Kisah Keluarga Tuna Netra dari Pringkuku yang Optimis Menatap Zaman

oleh -101.014 views

Pacitanku.com, PRINGKUKU – Di sebuah perkampungan, tepatnya RT 002/RW 010, Dusun Sumber, Desa Ngadirejo, Kecamatan Pringkuku, Pacitan, ada satu keluarga tuna netra dengan kepala keluarga bernama Sugianto. Keluarga ini mengalami kebutaan sejak lahir membutuhkan bantuan. 

Tiga orang yang menderita kebutaan sejak lahir di keluarga tersebut yaitu Sugianto yang menjadi kepala keluarga dan kedua anaknya Melika Aulia Pratiwi, 11 dan Nizam Hafiz Azaki, 21 bulan. Hanya Suminah, yang menjadi istri Sugianto dan ibu dari kedua anak tersebut yang diberi penglihatan normal.

Suminah mengakatan kedua anaknya buta sejak lahir. Saat lahir, tiba-tiba penglihatan anaknya tidak bisa berfungsi. Saat ditanyakan kepada dokter mengenai kondisi mata anaknya, dokter menginformasikan selaput mata yang kedua anaknya belum sempurna, sehingga saat lahir terjadi kerusakan pada sleaput hingga membuat mata kedua anak itu buta.

Dia pun sempat membawa kedua anaknya berobat ke dokter, namun hasilnya nihil. Pihak dokter pun menyarankan untuk membawa anaknya ke RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta, tetapi karena tidak memiliki uang Suminah pun mengurungkan niat untuk membawa anaknya ke Yogyakarta.

“Selama ini kami belum pernah mendapat bantuan dari pemerintah, kecuali perbaikan rumah ini. Kami tidak berharap, namun kami hanya ingin bisa bertahan hidup dengan keuangan yang kami miliki,” ujar dia.




Meski dalam kondisi serba kekuarangan, Suminah mengaku bangga anaknya yang pertama, Lika, panggilan akrab Meilika, memiliki bakat yang patut dibanggakan. Sebagai seorang tunanetra, Lika diberi suara yang cukup indah sehingga dia kerap diikutkan lomba dari sekolahnya. Dia pun kerap mendapatkan juara, seperti pada 2 Juni 2016 lalu mendapat juara harapan II lomba menyanyi Solo Jenjang SDLB se-Jawa Timur.

Selain itu, kata Suminah, Lika juga kerap diminta untuk mengisi untuk menyanyi di acara pernikahan, reoni, dan acara lainnya. “Terkadang dari menyanyi itu, Lika dapat uang jajan itu digunakan untuk beli beras dan beli kebutuhan hidup lain,” ujar dia.

Lika mengatakan saat ini baru naik kelas V SD Luar Biasa Pacitan. Lika mengaku menyukai pelajaran baca dan tulis. Selain itu, dia juga sangat senang bernyanyi dengan lagu apapun tak terkecuali lagu dangdut. “Saya hanya berlatih menghafal lagu-lagu dari handphone, saat mau tampil biasanya saya menghafal terlebih dahulu. Tetapi, ini sudah lama tidak tampil, jadi banyak yang lupa,” kata dia.

Lika mengaatakan dengan keterbatasan fisik tidak mengurangi rasa percaya diri saat bertemu dengan teman sebayanya. Dia mengaku sering bermain dengan teman-teman yang kondisi fisiknya sempurna tanpa ditemani oleh orang tuanya.“Saya kalau salat di masjid yang ada di depan, biasanya saya jalan sendiri tidak bareng sama ibu,” ungkap Lika bercita-cita jadi seorang guru itu.

SDLB yang menjadi tempat Lika menuntut ilmu jaraknya cukup jauh dari rumah, untuk itu setiap berangkat sekolah harus naik mobil angkot. Biasanya, Lika saat sekolah selalu ditemani ayahnya, Sugianto. Hal ini karena Suminah harus menjaga si kecil dan mengurus pekerjaan rumah lain.

Satu hari berangkat ke sekolah, kata Suminah, dia harus menyediakan uang senilai Rp20.000. Uang itu digunakan untuk naik angkutan bagi Lika dan Sugianto berangkat dan pulang serta uang jajan Lika senilai Rp 2.000.

Terkadang saat dirinya tidak memiliki uang untuk operasional ke sekolah, Lika biasanya tidak masuk ke sekolah. “Saya sudah izin sama kepala sekolah Lika, kalau semisal Lika tidak berangkat ke sekolah itu berarti kami tidak memiliki ongkos untuk pergi ke sekolah, karena tidak mungkin kalau Lika ke sekolah jalan kaki,” ujar dia.

Meski kondisi ekonomi keluarga yang serba kekurangan, Suminah tetap mendorong anaknya untuk terus belajar dan sekolah. Menurut dia, dengan sekolah minimal ada kesempatan untuk mengubah nasib di masa depan. (Madiunpos)