Pacitanku.com, PACITAN – Jurnalis senior Radio Suara Pacitan, Purwoto sukses merampungkan studi Magister Manajemen Bencana di Universitas Pembangunan Nasional (UPN) Veteran Yogyakarta dengan membawa misi akademis yang strategis bagi dunia pers daerah.
Melalui penelitian tesisnya berjudul “Bencana di Pacitan dalam Bingkai Media: Analisis Framing Berita Banjir dan Longsor Tahun 2017 di Pacitanku.com,” Purwo menekankan pentingnya peran media dalam informasi dan edukasi kebencanaan.
Atas kerja kerasnya melakukan penelitian dan kajian ilmiah tersebut, pria yang kerap kali digandeng dalam sosialisasi kebencanaan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) ini diganjar gelar Magister Manajemen Bencana (MMB).
Dalam penelitiannya, Purwo menekankan pentingnya transformasi media massa dari sekadar pelapor peristiwa menjadi bagian integral dalam sistem manajemen bencana, guna mencapai target nol korban jiwa atau zero victim saat bencana melanda.
Langkah akademis ini diambil Purwo bukan sekadar untuk menambah gelar, melainkan sebagai upaya serius menjembatani pengalaman jurnalistik praktisnya dengan ilmu manajemen kebencanaan yang terukur.
Dalam penelitiannya, ia menyoroti peran strategis media lokal dalam mitigasi bencana, khususnya terkait pembingkaian berita pada peristiwa banjir besar Pacitan tahun 2017.
Baca juga: Angkat Branding Pariwisata Pacitan, Anggota DPR RI Sartono Raih Gelar Doktor di Universitas Udayana
Purwo menilai bahwa Pacitan memiliki karakteristik unik dengan potensi ancaman bencana yang kompleks, sehingga memerlukan pendekatan komunikasi publik yang tidak biasa dan berkelanjutan.
Dalam proses risetnya, Purwo menetapkan laman berita daring pacitanku.com sebagai objek penelitian utama.
Keputusan ini didasari oleh metodologi ilmiah yang kuat melalui pengukuran Search Engine Optimization (SEO) menggunakan pendekatan Domain Authority (DA) dan Page Authority (PA).
Berdasarkan analisis data yang dibantu rekan ahli digital, pacitanku.com terbukti menempati posisi tertinggi dalam indeks kepercayaan pembaca di antara lima media daring lokal yang beroperasi di Pacitan.
“Kenapa jatuh ke pacitanku.com? Karena saya melakukan pengukuran SEO dengan pendekatan DA dan PA untuk membaca tingkat kepercayaan publik terhadap sebuah media. Dari situ ketemu lima media online, dan pacitanku.com menempati posisi paling tinggi. Dasar itulah yang membuat saya memutuskan meneliti media ini,”kata Purwo saat menjelaskan validitas data penelitiannya baru-baru ini.
Lebih lanjut, Purwo menjelaskan bahwa tingginya skor otoritas tersebut mengindikasikan besarnya pengaruh media dalam membentuk opini publik.

Hal ini menjadi modal krusial bagi media untuk bertransformasi menjadi agen edukasi mitigasi.
Melalui kacamata akademis, ia mengkritisi kebiasaan lama media yang cenderung hanya riuh memberitakan saat bencana terjadi, namun abai pada fase pra-bencana dan pemulihan.
Ia menegaskan bahwa media yang dipercaya publik memiliki tanggung jawab moral lebih besar untuk mengedukasi masyarakat.
“Sudah saatnya kita memenuhi panggilan tugas kita sebagai penyampai pesan-pesan pengurang risiko bencana. Goal atau tujuan akhirnya adalah zero victim, dan itu tugas mulia media, tidak usah menunggu peristiwa terjadi baru diberitakan, sebelum (bencana, red) terjadi, publik harus sering-sering diingatkan,”jelasnya.
Purwo juga mengaitkan temuan akademisnya dengan konsep Jurnalisme Kenabian atau Prophetic Journalism yang ia pelajari dari mentornya, Parni Hadi.
Konsep ini menempatkan jurnalis dalam dua fungsi vital, yakni sebagai pemberi peringatan dini (warner) yang akurat akan ancaman bahaya dan pembawa kabar gembira (bearer of glad tidings) yang membangun optimisme serta menguatkan mental masyarakat.
Ia berharap hasil studinya dapat mendorong media di Pacitan untuk lebih aktif mengisi ruang edukasi mitigasi sejak masa tenang, sehingga risiko jatuhnya korban jiwa dapat diminimalisir sekecil mungkin di masa depan.
Video Cerita Suka Duka Menjadi Wartawan – Spesial Hari Pers Nasional












