Jalan ke Sekolah Putus, Guru di Tegalombo Terpaksa Jalan Kaki Lewat Hutan 3 Km

oleh -Dibaca 1.752 kali
Jalur di Desa Gedangan terputus, sehingga guru terpaksa jalan kaki lewati hutan. (Foto: Bambang El Pacitano)
Jalur di Desa Gedangan terputus, sehingga guru terpaksa jalan kaki lewati hutan. (Foto: Bambang El Pacitano)

Pacitanku.com, TEGALOMBO – Bencana tanah longsor sepertinya menjadi momok bagi sebagian masyarakat Pacitan. Salah satu yang cukup mengkhawatirkan adalah bencana tanah longsor yang terjadi di Desa Gedangan, Kecamatan Tegalombo yang terjadi pada Kamis (8/12/2016) malam lalu.

Akibat tanah longsor tersebut, akses ke beberapa dusun di Desa Gedangan terputus, salah satunya adalah terputusnya akses pendidikan menuju ke Sekolah Dasar Negeri (SDN) Gedangan I. Akibatnya, para guru harus bertukar sepeda motor dengan warga sekitar yang hendak turun jika ingin melanjutkan menuju ke sekolah.

Jika tidak ada warga yang bisa diajak bertukar sepeda motor, maka terpaksa para pendidik tersebut harus berjalan kaki melewati hutan sekitar 3 hingga 4 kilometer untuk melaksanakan kewajiban mengajarnya.

“Karena jalan ke tempat kerja (SDN Gedangan I) terputus karena longsor, maka lewat hutanlah yang harus dilalui sejauh 3 km setelah longsoran,”kata Isnandir, Pengawas Unit Pelaksana Teknis (UPT) TK/SD Kecamatan Tegalombo, baru-baru ini.

Tak hanya guru, para siswa yang hendak ke sekolah pun terpaksa berjalan kaki sejauh 4 km untuk menuju ke jalan raya. “Saya dan teman-teman harus berjalan sekitar 4 km untuk menuju jalan raya untuk bisa bersekolah,”kata Refita, siswa kelas IX Sekolah Menengah Pertama Negeri (SMPN) I Tegalombo, saat ditemui Pacitanku.



Seorang guru terpaksa jalan kaki melewati titik longsor menuju SDN Gedangan 1. (Foto: Isnandir)

Sebagai informasi, Desa Gedangan adalah salah satu titik rawan longsor di Pacitan. Pada Sabtu (3/12/2016) sekitar pukul 02.00 dini hari WIB di Desa Gedangan material longsor menutup seluruh badan jalan. Setelah dilakukan proses pembersihan material oleh pihak yang berwajib, akhirnya jalur bisa dilalui. Bencana tanah longsor tak jauh dari  kawasan tersebut kembali terjadi sepekan kemudian.

Seiring meningkatnya curah hujan maka bencana akan meningkat pula. Puncak hujan berlangsung Desember 2016 hingga Februari 2017. Daerah-daerah rawan banjir, longsor dan puting beliung berpotensi tinggi mengalami bencana. Risikonya tinggi karena kerentanan juga masih tinggi sementara itu kapasitas masih terbatas.

“Masyarakat dihimbau untuk meningkatkan kesiapsiagaannya. Cermati peringatan dini cuaca dari BMKG. Perhatikan kondisi lingkungan di sekitar yang dapat berpotensi menimbulkan bencana. Bencana terjadi saat kita tidak siap,”pesan Kepala pusat data, informasi dan Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Sutopo Purwo Nugroho. (RAPP002)

Pewarta: Bambang El Pacitano