Jamaah Moloekatan Gus Miek Membludak di Tulakan

oleh -100 Dilihat
Suasana Majelis Moloekatan Gus Miek dipenuhi jamaah dari berbagai wilayah yang bersama-sama mengikuti dzikir dengan penuh khidmat. (Foto: Dok. Panitia For Pacitanku)

Pacitanku.com, TULAKAN-Tak kurang dari 300 orang jamaah Majelis Semaan Al Qur’an dan Dzikrul Ghofilin Moloekatan Gus Miek, Juma’at, (22/05/2026) malam, memadati masjid Al Muttaqien, Desa Kluwih, Kecamatan Tulakan.

Mereka, berasal dari berbagai wilayah, seperti Tulakan, Pacitan Kota, Ngadirojo, dan Sudimoro.

Menjelang Isya’ warga yang ingin mengikuti Moloekatan, terlihat mulai berdatangan.

Di antara jama’ah yang hadir, tampak Ketua Komisi II DPRD Pacitan, Rudi Handoko, sejumlah kepada desa di wilayah Kecamatan Tulakan dan Ngadirojo, serta berbagai lapisan masyarakat.

Mereka tampak khusuk dan khidmat berdzikir.

Majelis dzikir dengan penanggung jawab Mbah Gus Tijani Robert Saifunnawas dan Gus Thuba Topo Broto Maneges ini, menggelar kegiatan rutinnya secara berkeliling dari masjid ke masjid yang ada di wilayah Kecamatan Tulakan.

“Kegiatan di wilayah Tulakan, setiap malam Sabtu Kliwon. Dimulai dengan tahtimul Qur’an jus 1-30 mulai ba’da sholat Shubuh,’’ ungkap Rony Panengah, Sekretaris Majelis Semaan Al Qur’an dan Dzikrul Ghofilin Moloekatan Gus Miek Korcam Tulakan .

Kegiatan rutin ini, tambah Rony, sebagai bagian dari rangkaian Moloekatan ditingkat Korda Pacitan setiap Malam Sabtu Pon, yang diadakan di Masjid Syech Yahudo, Nogosari, Ngadirojo, dan Malam Juma’at Legi di Pusat, Kediri.

Ratusan jamaah khusyuk mengikuti Majelis Semaan Al Qur’an dan Dzikrul Ghofilin Moloekatan Gus Miek di Masjid Al Muttaqien, Desa Kluwih, Tulakan.

Setelah Tahtimul Qur’an, kemudian ba’da Isya dimulai kegiatan dzikir yang disebut sebagai dzikrul ghofilin.

Sedangkan nama Moloekatan ini, merupakan istilah yang sering dipakai almarhum KH Hamim Jazuli atau Gus Miek, saat mengobrol bersama Mbah Gus Robert dan Mbah Dahnan, Trenggalek.

Moloekatan, merupakan bahasa kuno, yang artinya adalah ibadah tirakat sederhana, namun cepat terbentuknya.

Sebuah suluk pengikat dan pengangkat masalah problematikan dunia dan akherat.

Sehinggga, imbuh Rony, Mbah Gus Robert Miek memakai istilah yang sering disampaikan Gus Miek tersebut.

Penggabungan nama Moloekatan dan Gus Miek, sebagai penegasan bahwa Sang Wali dari Kediri inilah, sebagai pemilik dan penanggung-jawabnya, sekaligus memperjelas kemurnian dan pakemnya.

Tujuan dan buah dari Majelis Sema’an Al Qur’an dan Dzikrul Ghofilin sebagaimana Dawuh Gus Miek, kata Rony, untuk menciptakan personalia pribadi seseorang menjadi tau diri, mau koreksi diri, mengenali diri, dan mengakui atas kekurangan ketidaksempurnaan salah dosanya sendiri kepada Allah SWT, maupun kepada sesama.

Aldi, seorang anak muda yang berprofesi sebagai ASN di Dinas Perhubungan Kabupaten Pacitan, mengatakan, banyak hal yang dirasakan dan dialami setelah rutin ikut Moloekatan Gus Miek.

“Hati dan pikiran lebih adem, dan sepertinya Allah lancarkan dalam pekerjaan dan karir,’’ tandasnya.