Pacitanku.com, TULAKAN — Berawal dari kerinduan sederhana akan memori masa kecil tentang rimbunnya pohon buah milik leluhur, Juminto, seorang warga Desa Ketro, Kecamatan Tulakan, Kabupaten Pacitan, sukses menyulap lahan yang dulunya hanya ditumbuhi pohon sengon menjadi destinasi agrowisata unggulan bernama Salam Garden yang kini menjadi rujukan wisatawan lintas provinsi berkat koleksi buah langka dan inovasi sistem green house mandiri.
Transformasi lahan di sudut Desa Ketro ini dimulai sekitar tahun 2018, tepat sebelum pandemi melanda, ketika ketertarikan Juminto muncul setelah melihat bibit tanaman milik rekannya di Madiun yang mampu berbuah meski berukuran kecil.
Motivasi awalnya pun tergolong sederhana, yakni keinginan tulus untuk berbagi kebahagiaan dengan menyajikan buah segar yang dipetik langsung dari pohon kepada setiap tamu yang berkunjung ke rumahnya.
Namun, ketelatenan dalam merawat satu demi satu pohon buah tersebut justru membuka jalan baru yang mengubah wajah lahan miliknya menjadi kawasan konservasi yang produktif.
Salah satu kunci keberhasilan Salam Garden terletak pada keberanian Juminto menerapkan inovasi sistem green house sederhana menggunakan plastik UV standar 200 mikron untuk tanaman jambu air, sebuah metode yang masih jarang dilirik oleh petani setempat.

Langkah ini terbukti efektif menjaga kualitas jambu madu tetap premium dan berbuah sepanjang tahun tanpa terpengaruh musim kemarau maupun penghujan.
“Sebenarnya sistem green house ini awalnya adalah tantangan bagi kami karena perawatan jambu itu sangat ekstra dibandingkan buah lain. Kalau kita punya lebih dari lima pohon dan harus membungkus buahnya satu per satu di waktu yang serentak, rasanya tidak akan mampu tanpa bantuan sistem ini. Tapi hasilnya luar biasa, produksi buah menjadi melimpah dan tidak mengenal musim,”kata Juminto, Jumat (23/1/2026).
Daya tarik Salam Garden kini tidak hanya terpaku pada jambu madu, melainkan juga ragam koleksi buah langka dan varietas impor yang sulit ditemukan di pasar konvensional.
Pengunjung dapat menjumpai Mamey Sapote atau sawo raksasa dengan bobot mencapai 3 kilogram, Black Sapote, Lo Sapote, hingga mangga jenis Kyoja dan alpukat jumbo yang beratnya menembus 2 kilogram per butir.
Keunikan ukuran dan jenis buah inilah yang memancing rasa penasaran wisatawan dari luar kota seperti Surabaya, Purworejo, hingga Depok untuk datang langsung ke pelosok Pacitan.
Label “wisata petik buah” yang kini melekat kuat pada Salam Garden rupanya lahir secara organik dari testimoni para pengunjung yang merasa puas dengan pengalaman memetik buah langsung di lokasi.
Respons positif pasar ini direspons Juminto dengan mengembangkan konsep edukasi, menyediakan bibit unggul, serta memberikan pendampingan bagi petani lain yang ingin membudidayakan tanaman serupa.
“Brand wisata petik buah itu sebenarnya bukan dari kami, tetapi dari pengunjung yang merasakan sendiri sensasi petik buah di sini. Ke depan, harapan kami adalah bisa mewujudkan keinginan teman-teman pengunjung untuk bisa menikmati buah setiap waktu tanpa harus menunggu musim, melalui program pembuahan di luar musim yang sedang kami kembangkan,” jelas Juminto memaparkan visinya.
Kendati menghadapi tantangan berupa perawatan intensif dan serangan hama, Juminto tetap optimis memperluas skala usahanya dari taman menjadi perkebunan komersial.
Saat ini, ia tengah membuka lahan baru khusus untuk mangga dan alpukat guna memenuhi permintaan pasar yang tinggi, sekaligus menghidupkan kembali nilai-nilai kekeluargaan melalui tradisi panen bersama.
“Kualitas dan kuantitas adalah kunci. Kami ingin kualitas tetap terjaga agar pengunjung tidak hanya datang sekali, sementara kuantitas harus ditingkatkan supaya kebutuhan buah-buahan bisa dinikmati kapan saja. Kami ingin menghidupkan kembali nuansa kekeluargaan seperti zaman kakek-buyut dulu, di mana anak cucu berkumpul dan bersenang-senang saat musim panen tiba,” pungkasnya.












