Jawab Tantangan Degradasi Moral Siswa, Pacitan Hadirkan Satu Ekosistem Pendidikan Lewat ‘Sekolah Sak Ngajine’

oleh -143 Dilihat
Sejumlah siswi SMPN 4 Nawangan berjilbab biru dan berseragam batik duduk tertib di bangku kayu di dalam kelas saat mengikuti program Sekolah Sak Ngajine.
SINERGI PENDIDIKAN. Sejumlah siswa SMPN 4 Nawangan tengah mengikuti kegiatan pembelajaran Madrasah Diniyah (Madin) di lingkungan sekolah, Pacitan. Dinas Pendidikan Kabupaten Pacitan terus memperkuat kolaborasi antara pendidikan formal dan lembaga keagamaan guna mencetak standar pembelajaran agama yang berkualitas serta membentengi karakter siswa di jenjang SMP. (Foto: Dok. Dindik Pacitan)

Pacitanku.com, PACITAN — Pemerintah Kabupaten Pacitan melalui Dinas Pendidikan resmi meluncurkan terobosan strategis bernama Program Sekolah Sak Ngajine (SSN) guna membentengi karakter siswa dari dampak negatif era globalisasi dan digitalisasi.

Inisiatif yang mengintegrasikan kurikulum sekolah formal dan Madrasah Diniyah (Madin) dalam satu ekosistem terpadu ini hadir sebagai jawaban atas tantangan degradasi moral serta kebutuhan masyarakat akan pendidikan yang seimbang antara ilmu pengetahuan umum dan nilai-nilai keagamaan.

Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Pacitan, Khemal Pandu, menjelaskan bahwa program ini dirancang secara sistematis untuk memberikan perlindungan mental dan spiritual bagi peserta didik.

Menurutnya, kolaborasi antara sekolah dan Madin tidak hanya menyelaraskan jadwal agar tidak tumpang tindih, tetapi juga menanamkan budaya religius melalui pembiasaan ibadah dan adab yang konsisten, baik di sekolah maupun di rumah.

“Program Sekolah Sak Ngajine merupakan ikhtiar bersama untuk menghadirkan solusi atas permasalahan pendidikan dan sosial kemasyarakatan. Salah satu upaya yang paling efektif adalah memberikan pertahanan akademis, psikologis, dan mental yang baik bagi siswa-siswa kita,”kata Khemal Pandu, Senin (19/1/2026).

Dalam implementasinya, program ini menuntut sinergi kuat antara guru sekolah formal dan ustadz Madin untuk menjadi teladan yang sejalan dalam sikap dan perilaku.

Integrasi nilai-nilai keislaman seperti kejujuran, tanggung jawab, dan toleransi dimasukkan ke dalam pembelajaran sehari-hari.

Selain itu, program ini juga menargetkan peningkatan kesejahteraan tenaga pendidik keagamaan serta standarisasi layanan Madin tanpa menghilangkan kearifan lokal yang sudah ada.

Khemal menekankan bahwa kunci keberhasilan SSN tidak hanya terletak pada institusi pendidikan, melainkan pada keterlibatan aktif ekosistem di luar sekolah.

Peran orang tua dan masyarakat dinilai sangat vital untuk memastikan pendidikan karakter yang diajarkan di sekolah dapat terinternalisasi dengan baik saat siswa berada di lingkungan keluarga dan sosial.

“Orang tua berperan sebagai mitra strategis integrasi sekolah dan Madin dalam menanamkan nilai akhlak di rumah, mendukung kedisiplinan ibadah, serta berpartisipasi aktif dalam evaluasi melalui forum komunikasi,”tambahnya.

Ke depan, Dinas Pendidikan Pacitan optimistis SSN akan menjadi inovasi kebijakan unggulan dalam pembangunan sumber daya manusia daerah.

Dengan dukungan empat pilar pendidikan yakni keluarga, sekolah, masyarakat, dan media, program ini diharapkan mampu mencetak generasi Pacitan yang tidak hanya cerdas secara akademik dan cakap digital, tetapi juga memiliki pribadi tangguh, berakhlak mulia, dan mumpuni dalam spiritualitas.

No More Posts Available.

No more pages to load.