Pacitanku.com, PACITAN – Kabupaten Pacitan mencatatkan sejarah baru dalam pemerataan infrastruktur telekomunikasi dengan resmi menyandang status bebas dari wilayah tanpa sinyal internet atau blank spot.
Capaian strategis ini terungkap berdasarkan data terbaru Statistik Potensi Desa (Podes) 2025 yang dirilis Badan Pusat Statistik (BPS), di mana seluruh wilayah di Kota 1001 Goa ini kini telah terjangkau akses telekomunikasi.
Dari total 172 desa dan kelurahan yang tersebar di 12 kecamatan, tidak ada satu pun wilayah yang melaporkan ketiadaan sinyal internet maupun telepon seluler.
Mayoritas wilayah bahkan telah menikmati layanan data berkecepatan tinggi yang memadai untuk aktivitas digital modern.
Data BPS mencatat bahwa sebanyak 153 desa dan kelurahan, atau setara dengan 88,95 persen dari total wilayah Pacitan, telah terlayani jaringan internet generasi keempat (4G/LTE) hingga 5G.
Capaian ini menjadi indikator kuat bahwa infrastruktur digital di pedesaan Pacitan telah siap menopang ekonomi kerakyatan dan pelayanan publik berbasis elektronik.
Meskipun dominasi 4G sudah sangat luas, sisa 19 desa atau sekitar 11,05 persen wilayah tercatat masih mengandalkan jaringan 3G/H/H+/EVDO.
Kendati belum menyentuh kecepatan 4G, keberadaan jaringan tersebut memastikan warga di wilayah tersebut tetap terhubung dengan dunia luar, karena tidak ada lagi desa yang hanya terlayani sinyal lambat sekelas 2,5G atau GPRS, apalagi tanpa sinyal sama sekali.

Jika membedah sebaran konektivitas per kecamatan, ketimpangan kualitas jaringan memang masih terlihat di beberapa titik.
Lima kecamatan, yakni Pacitan, Nawangan, Bandar, Tegalombo, dan Tulakan, mencatatkan performa konektivitas terbaik di mana 100 persen desanya sudah terjangkau jaringan 4G/LTE.
Sebaliknya, Kecamatan Ngadirojo menjadi wilayah dengan jumlah desa terbanyak yang masih bergantung pada sinyal 3G, yakni sebanyak lima desa, disusul oleh Kecamatan Donorojo dan Arjosari masing-masing empat desa, serta Sudimoro, Kebonagung, dan Pringkuku yang masing-masing menyisakan dua desa dengan jaringan 3G.
Kualitas kekuatan sinyal telepon seluler di Pacitan secara umum tergolong prima. Sebanyak 122 desa melaporkan kondisi sinyal kuat dan 35 desa lainnya memiliki sinyal sangat kuat.
Hanya 15 desa yang tercatat memiliki sinyal lemah, yang tersebar mayoritas di Kecamatan Arjosari, Pringkuku, serta beberapa titik di Tegalombo, Kebonagung, Donorojo, Punung, dan Sudimoro.
Kestabilan jaringan ini didukung oleh infrastruktur fisik berupa Base Transceiver Station (BTS) yang telah berdiri di 94 desa.
Menariknya, meskipun Kecamatan Sudimoro hanya memiliki BTS di dua desa, namun delapan desa lainnya di kecamatan tersebut tetap mendapatkan sinyal, yang menunjukkan jangkauan cakupan atau coverage yang cukup luas.
Ketersediaan sinyal yang semakin merata ini mulai memberikan dampak nyata pada ekosistem ekonomi digital, salah satunya adalah penetrasi layanan transportasi daring.
Saat ini, layanan angkutan berbasis aplikasi seperti Gojek, Grab, dan Maxim sudah dapat diakses di 48 desa dan kelurahan, meski konsentrasinya masih terpusat di wilayah perkotaan seperti Kecamatan Pacitan dan Kebonagung.
Namun, di wilayah pinggiran seperti Kecamatan Donorojo, Bandar, dan Tegalombo, layanan transportasi daring tercatat belum tersedia sama sekali meskipun infrastruktur sinyalnya sudah memadai.
“Kondisi ini menandakan kesiapan infrastruktur digital desa dalam menopang ekonomi dan layanan publik berbasis elektronik,”demikian bunyi kutipan analisis dalam laporan Data Statistik Potensi Desa (Podes) 2025 yang dirilis BPS terkait dampak konektivitas tersebut.











