Inovasi Mahasiswa UNS: Selai Kulit Pisang Jadi Jurus Jitu Kurangi Limbah dan Tingkatkan Ekonomi Warga Pacitan

oleh -193 Dilihat
Berbekal inovasi dan kreativitas, mahasiswa KKN UNS kelompok 247 menyulap kulit pisang menjadi selai lezat yang punya nilai jual. Dalam sebuah pelatihan, warga Desa Hadiluwih, Pacitan, diajarkan cara mengolah limbah kulit pisang menjadi produk pangan yang ramah lingkungan dan berpotensi meningkatkan ekonomi keluarga. (Foto: Dok. for Pacitanku)

Pacitanku.com, NGADIROJO — Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Sebelas Maret (UNS) kelompok 247 berhasil memperkenalkan inovasi yang mengubah kulit pisang, yang semula hanya limbah, menjadi produk pangan bernilai jual berupa selai.

Inovasi ini diperkenalkan kepada lebih dari 40 warga Desa Hadiluwih, Kecamatan Ngadirojo, Kabupaten Pacitan, dalam sebuah pelatihan yang diselenggarakan di Balai Desa pada Rabu (25/7/2025) lalu.

Pelatihan ini mencakup sesi pemaparan teori dan praktik langsung, menunjukkan cara mengolah kulit pisang menjadi selai, mulai dari pencucian, perebusan, pencampuran gula, hingga pengemasan.

Produk yang dihasilkan tidak hanya lezat, tetapi juga membuka peluang usaha rumahan bagi masyarakat.

Salah seorang peserta, Yuni (45), menyambut baik pelatihan ini.

“Selama ini kulit pisang hanya kami buang. Ternyata bisa diolah menjadi makanan enak bahkan bisa dijual. Ilmu seperti ini sangat bermanfaat bagi kami,”katanya.

Penanggung jawab program, Nuzulul Lutfi, menjelaskan bahwa kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya pemanfaatan limbah rumah tangga.

“Kami berharap masyarakat melihat peluang ekonomi dari sekitar mereka. Selai kulit pisang ini ramah lingkungan sekaligus memiliki prospek pasar yang cukup menjanjikan,”ujarnya dalam keterangannya, Kamis (28/8/2025) di Pacitan.

Selain aspek ekonomi, program ini juga mengusung pesan keberlanjutan lingkungan. Dengan mengolah kulit pisang, masyarakat diajak untuk mengurangi limbah organik sekaligus mendapatkan nilai tambah dari produk olahan.

Ke depan, mahasiswa UNS berkomitmen untuk terus mendampingi warga agar inovasi ini dapat berlanjut secara mandiri dan menjadi titik awal lahirnya produk kreatif lain yang menguatkan ekonomi lokal.

Dukungan juga datang dari Kepala Desa Hadiluwih, Sujarwo, yang mengapresiasi upaya mahasiswa UNS.

“Program ini sejalan dengan upaya desa dalam meningkatkan kemandirian ekonomi berbasis potensi lokal. Harapan kami, pelatihan seperti ini tidak berhenti sampai di sini, tetapi bisa terus dikembangkan sebagai produk unggulan desa,”kata Sujarwo.

No More Posts Available.

No more pages to load.