Sego Gobyos, Kuliner dengan Sensasi “Hot” khas Pacitan

oleh -104.393 views
Sego Gobyos Pacitan. (Foto : Dwi Purnawan/Pacitanku)
Kuliner Pacitan, Sego Gobyos Pacitan. (Foto : Dwi Purnawan/Pacitanku)

Pacitanku.com, PACITAN – Gobyos, adalah kata dalam bahasa jawa yang berarti kondisi tubuh sedang panas dan penuh dengan keringat. Biasanya kondisi gobyos atau sumuk terjadi manakala tubuh sedang lelah akibat melakukan aktivitas olahraga, sehingga produksi keringat akan meningkat dari biasanya. Namun gobyos juga terjadi saat anda mencoba menu kuliner khas Pacitan ini, sego Gobyos.

Sego Gobyos, sebutan untuk kuliner khas Pacitan ini memang membuat pecinta makanan pedas tak kuasa menahan hasrat untuk mencicipinya. Kuliner satu ini memang cukup asing terdengar di telinga, namun begitu anda merasakannya, seluruh tubuh anda dijamin akan gobyos dan penuh keringat, dikarenakan pedasnya kuliner satu ini.

Sego Gobyos Pacitan bisa anda dapatkan di kawasan Penceng Pacitan. Biasanya sang penjual mulai menjajakan sego gobyos sekitar pukul 18.30 WIB hingga tengah malam.

Bahan baku sego gobyos ini sebenarnya sangat sederhana, yaitu terdiri dari campuran nasi plus sayur daun keningkir, serta tambahan lauk yang bisa dipilih, seperti tahu, tempe bacem, kerupuk, hingga opor ayam.

Namun yang unik adalah kuah khusus gobyos yang membuat kuliner ini beda dari yang lainnya. Kuah khusus ini diberi ramuan khusus berupa cabe yang cukup banyak agar sensasi pedasnya terasa.

Yang membuat sego gobyos sulit dilupakan rasanya adalah rasa pedas yang bersumber dari kuah gobyos, berpadu dengan rasa pahit dari lalapan keingkir, dan berpadu dengan kelezatan bumbu – bumbu racikan yang begitu nikmat. Untuk kisaran harga dari sego gobyos pun tergantung dari lauk yang digunakan, yakni kisaran 5 ribu hingga 10 ribu rupiah.

Anda mau mencicipi sego gobyos, satu dari sekian banyak kuliner Pacitan? Datang saja ke kawasan Penceng di waktu malam hari, dijamin anda akan merasakan sensasi gobyos dan bermandikan keringat, dengan harga yang cukup miring. Selamat menikmati.

Redaktur/Foto : Dwi Purnawan