Lebih Dekat dengan Catur Adi Sagita, Anak Buruh Tani dari Pacitan yang Jadi Juara Asia

oleh
Catur Adi Sagita (tengah) usai menjuarai kompetisi catur Asia.

Pacitanku.com, PACITAN – Lahir dari keluarga tak mampu, tidak membuat remaja bernama Catur Adi Sagita (16) ini menyerah dan meratapi keadaan. Sebaliknya, remaja yang akrab disapa Catur ini berhasil membuat orangtuanya bangga, dengan mengharumkan nama Indonesia di kancah internasional.

Remaja yang lahir di Pacitan 21 Desember 2001 silam ini baru saja memborong tiga medali emas dalam ajang Kejuaraan Catur Antar-Pelajar Asia yang diikuti 23 negara di Tiongkok, akhir Juli lalu.

Anak buruh tani ini mewakili Indonesia di ajang The 13th Asian Schools Chess Championship di kelompok umur 17 tahun. Anak kermpat dari empat orang bersaudara ini berangkat ke Tiongkok pada19 Juli 2017 dan kembali ke Indonesia 31 Juli 2017, lalu.

Catur mendapat medali emas di tiga nomor sekaligus, yakni catur standar perseorangan, cepat perseorangan, dan kilat perseorangan.“Dapat tiga medali, emas semua,” kata Catur saat ditemui di Kantor Persatuan Catur Indonesia (Percasi) Pacitan, Kamis (17/7/2017) dikutip dari Surya.

Pada nomor catur standar perseorangan, Catur melawan pecatur asal Philipina dengan point akhir 7,5. Sembilan babak, remis tiga kali dan menang enam kali. Di nomor catur cepat, Catur juga melawan pecatur asal Philipina dengan point akhir 6,5. Main tujuh babak, menang enam kali dan remis satu kali.




Sementara itu, di nomor catur kilat, Catur melawan pecatur asal Tiongkok dan berhasil menang dengan 8 poin. Main sembilan babak, tujuh kali menang dan dua kali remis.“Lawan yang terberat dari Philipina,” katanya.

Catur menuturkan, kegemarannya bermain catur dimulai sejak ia duduk di bangku kelas satu SD. Almarhum kakeknya yang bernama Wakimin yang mengajarinya bermain catur pertama kali.

Kemudian ketika ia duduk di bangku kelas 2 SD tahun 2007, ia berhasil menjadi juara olimpiade tingkat kabupaten untuk cabang olahraga catur. Sejak itulah, ia kemudian dibina di Percasi Pacitan.

Kesempatan untuk semakin mengasah kemampuan di Percasi tak ia sia-siakan. Obsesinya untuk bisa menjadi juara sudah ia tunjukan sejak SD.

Ia harus rela berjalan dari Terminal Arjowinangun ke SD Pacitan yang jaraknya sekitar empat kilometer. Hampir setiap hari, sepulang sekolah, Catur naik angkutan umum dari rumahnya di Desa Purwoasri, Kecamatan Kebonagung menuju Terminal Arjowinangun kemudian berjalan sejauh empat kilometer ke SD Pacitan yang saat itu menjadi tempat latihan anggota Percasi Pacitan.“Waktu itu kan nggak ada kendaraan, jadi jalan kaki dari terminal,” kata penggemar olahraga sepak bola ini.

Namun, itu tak berlangsung lama. Seorang guru SD Pacitan bernama Asraf mengangkatnya sebagai anak angkat. Catur diadopsi dan diminta tinggal di rumah Asraf di RT 001/ RW 003 Desa Menadi, Kecamatan Pacitan, Pacitan.

Kini setiap hari sepulang sekolah, Catur berlatih bersama murid-murid di Percasi Pacitan. Minimal, delapan jam dalam sehari, Catur berlatih menggunakan komputer.“Sehari delapan jam,” kata remaja yang dikenal pendiam ini.

Catur mengaku sudah banyak prestasti yang raih di tingkat nasional maupun internasional. Beberapa prestasi yang pernag ia raih di antaranya, mendapat perungu di ASEAN Age 2010, mendapat medali emas di Asean Primary School Olimpyad 2010 tingkat Asia Tenggara, medali emas di ASEAN Age 2012, peringkat lima di Wolrd Youth Chess Championship di Yunani 2013, dan tiga medali emas di The 13th Asian Schools Chess Championship di Tiongkok 2017.

Bakat bermain catur tidak hanya dimiliki olehnya. Tiga kakak kandungnya, yakni Mahendra Adi Saputra, Lovita Adiyati, dan Ade Ajeng Tria Adila juga jago bermain catur.

Pada 2015, Catur dan dua kakaknya Mahendra Adi Putra serta Lovita Adiyati berhasil membawa pulang medali emas di Pekan Olahraga Provinsi Jatim. Catur dan kakaknya mendapatkan uang pembinaan, yang ia gunakan untuk memperbaiki rumahnya.

Sementara itu, nenenknya yang bernama Suparni (68) mengatakan cucunya sudah memiliki bakat bermain catur sejak kecil.“Belajar skak (catur) sejak TK. Awalnya suka main kelereng, oleh kakeknya diajari bermain skak,” kata Suparni saat ditemui di rumahnya Dusun Soka, Desa Purwoasri, Kecamatan Kebonagung, Pacitan.

Dikatakan Suparni, selain pandai bermain catur, cucunya juga pandai bermain kelereng. “Main kelereng juga pintar, bawa dua kelereng nanti pulangnya sudah bawa banyak, menang terus dia,” katanya.

Ia mengaku sangat bangga dan bahagia dengan prestasi yang diraih cucunya. Meski berasal dari keluarga tak mampu, namun Catur bisa membuat keluarga dan masyarakat di Pacitan bangga dengan prestasinya.“Bapaknya buruh, kalau ibunya kerja cari rumput dan kayu,” katanya sambil mengusap air mata.

Sementara itu, pelatih Catur di Percasi Pacitan, Resi Adji mengatakan anak didiknya memang memiliki bakat sejak kecil. “Anaknya pendiam, tapi punya semangat dan ambisi yang tinggi. Dia seperti sudah menyatu dengan catur,” kata Adji.

Ia mengaku sangat bangga sekaligus terkejut saat muridnya mendapatkan tiga medali emas sekaligus saat bertanding di Tiongkok, Juli lalu. “Saya nggak menyangka, jarang-jarang lho bisa dapat tiga emas sekaligus,” katanya.

Ia berharap, dengan prestasi yang diraih oleh Catur, pemerintah pusat bisa memberikan apresiasi dan bantuan kepada Percasi Pacitan. Sebab, anggaran dari pemerintah daerah sebesar Rp 100 juta per tahun untuk Percasi Pacitan tidak cukup untuk membina atlet seperti Catur yang sudah bertanding di tingkat internasional.

“Saya berharap pemerintah memberikan perhatian. Apalagi prestasi anak ini sudah tingkat internasional. Daerah tidak bisa membiayai ketika harus bertanding di tingkat internasional,” pungkasnya. (Surya/RAPP002)