Ribuan Jamaah Hadiri Haul Akbar Pesantren Al-Fattah Kikil Pacitan, Mengenang 1.000 Hari KH Burhanuddin HB Sang Bapak Modernisasi

oleh -190 Dilihat
Suasana ribuan jamaah menghadiri Haul Akbar K.H. Burhanuddin HB di Pondok Pesantren Al-Fattah Kikil, Pacitan.
Ribuan jamaah dan alumni memadati kawasan Pondok Pesantren Al-Fattah Kikil, Arjosari, Pacitan, untuk memperingati seribu hari wafatnya K.H. Moch. Burhanuddin HB sekaligus menyambut bulan suci Ramadan. (Foto: Dwi Nurul Janah/Pacitanku)

Pacitanku.com, ARJOSARI — Ribuan jamaah yang terdiri atas santri, wali santri, dan alumni dari berbagai penjuru daerah memadati kawasan Pondok Pesantren Al-Fattah Kikil, Kecamatan Arjosari, Kabupaten Pacitan, pada Jumat (13/2/2026), untuk menghadiri Dzikro Haul Akbar para masyayikh.

Kegiatan itu juga digelar sekaligus memperingati seribu hari wafatnya KH Moch. Burhanuddin HB yang dikenal sebagai tokoh penggerak modernisasi pesantren tersebut.

Peringatan tahunan yang berlangsung khidmat ini dirangkaikan dengan tradisi megengan atau doa bersama menyambut datangnya bulan suci Ramadan.

Ketua Pelaksana yang juga merupakan menantu almarhum KH Burhanuddin HB, KH Hamka Hakim, menjelaskan bahwa acara ini memiliki makna mendalam bagi keluarga besar pesantren maupun masyarakat luas.

“Tujuannya sebagai bentuk sedekah keluarga untuk para masyayikh dan sarana meneruskan amanah agar syiar pondok tetap eksis,”kata KH Hamka Hakim.

Daya tarik pesantren yang kini dikelola oleh generasi keempat keturunan pendiri awalnya, Kyai Murtado, tidak lepas dari jejak perjuangan mendiang KH Burhanuddin HB.

Sejak tahun 1975, almarhum menginisiasi lompatan perkembangan institusi pendidikan dengan mendirikan Madrasah Tsanawiyah, disusul Madrasah Aliyah pada 1985, Madrasah Diniyah pada 2001, Sekolah Menengah Kejuruan pada 2002, hingga mendirikan Sekolah Tinggi Agama Islam Al-Fattah pada 2012.

Perjalanan panjang tersebut berhasil mengubah wajah pesantren dari yang sebelumnya murni salaf berfokus pada pengajian kitab menjadi sebuah lembaga pendidikan terpadu yang modern.

Selain kiprahnya di bidang pendidikan, sosok KH Moch. Burhanuddin HB amat dicintai karena karakternya yang egaliter dan luwes merangkul semua kalangan, mulai dari pejabat pemerintahan hingga masyarakat akar rumput.

KH Hamka Hakim mengenang mertuanya tersebut sebagai figur teladan yang memiliki kemiripan dengan gaya komunikasi mendiang Presiden Abdurrahman Wahid.

“Beliau sangat egaliter, seperti sosok Gus Dur. Bisa bergaul dengan tukang becak hingga tokoh kontroversial sekalipun diterima dengan baik di sini,”kenangnya.

Karisma sang kiai terbukti dari antusiasme peziarah yang membeludak, berdatangan tidak hanya dari wilayah Pulau Jawa, melainkan juga dari Sumatra, Kalimantan, bahkan menyeberang dari Malaysia.

Untuk mengakomodasi para tamu peziarah dan alumni yang menempuh perjalanan jauh, pihak panitia dan keluarga pesantren telah menyiapkan fasilitas tempat istirahat serta menyuguhkan ribuan porsi hidangan soto dan aneka makanan lain sebagai bentuk penghormatan tamu.

Kemeriahan spiritual rangkaian haul ini dibuka dengan lantunan selawat dari seribu penabuh rebana, dilanjutkan dengan pembacaan doa tahlil yang dipimpin langsung oleh Rais Syuriyah Nahdlatul Ulama Pacitan, KG Saifuddin.

Jemaah juga diajak menyelami riwayat hidup almarhum melalui pembacaan biografi oleh KH Luqman Haris Dimyathi dari Pondok Pesantren Tremas, sebelum ditutup dengan siraman rohani oleh KH Ahmad Yani yang merupakan akademisi sekaligus mubalig tersohor.

“Harapan kami, haul ini tidak hanya sekadar ritual doa, tetapi menjadi ajang silaturahmi, reuni alumni, dan mempererat hubungan pondok dengan masyarakat luas,” tutup K.H. Hamka Hakim mengakhiri penjelasannya.

No More Posts Available.

No more pages to load.