Hari AIDS Sedunia, Jangan Jauhi ODHA, Waspadai Penyebarannya

oleh -13830 views

Pacitanku.com, PACITAN – Setiap 1 Desember setiap tahunnya, seluruh elemen masyarakat di banyak negara memperingati Hari AIDS Sedunia. Hal itu dilakukan untuk menumbuhkan kesadaran terhadap wabah AIDS di seluruh dunia.

Sejatinya, Hari AIDS Sedunia pertama kali dicetuskan pada Agustus 1987 oleh James W. Bunn dan Thomas Netter, yang merupakan dua pejabat informasi masyarakat untuk Program AIDS Global di World Health Organization (WHO) milik PBB di Jenewa, Swiss.

Namun, konsep untuk memperingati hari menumbuhkan kesadaran terhadap wabah AIDS itu digagas pada Pertemuan Menteri-Menteri Kesehatan Sedunia yang membahas mengenai program-program untuk pencegahan AIDS pada 1988. Sejak saat itulah, organisasi-organisasi internasional dan yayasan amal di seluruh dunia mulai memperingati Hari AIDS Sedunia setiap tanggal 1 Desember.

Seperti dilansir dari Daily Times, Selasa (1/12/2015), peringatan Hari AIDS Sedunia dilakukan dengan berbagai aksi dan kegiatan sosial yang dilakukan oleh berbagai komunitas di seluruh dunia. Kegiatan sosial itu biasanya meliputi kampanye di jalan-jalan ibukota masing-masing negara, hingga melakukan kegiatan amal untuk membantu meringankan beban materi maupun psikologis pada penderita virus HIV AIDS, atau yang dikenal dengan ODHA (Orang Dengan HIV AIDS).

Hingga kini, ilwuman di seluruh dunia belum ada yang menemukan cara untuk mengobati HIV AIDS. Jadi, seluruh komunitas internasional merasa penting untuk selalu meningkatkan kesadaran masyarakat tentang bahaya virus ini. Namun, juga tidak mengucilkan para penderita yang sudah terkena virus mematikan itu.

Peningkatan yang mengkhawatirkan mengenai penyebaran AIDS di kalangan remaja adalah salah satu alasan mengapa penting untuk tidak berpuas diri mengenai HIV dan AIDS, kata Direktur UNAIDS New York Simon Bland kepada wartawan, Senin (30/11). “Kita perlu khawatir mengenai remaja –kita telah menyaksikan berlipat-tiganya angka kematian di kalangan remaja sejak awal milenium ini,” kata Bland dalam satu taklimat di Markas Besar PBB, New York, sebelum Hari AIDS Dunia pada 1 Desember.

“Ini bukan waktunya bagi bergembira, ini bukan waktunya untuk berpuas diri,” kata Bland, sebagaimana dikutip Xinhua –yang dipantau Antara di Jakarta, Selasa siang. “Setiap tahun, dua juta orang terinfeksi, lebih dari satu juta orang meninggal, dan di beberapa bagian dunia hanya ada sedikit harapan, atau tidak ada harapan sama sekali.” Bland mengatakan HIV/AIDS adalah penyebab terbesar kedua kematian bagi remaja secara global dan ada 26 penularan baru di kalangan remaja setiap jam.

Gadis remaja secara tak seimbang terinfeksi, katanya, sehingga tujuh dari 10 penularan baru secara global, yang sangat dipengaruhi oleh angka tinggi penularan di kalangan anak perempuan di Sub-Sahara Afrika. “kami tahu di Sub-Sahara Afrika, sangat banyak penularan baru terjadi di kalangan anak perempuan dan perempuan muda,” katanya.

Separuh anak perempuan itu berada di enam negara, Afrika Selatan, Nigeria, Kenya, India, Mozambik dan Tanzania, katanya. Bland mengatakan penting untuk memahami perbedaan tersebut dan tak ada bagian di dunia tempat kegiatan untuk menangani AIDS diselesaikan.

Bland mengatakan jumlah saat ini dari Tiongkok adalah “keprihatinan nyata”. Pusat Tiongkok bagi Pencegahan dan Pengawasan Penyakit (CDC Tiongkok) menyatakan ada 575.000 orang hidup dengan HIV-AIDS (PLWHA) sampai akhir Oktober tahun ini dan 177.000 kematian.

Jangan Jauhi ODHA

Di Pacitan, Jawa Timur, Dinas Kesehatan (Dinkes) Pacitan merilis jumlah penderita HIV AIDS pertengahan September 2015 lalu  mencatat jumlah penderita HIV AIDS baru di kabupaten Pacitan mencapai 13 orang dengan HIV/AIDS (ODHA). Jumlah ini meningkat lima ODHA dibandingkan data yang dikeluarkan Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Pacitan pada bulan Maret lalu, dimana RSUD setempat mencatat bahwa sepanjang bulan Januari hingga Maret 2015 ditemukan 8 ODHA.

Dari 13 ODHA, tujuh diantaranya sudah meninggal dunia. Dengan bertambahnya angka ODHA, dipastikan jumlah kasus HIV AIDS sejak tahun 2007 hingga saat ini telah mencapai angka 160. 50 persen dari jumlah itu diketahui telah meninggal dunia. Sementara sekitar 80 orang penderita yang saat ini masih bertahan hidup terus mendapat perawatan dan pengobatan intensif.

Direktur Utama (Dirut) RSUD Pacitan, Iman Darmawan beberapa waktu lalu menghimbau agar warga masyarakat setia kepada pasangan masing – masing dan mau peduli dengan seks aman. Di antaranya, tidak melakukan seks bebas dan tidak berganti-ganti pasangan. 

Menurut dia, penderita AIDS tidak harus perempuan yang berganti-ganti laki-laki. Bisa saja perempuan baik-baik tertular dari suaminya yang sering ”jajan” di luar. ‘’Hingga nanti hamil, anaknya juga rawan tertular HIV/AIDS,’’ katanya.

Sebab, diketahui, penyebab mereka tertular penyakit ini lantaran hubungan seksual. Dia mencontohkan, ketika salah seorang di antara keluarga mereka bekerja di luar daerah seperti Surabaya atau Jakarta berhubungan badan dengan orang lain.

Selain itu, masyarakat Pacitan diminta memperlakukan korban atau keluarga korban HIV AIDS seperti masyarakat pada umumnya. Sebab, secara psikologis para penderita HIV AIDS dipastikan sudah meraskan beban luar bias berat.

ODHA ataupun keluarganya diminta diperlakukan seperti warga pada umumnya. Karena, dipastikan, jika psikologis ODHA semakin tertekan, maka penderitaan akan semakin bertambah. Penyakit HIV/AIDS sendiri tidak serta merta langsung menular jika masyarakat berinteraksi dengan para penderita HIV/AIDS. (RAPP002)