Mengais Rezeki dari Batu dan Pasir Sungai Grindulu

oleh -Dibaca 981 kali
Sungai Grindulu foto by dok Pacitanku
Sungai Grindulu foto by dok Pacitanku

Pacitanku.com, PACITAN–Kalau Solo punya Sungai Bengawan Solo, atau kalau Mesir identik dengan Sungai Nilnya, atau Kalimantan dengan Sungai Musi-nya, maka Pacitan memiliki Sungai Grindulu sebagai identitas dan kekayaan alam yang terdapat di daerah Kabupaten paling ujung di Jawa Timur ini.

Sungai Grindulu di pacitan adalah sebuah sungai yang terpanjang di Pacitan yang membentang dari wilayah Kecamatan Pacitan, berturut – turut ke Kecamatan Arjosari, sampai diujung Kecamatan Tegalombo, dengan jarak sekitar 60 Km sampai ke muara laut.

Kalau di cermati, hampir sebagian besar wilayah sungai grindulu berdampingan dengan jalan utama Pacitan –Ponorogo, terutama di wilayah Kecamatan Arjosari dan kecamatan Tegalombo. Ciri khas yang mencolok biasanya, jalan besar utama langsung berdampingan dengan sungai Grindulu di bawahnya. Atau juga dengan model jalan besar utama, berbataskan rumah atau sawah, baru sungai grindulu. Biasanya daerah dengan jalan besar berdampingan langsung dengan Grindulu memiliki potensi bencana longsor yang lebih besar, daerah ini intensitas longsornya lebih tinggi dari daerah lainnya.

Sungai Grindulu, bagi sebagian warga Pacitan yang tinggal dikawasan yang berdekatan dengan sungai ini, menjadi bagian tak terpisahkan dalam kehidupan mereka. Selain digunakan untuk keperluan sehari – hari, seperti mandi dan mencuci, air sungai grindulu sebagian besar juga dimanfaatkan untuk keperluan irigasi pertanian. Fungsi lain yang bisa diambil dari keberadaan sungai Grindulu adalah pasir sungai yang sangat bermanfaat untuk keperluan pembangunan, dan tentu juga memiliki nilai ekonomi.

Tambang pasir dan batu Sungai Grindulu

Keberadaan sungai Grindulu tentu memberikan dampak yang positif bagi warga sekitar, selain batu kali, pasir, dan macam – macam ikan, sungai Grindulu juga dikenal dengan keindahan pemandangannya. Sering di wilayah Sungai Grindulu ini dijadikan obyek penambangan pasir kali untuk keperluan pembangunan rumah, kantor, masjid, dan sebagainya. Banyak yang menggunakan pasir sungai Grindulu untuk keperluan mencari mata pencaharian. Tentunya ada yang model penambang tradisional dan ada juga yang menggunakan alat berat.

Walaupun kekuatan pasir sungai untuk keperluan pembangunan tak sekuat pasir gunung berapi, akan tetapi Pasir Sungai Grindulu tetap diminati warga untuk dijadikan bahan baku bangunan, baik itu rumah, perkantoran, maupun keperluan pembangunan lainnya. Hal ini disebabkan karena harga yang lumayan murah daripada pasir sungai lainnya. Selain jarak yang cukup dekat, juga penggunaan pasir sungai grindulu ini memiliki kualitas pasir yang lumayan baik.

Dalam konteks penambangan pasir sungai Grindulu, terbagi menjadi tiga model, yaitu masyarakat penambangan daerah perbukitan, masyarakat ini tinggal didaerah elevasi tinggi yang relatif jauh dari daerah aliran sungai. Kemudian yang kedua adalah model masyarakat penambang daerah sungai : Masyarakat ini tinggal di daerah aliran sungai, baik hulu maupun hilir. Yang ketiga adalah model Masyarakat penambang di daerah perbukitan yang dekat dengan sungai, biasanya masyarakat ini tinggal di daerah perbukitan yang dekat dengan sungai pasir. Mereka nggak hanya menambang pasir di bukit tempat tinggal mereka, namun juga dari sungai yang mengalir di sekitarnya. Nah, ini adalah tipe – tipe penambang pasir di sungai Grindulu Pacitan.

Selain Pasir, batu kali juga menjadi obyek mata pencaharian sebagian warga yang tinggal di wilayah Tegalombo dan Arjosari. Ini bisa dilihat ketika anda melewati wilayah Desa Mangunharjo Kecamatan Arjosari, maupun di wilayah Desa gemaharjo, Kecamatan Tegalombo. Fungsi batu kali Grindulu ini adalah untuk bahan campuran membuat bangunan. Biasanya digunakan bahan campuran pembuatan beton atau cor, agar lebih kuat dan tahan lama.

Banyak disana penambang batu kali mengais rezeki mereka untuk kemudian dijual kepada konsumen. Model yang digunakan para penambang batu kali ini adalah dengan memukul batu keras yang berukuran besar menjadi bentuk yang paling kecil, dan biasanya mereka membuat gubuk – gubuk kecil yang sederhana yang digunakan sebagai tempat bekerja. Selain penambang yang menggunakan metode tradisional untuk memcah batu kali menjadi ukuran yang paling kecil dengan bermodalkan palu ukuran besar, ada juga yang menggunakan alat pemecah batu modern.