Pacitanku.com, PACITAN – Kecamatan Tulakan turut menyemarakkan Festival Ronthek Pacitan 2025 dengan penampilan memukau dari kelompok “Pring Sedapur”.
Mengusung tema “Gerhana Bulan,” Ronthek Tulakan yang tampil pada Senin (7/7/2025) malam tidak hanya menyajikan fenomena astronomi, tetapi juga kritik sosial yang mendalam.
Fenomena gerhana bulan, meskipun merupakan kejadian astronomi, diyakini oleh sebagian besar masyarakat Kecamatan Tulakan masih berkaitan dengan mitos bulan yang ditelan raksasa serakah.
Dalam kepercayaan tersebut, raksasa-raksasa ini menimbulkan suasana mistis, sehingga masyarakat serentak memukul alat bunyi-bunyian seperti kentongan dan lesung agar raksasa (buto) ketakutan dan melepaskan bulan.
Lebih dari itu, “Gerhana Bulan” juga disimbolkan sebagai keserakahan masif para penguasa yang menimbulkan kegelapan dan kegelisahan di tengah masyarakat. Oleh karena itu, diperlukan kerja sama yang kompak atau
nyawiji, menghilangkan rasa “Sopo Siro, Sopo Ingsun” (siapa kamu, siapa saya) demi terciptanya Manunggaling Kawula Gusti, sehingga tercipta cahaya keindahan yang tidak tersandera oleh arogansi penguasa.
Roni, koordinator Ronthek Kecamatan Tulakan, menegaskan bahwa timnya menaruh perhatian besar pada keterlibatan generasi muda dalam upaya melestarikan budaya dan meregenerasi pelaku seni tradisi.

“Kami mencoba anak-anak muda yang masih di SMP-SMA yang ada di Tulakan, sehingga ke depannya mereka akan paham dan secara mandiri melestarikan ronthek yang merupakan kesenian khas Pacitan dan sudah menjadi kalender tahunan kita,” ujarnya.
Pemilihan nama “Pring Sedapur” sendiri bukan tanpa alasan. Nama ini mengandung filosofi kebersamaan yang menjadi semangat utama dalam penampilan Ronthek Tulakan tahun ini.
“Pring itu kan satu-satu, kalau Sedapur berarti semua. Makanya ini melambangkan kalau Ronthek ini bukan Ronthek dari salah satu desa di Kecamatan Tulakan, tapi Rontheknya Kecamatan Tulakan,” jelas Roni.
Roni menambahkan, pemilihan tema “Gerhana Bulan” dilatarbelakangi kepercayaan masyarakat Tulakan bahwa fenomena ini memiliki makna terkait keserakahan. “Buto ini kami maksudkan sebagai penguasa dan bulan ini kita dan alam semesta. Jadi ketika Buto nyaplok bulan ini kami maknai sebagai simbol yang saat ini ada, tentang bagaimana penguasa sekarang banyak yang korupsi,” tuturnya.
Meski unsur horor belum sepenuhnya tergambarkan dalam pertunjukan, Roni menegaskan bahwa esensi dari tema tetap tersampaikan.
“Gerhana Bulan tidak harus horor yang penting intinya bahwa penguasa harus diberi warning untuk tidak lagi main coba-coba dengan rakyat kecil,” tegasnya.
Sebagai bentuk apresiasi dan harapan ke depan, Roni menekankan peran penting pemerintah dalam menjaga keberlangsungan budaya lokal seperti Ronthek.
“Terima kasih kami sampaikan kepada pemerintah, karena ini budaya, kalau pemerintah tidak ikut turun tangan, budaya ini akan mati. Event seperti Festival Ronthek ini sangat penting dan harus terus ada setiap tahun, siapapun pemimpinnya nanti. Kami berharap kegiatan budaya lainnya juga bisa terus diadakan dan dikembangkan,” pungkasnya.











