Jelang Nataru 2026, Harga Cabai di Pacitan ‘Pedas’ Tembus Rp90 Ribu per Kilogram

oleh -139 Dilihat
IMBAS CUACA DAN NATARU – Aktivitas jual beli di Pasar Legi, Kebonagung, Pacitan, Rabu (10/12/2025). Para pedagang mulai mengeluhkan "pedasnya" harga bumbu dapur jelang Nataru 2026, di mana faktor cuaca tak menentu menghambat pasokan petani. (Foto: Febriani Cahyaningtias/Pacitanku)

Pacitanku.com, PACITAN – Menjelang perayaan Natal dan Tahun Baru (Nataru) 2026, gelombang kenaikan harga kebutuhan pokok mulai menghantam pasar tradisional di Kabupaten Pacitan.

Komoditas bumbu dapur menjadi sektor yang paling terdampak, di mana harga cabai dilaporkan meroket tajam hingga menyentuh angka fantastis Rp90.000 per kilogram akibat dipicu oleh faktor cuaca ekstrem dan tingginya permintaan konsumen.

Hariyanto, seorang pedagang bumbu dapur yang sehari-hari berjualan di Pasar Legi, Desa Ketro, Kecamatan Kebonagung, mengungkapkan keresahannya atas lonjakan harga yang terjadi secara signifikan dalam sepekan terakhir.

Menurutnya, pergerakan harga yang liar ini sangat terasa pada komoditas bawang merah yang kini telah menanjak ke posisi Rp48.000 per kilogram, padahal sebelumnya harga bawang merah masih stabil di kisaran Rp38.000 hingga Rp42.000 per kilogram.

Kondisi yang lebih mengejutkan terjadi pada komoditas cabai yang harganya melonjak drastis.

Hariyanto menyebutkan bahwa kenaikan harga ini tidak hanya membebani konsumen tetapi juga para pedagang pasar.

Kenaikannya memang ada, terutama pada bumbu dapur, minyak, dan sayuran.

“Untuk bawang merah, yang sebelumnya di kisaran Rp38.000 hingga Rp42.000, sekarang sudah Rp48.000. Dan yang paling terasa itu cabai, sudah tembus Rp90.000,”katanya saat ditemui Pacitanku.com, Rabu (10/12/2025) di Kebonagung.

Pria yang menggantungkan hidupnya dari berdagang bumbu ini menganalisis bahwa penyebab utama melambungnya harga adalah kombinasi antara faktor alam dan siklus tahunan pasar.

Cuaca yang tidak menentu disinyalir menghambat produktivitas panen petani, sementara di sisi lain, animo belanja masyarakat justru meningkat pesat menyambut momen akhir tahun.

“Penyebabnya kemungkinan besar adalah faktor cuaca yang terus menerus tidak menentu,”tandasnya.

Di sisi lain, permintaan juga tinggi sekali menjelang Nataru 2026 ini, makanya harganya melambung tinggi.

Mengenai proyeksi harga ke depan, Hariyanto memperkirakan tren kenaikan masih berpotensi terjadi meski dalam skala yang tidak terlalu signifikan.

Ia memprediksi grafik harga baru akan melandai dan kembali stabil ke level normal setelah masa libur perayaan Nataru usai.

Sebagai pelaku usaha kecil, ia menaruh harapan besar agar pemerintah dapat menjaga stabilitas harga dan memastikan ketersediaan stok di pasaran agar roda perekonomian rakyat tetap berputar.

“Harapan saya ke depannya harga stabil lagi dan stok mencukupi, sehingga ekonomi pedagang akan makmur,”pungkasnya.

No More Posts Available.

No more pages to load.