Resmi Diakui Nasional, Disparbudpora Pacitan Siapkan Strategi Lestarikan Oglor Hingga Kuliner Kalakan

oleh -687 Dilihat
Sayur Kalakan Pacitan
Sayur Kalakan Pacitan. (Foto: Sulthan Salahuddin)

Pacitaku.com, PACITAN – Dinas Pariwisata Kebudayaan Pemuda dan Olahraga (Disparbudpora) Kabupaten Pacitan kini fokus memperkuat upaya pelestarian empat warisan budaya lokal yang baru saja ditetapkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda (WBTb) Indonesia Tahun 2025 oleh Kementerian Kebudayaan RI.

Upaya pelestarian ini melibatkan penguatan dokumentasi, inovasi, dan pengembangan ekonomi berbasis budaya.

Kepala Bidang Kebudayaan Disparbudpora Pacitan, Sukanto, menegaskan penetapan ini merupakan pengakuan penting terhadap kekayaan Pacitan.

Penetapan tersebut mencakup tiga seni budaya dan satu kuliner khas: Musik Tradisional Oglor (Seni Pertunjukan), Upacara Adat Baritan (Adat Istiadat), Upacara Adat Jangkrik Genggong (Seni Pertunjukan), dan Olahan Ikan Kalakan (Kemahiran Kerajinan Tradisional).

“Dengan status WBTb ini, kami wajib meningkatkan perlindungan dan pemanfaatannya. Program pelestarian harus menjangkau generasi muda agar warisan ini tidak hilang ditelan zaman,”kata Sukanto, Sabtu (18/10/2025) di Pacitan.

Atas capaian itu, Kanto mengatakan Disparbudpora Pacitan telah merumuskan strategi pelestarian yang berbeda untuk setiap warisan.

Baca juga: Ini Daftar 10 Warisan Budaya Takbenda Pacitan yang Diakui Nasional Hingga 2025

Sukanto berharap, dengan upaya pelestarian yang terintegrasi ini, warisan budaya Pacitan akan semakin lestari, berdaya saing, dan dapat menopang sektor pariwisata dan ekonomi kreatif daerah.

Untuk Musik Tradisional Oglor, kata Kanto, kesenian yang memadukan selawat Jawa dengan terbang dan kendang ini tumbuh di Kecamatan Ngadirojo, khususnya Desa Wonokarto, Kecamatan Ngadirojo, Pacitan.

“Upaya pelestariannya dilakukan melalui pengarsipan digital rekaman pertunjukan, perawatan alat musik tradisional, dan menjadikannya bagian dari festival tahunan serta kegiatan ekstrakurikuler di sekolah. Selain itu, dilakukan pembinaan melalui pelatihan bagi anak-anak dan remaja bersama maestro Oglor,”jelasnya.

Selain itu, untuk Upacara Adat Baritan, Kanto juga menyiapkan pelestariannya. Upacara Adat Baritan sendiri adalah Tradisi tolak bala dan wujud syukur yang berasal dari kata wiridan ini pertama kali dilaksanakan oleh Ki Porso Singo Yudro pada awal abad ke-19 (tahun 1896) untuk mengembalikan keadaan desa setelah ditimpa wabah. 

“Pelestarian dilakukan dengan dokumentasi tulisan, foto, dan video, serta perlindungan hukum. Pengembangan dilakukan dengan mengintegrasikannya dalam festival daerah dan menjadikannya objek kajian akademis,”paparnya.

Baca juga: Bangga! Pacitan Tambah Empat WBTb Baru, Jangkrik Genggong hingga Kuliner Kalakan Diakui Negara

Yang ketiga, kata Kanto, adalah Upacara Adat Jangkrik Genggong. Upacara tahunan yang rutin dilaksanakan di Dusun Tawang, Desa Sidomulyo, Kecamatan Ngadirojo, sebagai wujud syukur atas hasil pertanian dan laut. 

“Pemasukan dalam WBTb bertujuan menjaga keaslian alat, pakaian, dan ritualnya. Pembinaan dilakukan melalui pembentukan kelompok budaya di bawah naungan Pemerintah Desa,”ungkap dia.

Terakhir, adalah Kuliner Kalakan. Kuliner ini adalah olahan ikan asap khas pesisir Pacitan ini merupakan kerajinan tradisional yang diwariskan turun-temurun selama hampir tiga generasi oleh ibu-ibu nelayan di Desa Kembang dan Sirnoboyo. 

“Kalakan didaftarkan sebagai Kekayaan Intelektual Komunal tahun 2025 dengan nomor T352024000669. Pengembangan dilakukan dengan menciptakan variasi rasa, memanfaatkan media sosial dan e-commerce untuk promosi, serta menjadikannya sebagai bagian dari paket wisata kuliner UMKM,”pungkasnya.

Video Suka Pedas? Cobain Icip Sayur Kalakan Pacitan

No More Posts Available.

No more pages to load.