Desember 2022 Puncak Musim Hujan, BPBD Pacitan Minta Masyarakat Waspada

oleh -Dibaca 1,002 kali
APEL KEBENCANAAN. Bupati Pacitan didampingi Wabup Pacitan mengecek kesiapan personil menghadapi bencana alam pada Selasa (25/10/2022). (Foto: Sulthan Shalahuddin/Pacitanku)

Pacitanku.com, PACITAN – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Pacitan meminta masyarakat untuk tetap mewaspadai puncak musim hujan yang diprediksi akan terjadi pada bulan Desember 2022 hingga Januari 2023.

Sebagai informasi, sebelumnya Badan Meteorologi Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprakirakan puncak musim hujan di sebagian wilayah Indonesia terjadi di bulan Desember 2022 hingga Januari 2023.

“(Masyarakat) waspada saja, karena ini sebenarnya (Oktober) masih mulai (awal musim hujan),”kata Kepala Pelaksana (Kalaksa) BPBD Pacitan Erwin Andriatmoko, Selasa (25/11/2022) di Pacitan.

Cuaca ekstrem yang terjadi pada pertangahan oktober 2022 lalu, kata Erwin, juga disebabkan awal musim hujan ditumpangi fenomena La Nina dan gelombang equatorial Rossby.

“Belum lagi ditumpangi La Nina yang mulai Agustus-Oktober, belum lagi ada gelombang equatorial Rossby yang menyebabkan permukaan bumi suhu tambah panas sehingga uap lebih banyak, sehingga terjadi (cuaca ekstrem) ini,”jelas Erwin.

“Namun ini belum pada puncaknya (musim hujan), bulan Desember 2022 puncaknya, jadi kita semua masih siap siaga sampai Januari 2023,”pungkas Erwin.

La Nina sendiri adalah fenomena mendinginnya suhu permukaan laut (SML) di Samudra Pasifik bagian tengah dan timur di bawah kondisi normalnya.

Sementara pada kurun waktu 10-16 Oktober 2022 terjadi cuaca ekstrem di Jatim yang diakibatkan gelombang Rossby di wilayah Jatim.

Gelombang ekuator Rossby merupakan gelombang atmosfer yang bergerak ke arah barat dan terletak di sepanjang ekuator yang umumnya berlangsung selama 7-10 hari.

Aktifnya fenomena gelombang atmosfer Equatorial Rossby, serta suhu muka laut di perairan Jawa Timur masih hangat dengan anomali antara +1.0 sampai +3.0 °C, sehingga suplai uap air akan semakin banyak di atmosfer.

Kondisi tersebut mempengaruhi pembentukan awan awan Cumulonimbus yang semakin intens dan dapat mengakibatkan cuaca ekstrem seperti yang terjadi pada pertengahan Oktober 2022 lalu.

No More Posts Available.

No more pages to load.