Belajar Otodidak dari Internet, Petani Gen Z Pacitan Sukses Tembus Pasar Luar Jawa Lewat Jamur Kuping

oleh -42266 Dilihat
PETANI MILENIAL. Adhitya Rahman Al Aslam (20) melakukan perawatan rutin di kumbung jamur miliknya di Desa Bangunsari, Kecamatan Bandar, Pacitan. Belajar secara otodidak dari internet, pemuda ini sukses mengembangkan budidaya jamur kuping dengan keuntungan jutaan rupiah per bulan dan memberdayakan warga sekitar. Foto: Anton Febrianto/Pacitanku

Pacitanku.com, BANDAR – Di tengah minimnya minat anak muda pada sektor pertanian, Adhitya Rahman Al Aslam (20), pemuda asal Desa Bangunsari, Kecamatan Bandar, Kabupaten Pacitan, justru membuktikan sebaliknya.

Berbekal ketekunan belajar secara otodidak sejak awal tahun 2024, ia sukses mengembangkan budidaya jamur kuping dan jamur cokelat yang kini menghasilkan keuntungan jutaan rupiah sekaligus mampu memberdayakan ekonomi warga sekitar.

Usaha agribisnis ini bermula dari inisiatif Adhitya memanfaatkan lahan kosong di sekitar rumahnya untuk disulap menjadi kumbung atau rumah jamur.

Dengan modal awal yang terbatas, ia memulai budidaya dari ratusan baglog hingga kini berkembang pesat menjadi ribuan baglog.

Menariknya, seluruh pengetahuan tentang teknik budidaya ini tidak didapatnya dari pendidikan formal, melainkan hasil riset mandiri melalui media sosial, internet, dan diskusi aktif di forum petani jamur.

KOMODITAS UNGGULAN. Tumpukan jamur kuping segar hasil panen dari lahan budidaya milik Adhitya di Desa Bangunsari, Pacitan. Dalam satu periode tanam, usaha rumahan ini mampu memproduksi 5 hingga 10 ton jamur yang dipasarkan hingga ke luar Pulau Jawa dalam bentuk segar maupun kering. Foto: [Anton Febrianto/Pacitanku]

“Awalnya saya coba-coba karena melihat peluangnya cukup bagus. Saya belajar dari video dan forum petani jamur, lalu langsung praktik. Dari situ pelan-pelan paham perawatannya,”kata Adhitya saat ditemui di lokasi kumbung jamur miliknya, Minggu (21/12/2025).

Adhitya memilih fokus pada varietas jamur kuping dan cokelat karena perawatannya yang dinilai relatif mudah serta memiliki permintaan pasar yang stabil.

Produktivitas usahanya pun terbilang tinggi, di mana dalam satu periode tanam ia mampu memproduksi sekitar 5 hingga 10 ton jamur segar.

Untuk memaksimalkan keuntungan, hasil panen tidak hanya dijual dalam kondisi segar, tetapi sebagian juga diolah menjadi jamur kering agar dapat menjangkau pasar yang lebih luas dengan harga jual yang lebih kompetitif.

Terkait harga, Adhitya mematok harga jual jamur segar di kisaran Rp15.000 hingga Rp20.000 per kilogram.

Sementara untuk produk jamur kering, harganya menyesuaikan dengan kualitas dan permintaan pasar yang bisa jauh lebih tinggi.

Dari skema bisnis tersebut, pemuda ini mengaku mampu mengantongi keuntungan bersih hingga jutaan rupiah setiap bulannya.

“Kalau jamur segar biasanya saya jual dengan harga sekitar Rp15.000 sampai Rp20.000 per kilogram, sedangkan jamur kering harganya bisa jauh lebih tinggi tergantung kualitas dan permintaan pasar,”jelasnya.

Jangkauan pemasaran produk jamur milik Adhitya kini telah meluas hingga ke sejumlah daerah di Jawa Timur bahkan menembus pasar luar Pulau Jawa melalui jaringan pengepul dan penjualan langsung.

Keberhasilan usaha ini tidak hanya membawa dampak positif bagi ekonomi pribadinya, tetapi juga menciptakan lapangan kerja bagi lingkungan sekitar.

Inisiatif dan keberhasilan Adhitya ini mendapat apresiasi positif dari pemerintah desa setempat. Semangat, ketekunan, dan inovasi yang ditunjukkan oleh Adhitya diharapkan mampu menjadi pemantik semangat bagi generasi muda lainnya di Pacitan untuk berani terjun berwirausaha.

Saat volume panen melimpah, ia kerap melibatkan tetangga untuk membantu proses perawatan hingga pemanenan.

“Kadang saya dibantu warga sekitar kalau panen sedang banyak. Saya senang karena usaha ini bisa bermanfaat juga untuk orang lain,”pungkasnya.

No More Posts Available.

No more pages to load.