Waduh, 19 Warga Pacitan Positif Terjangkit Antraks

oleh -Dibaca 1.482 kali

Pacitanku.com, PACITAN – Penyakit antraks wajib diwaspadai. Sebab, sudah ada tiga temuan warga Pacitan yang positif terjangkit antraks. Masyarakat perlu untuk lebih memerhatikan keamanan saat berinteraksi dengan hewan ternak atau saat beraktivitas di sekitar kandang ternak.

Luka terbuka di kulit bisa menjadi pintu masuknya bakteri bacillus anthracis untuk menginfeksi tubuh. ‘’Wajib menjaga kebersihan lingkungan yang dekat dengan kandang ternak, dan jika perlu, memakai alat pelindung diri (APD),’’ ujar Plt Kepala Dinkes, dr. Eko Budiono, dilansir Radar Madiun pada Senin (24/4/2017).

Tiga temuan positif antraks tersebut, diketahui dari 21 warga yang diobservasi oleh tujuh puskesmas. Sebanyak, 19 warga, di antaranya dinyatakan suspect. Menurut Eko, perbandingan satu positif dari tujuh warga yang telah terobservasi, menandakan tingkat infeksi penyakit tersebut mendekati tinggi.

Ke-21 warga yang telah diobservasi awalnya memiliki gejala mengarah pada penyakit antraks. Selain panas yang melebihi normal, mereka juga memiliki riwayat kontak dengan hewan ternak. ‘’Indikator yang paling utama, panas tubuh dan riwayat kontak,’’ sebutnya.

Uniknya, beberapa sample tanah di lokasi temuan suspect antraks dinyatakan negatif oleh tim peneliti dari Universitas Airlangga (Unair) dan Universitas Indonesia (UI). Artinya, juga ada kemungkinan warga yang positif antraks itu terjangkit saat berada di luar Pacitan. ‘’Hasil uji lab dinyatakan negatif. Sehingga masyarakat juga tidak perlu terlalu risau. Namun, tetap tidak boleh mengabaikan kewaspadaan,’’ jelasnya.




Menurut Eko, masyarakat perlu untuk tetap waspada. Selain harus menjaga kebersihan lingkungan tempat tinggal dan kandang ternak, mereka juga harus lebih proaktif menjaga diri. Hasil negatif di sejumlah sample tanah yang dikirim ke Unair dan UI tidak menjamin tanah di Pacitan terbebas dari antraks.

Agar lebih aman, penyembelihan hewan ternak sebaiknya dilakukan di rumah pemotongan hewan (RPH). Disana, ada standar pengecekan kesehatan sebelum hewan ternak disembelih. ‘’Ketika kontak dengan hewan ternak, diusahakan mengenakan APD. Toh, bakteri antraks tidak bisa menembus benda seperti plastik. Tidak ada salahnya melindungi diri, agar persebaran penyakitnya juga semakin diminimalisir,’’ terang Eko.

Penyebaran penyakit antraks ini sendiri terbilang kompleks. Pada suatu wilayah yang warganya terjangkit antraks, belum tentu hewan ternak di wilayah yang sama terjangkit penyakit tersebut. Begitu pula sebaliknya.

Sebagai contoh, salah satu penderita positif antraks di Kecamatan Tulakan, Pacitan  ternyata terjangkit antraks sewaktu dia bekerja di Sumatera. Dinas Pertanian (Disperta) memastikan, wilayah yang hewan ternaknya telah positif terjangkit antraks hanya di tiga kecamatan. Yakni, Pringkuku, Donorojo, dan Punung.

Total ada sembilan sapi yang sudah positif selama satu tahun terakhir. ‘’Yang paling baru di Sobo, Pringkuku, ada temuan satu sapi meninggal dengan suspect antraks. Namun, ternyata negatif,’’ terang Kepala Disperta, Pamuji.

Menurut Pamuji, penularan antraks ternyata tidak hanya bisa dari hewan ternak ke manusia. Sebaliknya, manusia pun bisa menularkan antraks ke hewan ternak. Hanya, pintu masuk penularan tersebut tidak banyak.

Antraks paling bisa menular melalui luka pendarahan terbuka pada fisik. Itu pun, juga tergantung daya tahan tubuh hewan atau manusia yang jadi sasaran penularan. ‘’Jika daya tahannya baik, masih ada kemungkinan bakterinya mati, dan gagal hidup di tubuh sasaran penularan,’’ ujarnya.

Pamuji mengatakan, upaya yang paling penting untuk meminimalisir penularan antraks adalah dengan menelusuri riwayat pembelian hewan ternak. Hewan-hewan ternak yang berasal dari daerah positif antraks seperti Wonogiri, patut dicurigai membawa bakteri tersebut.

Para peternak wajib lebih jeli dalam melakukan transaksi. Terlebih, migrasi hewan ternak cenderung begitu mudah. ‘’Bahkan, dari satu desa ke desa lain, sapi ternak mudah ditransaksikan,’’ kata Pamuji.

Upaya pencegahan kedua, adalah dengan melakukan vaksinasi. Pamuji menyebut, vaksinasi hewan ternak dilakukan sampai tiga ring. Di wilayah yang masuk ring satu, atau lokasi positif antraks, vaksinasi hewan ternak bahkan dilakukan sampai tiga kali.

Total, ada 24 ribu populasi sapi di Pacitan. Sebanyak delapan ribu diantaranya sudah divaksinasi. Pamuji menyebut, upaya vaksinasi akan terus dilakukan berkala, untuk semakin memperkecil peluang penularan antraks.

‘’Kami juga meminta para peternak untuk segera melaporkan ke desa dan Dinas Pertanian, jika ada gejala kematian hewan ternak seperti antraks. Jika cepat diketahui, dapat segera diuji lab dan dipastikan apakah hewan tersebut benar positif antraks atau tidak,’’ ujarnya. 

Sumber: Radar madiun