pesantren itu, lekat dengan kesederhanaan tapi kuat dalam prinsip untuk sebuah tujuan. Keterbatasan tak melemahkan untuk melangkah maju,” kata Susanto.

Menurut Susanto, ada empat karakter yang lekat di pesantren yaitu kesederhanaan, kuat prinsip untuk suatu tujuan, toleransi dan kebijaksanaan.

Tradisi pesantren tersebut berkontribusi besar bagi pembentukan kepribadian santri.

Semangat kompetisi sehat terus melecutnya berkarya hingga saat ini menjadi wakil ketua KPAI setelah melalui uji kelayakan dan kepatutan di Komisi VIII DPR RI dan diangkat presiden sebagai Komisioner KPAI saat berumur genap 35 tahun.

Susanto sendiri mengaku tetap fokus untuk amanah yang diembannya. Terlebih ayahnya tidak pernah membatasi Susanto untuk memilih suatu profesi, apapun itu.

Prinsipnya, orang tua tetap mendukung sepanjang anak memberikan manfaat seluas-luasnya bagi masyarakat dan bangsa.

Kini, Susanto ternyata telah menginspirasi masyarakat sekitar Desa Temon Arjosari untuk menuntut ilmu tinggi. Banyak anak muda di desa tersebut mulai melanjutkan kuliah di Yogyakarta, Surabaya, Malang dan Jakarta.

Kiprah KPAI Setelah resmi terpilih menjadi wakil ketua KPAI periode 2014-2017 di parlemen, Susanto turut andil dalam berbagai kasus perlindungan anak. Di KPAI, dia juga menjadi komisioner bidang pendidikan.

Beberapa kasus itu seperti tindakan bullying atau penindasan siswa senior kepada junior SMA 3 Jakarta yang menyebabkan korbannya meninggal dan kasus pelecehan seksual siswa Jakarta International School (JIS) dan sejumlah kasus lainnya.

Secara statistik, dari rata-rata 5-9 pengaduan per hari di KPAI sekitar 15 persen kasus pendidikan yang dikawal Susanto.

“Saya senang jika dapat membantu orang lain. Orang mengadu ke KPAI itu, jika masalahnya selesai kami senang dan bahagia bisa membantu menyelesaikan masalah mereka. Menangani pengaduan itu tidak selamanya lancar tapi kadang juga beresiko bagi komsioner. Tapi saya berpikir bahwa Insya Allah apapun risiko dan tantangannya, karena untuk kepentingan terbaik bagi anak, Allah akan mempermudah,” katanya.

Oleh Eva Nawiyah, alumni Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta. Saat ini aktif sebagai peneliti pendidikan karakter dan pendidikan keluarga di Indonesia Research Foundation.