Pacitanku.com, PACITAN — Pacitan selalu memiliki magnet tersendiri untuk memikat siapa saja agar datang dan kembali.
Gugusan pantai di pesisir selatan yang berhadapan langsung dengan samudra luas, deretan perbukitan karst yang memanjang memagari kota, hingga udara sejuk yang menawarkan ketenangan menjadi alasan kuat bagi ribuan wisatawan memilih kota ini sebagai destinasi utama menghabiskan libur Natal dan Tahun Baru.
Namun, di balik pesona alam yang menenangkan itu, ibu bumi tengah menunjukkan dinamika yang menuntut perhatian lebih dari para penikmatnya.
Hujan yang turun dengan intensitas tak menentu, hembusan angin yang sesekali menguat, hingga gelombang laut yang berubah cepat menjadi pengingat alamiah bahwa keindahan Pacitan perlu dinikmati dengan penuh kesadaran dan kewaspadaan.
Kepala Bidang Pencegahan dan Kesiapsiagaan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Pacitan, Yagus Triarso, mengingatkan bahwa wilayah Pacitan saat ini masih berada dalam fase potensi bencana hidrometeorologi basah yang patut diantisipasi.
Fenomena alam yang terjadi belakangan ini bukan sekadar hujan biasa, melainkan rangkaian kondisi cuaca yang saling berkaitan satu sama lain, mulai dari angin kencang hingga gelombang tinggi yang perubahannya bisa terjadi dalam waktu singkat.
Situasi ini tidak lepas dari pengaruh bibit siklon yang muncul di selatan Indonesia yang turut memengaruhi pola cuaca di wilayah Pulau Jawa, termasuk Pacitan.
Meskipun pusat siklon berada jauh dari daratan, Yagus menegaskan bahwa dampaknya tetap bisa dirasakan di wilayah pesisir.

Pacitan sering kali hanya terkena dampak ekor dari sistem cuaca tersebut, namun sejarah mencatat bahwa dampak sekecil apa pun tidak boleh dipandang sebelah mata.
Ia merefleksikan kejadian tahun 2017 silam, di mana ekor Siklon Cempaka sempat memicu banjir dan tanah longsor di sejumlah wilayah yang menjadi pembelajaran berharga bagi mitigasi bencana daerah.
“Kita belajar dari pengalaman. Walaupun bukan pusatnya, efeknya tetap ada. Karena itu kewaspadaan penting. Yang kita hadapi sekarang bukan hanya hujan, tapi rangkaian kondisi cuaca yang saling berkaitan. Ada angin, ada gelombang, dan semuanya bisa berubah cepat,”kata Yagus, Selasa (30/12/2025).
Di tengah kewaspadaan tersebut, BPBD Pacitan menegaskan bahwa imbauan yang dikeluarkan bukanlah bentuk larangan bagi wisatawan untuk berkunjung.
Justru sebaliknya, imbauan ini merupakan bentuk kepedulian dan upaya preventif agar momen liburan tetap berjalan aman dan meninggalkan kenangan manis.
Wisatawan diminta untuk lebih peka terhadap informasi cuaca terkini, mematuhi setiap rambu peringatan yang terpasang di kawasan wisata, serta bijak untuk tidak memaksakan diri melakukan aktivitas air di area berisiko tinggi, terutama di sepanjang garis pantai selatan.
Yagus menambahkan bahwa menikmati Pacitan saat libur Nataru tetap sangat dimungkinkan asalkan wisatawan tidak mengabaikan informasi keselamatan yang telah disampaikan otoritas terkait.
Pihaknya bersama unsur terkait juga telah menyiagakan personel di pos-pos pengamanan terpadu, tidak hanya untuk respon darurat, tetapi juga sebagai pusat informasi dan edukasi bagi para pelancong.
“Liburan tetap boleh, silakan menikmati Pacitan. Tapi jangan mengabaikan informasi yang sudah disampaikan,”kata Yagus.
Selain kewaspadaan fisik di lapangan, masyarakat juga diimbau untuk cerdas memilah informasi di dunia maya. Derasnya arus pesan berantai di media sosial sering kali memicu kecemasan yang tidak perlu akibat berita bohong atau hoaks.
Oleh karena itu, rujukan informasi harus selalu dikembalikan pada sumber resmi seperti BMKG, BNPB, maupun BPBD setempat agar masyarakat bisa lebih tenang dan siap.
Yagus menekankan pentingnya peran media dan akademisi untuk membangun narasi yang menenangkan namun tetap edukatif, menegaskan bahwa Pacitan adalah destinasi yang aman, layak dikunjungi, dan memiliki potensi besar jika dikelola dengan kesadaran keselamatan bersama.
“Pacitan ini aman, layak dikunjungi, dan punya potensi besar. Yang penting bagaimana kita bersama-sama membangun informasi yang menenangkan, bukan menakutkan. Jangan apatis, tapi juga jangan percaya hoaks. Informasi resmi itu justru membantu kita lebih siap,”pungkasnya.












