Guru Penjas Alumni UNY Asal Pacitan ini Berbagi Kisah Sukses SM3T di Negeri Serambi Mekkah

oleh -Dibaca 3.152 kali
Pendidikan
Pendidikan
Sopan Fitriani. (Foto : FB)
Sopan Fitriani. (Foto : FB)

Pacitanku.com, PACITAN—Sopan Fitriani, alumni jurusan Pendidikan Jasmani, Kesehatan dan Rekreasi (PJKR) Fakultas Ilmu Keolahragaan (FIK) Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) ini mendapatkan pengalaman mengesankan. Pengalaman tersebut didapat Sopan saat berkesempatan menjadi guru dalam program Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) yang dinamakan Sarjana Mendidik di daerah Terdepan, Terluar, dan Tertinggal (SM3T) pada tahun 2014 lalu.

Perempuan yang berasal dari Sepatan, Mangunharjo, Arjosari ini ditempatkan di SDN 2 Terangun, Gayo Lues, Nanggroe Aceh Darusalam, dan disinilah petualangan dan jiwa seorang pendidik dalam diri Sopan mulai tumbuh dan berkembang pesat. Kepada Portal Pacitanku, Sopan berkisah tentang pengalamannya mengajar di negeri serambi mekkah.

“Saat itu yang paling mengesankan bagi saya adalah ketika masuk ke sebuah sekolah di pedalaman NAD dan melihat siswa yang sangat berbeda dengan siswa yang pernah saya temui di Jawa, yang pertama berbeda dalam penampilan, banyak siswa yang masih memakai sandal jepit dengan baju kumal tak terurus, tapi tak lama saya menyadari hal itu,” jelasnya kepada Portal Pacitanku, Selasa (3/2/2015).

Lebih lanjut, perempuan yang semasa kuliah lebih banyak berkutat dengan materi seputar olah fisik ini menyampaikan pengalaman mengajar lima siswa di SDN tersebut. “Pengalaman selanjutnya adalah kemudian ketika saya diberi tugas mengajar kelas 4 SD saya kaget bahwa ada 5 siswa yang belum lancar membaca dan menulis apalagi berhitung. bahkan ada yang sama sekali tidak dapat membaca huruf,” papar Sopan.

Diketahui, lima siswa istimewa tersebut adalah Adi, Nasir, Aliyah, Iskandar, dan Kawi. Iskandar dan Kawi adalah siswa kelas empat SDN 4 Terangun yang sama sekali tidak bisa membaca dan tulisannya pun belum bisa dibaca.

“Saya kira murid saya yang biasa saya sebut istimewa itu memiliki kelainan atau penyakit tertentu. ternyata setelah pendekatan yang intensif ternyata mereka belum bisa bahkan tidak bisa karena tidak belajar,” tandasnya.

Namun demikian, Sopan juga mengaku berlebihan jika disebut dirinya sukses mengajari kelima anak tersebut sukses baca tulis. “karena keterbatasan waktu saya berada disana, banyaknya siswa (satu kelas 28 siswa-red) dan keadaan yang membuat saya kurang maksimal dalam memfasilitasi mereka, karena selain kegiatan sekolah banyak kegiatan dimasyarakat yang harus diikuti peserta SM3T,” ungkap Sopan.

Kerja keras Sopan untuk mengajari kelima anak tersebut baca tulis membuahkan hasil. Meski belum sempurna, namun hingga Sopan pulang dari program SM3T, ada perkembangan dialami kelima anak tersebut.

“Sampai saya pulang sebagian dari kelima siswa saya yang istimewa masih belum bisa dikatakan sempurna bisa baca tulis, tapi setidaknya mereka bisa mengikuti pelajaran dengan tidak tertinggal terlalu jauh dengan teman-temannya,” pungkasnya.

Berkat Sopan pula, dengan metode pembelajaran efektif untuk meningkatkan kemampuan para siswa, hasil yang diperoleh pun terbilang membanggakan. Nilai rata-rata anak – anak istimewa tersebut naik dan mereka menjadi lebih aktif belajar.

Selamat bu guru Olahraga.

(DPPP001)