Tahun ini Dua Dokter Spesialis Masuk Pacitan

oleh -1.411 views
dokter spesialis (Foto : IST)
dokter spesialis (Foto : IST)
dokter spesialis (Foto : IST)
dokter spesialis (Foto : IST)

Pacitanku.com, PACITAN – Kemajuan pembangunan di Pacitan semakin pesat seiring  Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) menjadi Presiden RI. Berbagai infrastruktur telah dibangun.  Namun, bagi para dokter spesialis, Pacitan tetap tidak menarik untuk ditinggali. Hanya dokter-dokter spesialis berjiwa pengabdi yang mau bertugas di Pacitan. Jumlah mereka pun tidak banyak. Hanya belasan.

“Terus terang, kami kekurangan dokter untuk semua bidang spesialis,” ujar Eko Budiono, Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Pacitan, seperti dikutip dari Kompas, baru – baru ini.

Eko mengungkapkan butuh waktu panjang untuk berburu dokter-dokter yang disebutnya sebagai pengabdi. Semangat pengabdianlah yang membuat mereka rela dan betah bertahan di Pacitan, kota kecil yang banyak disebut sebagai daerah ‘terisolasi’.

Sebutan terisolasi itu merujuk pada sulitnya akses transportasi di Pacitan. Keluar-masuk harus melewati jalur sempit, berkelok, dan naik-turun punggung perbukitan. Alat tranportasi umum pun terbatas.

Kondisi inilah yang membuat warga Pacitan jarang bersua dengan saudara atau sesama warga Jatim di kabupaten lain. Mereka malah lebih akrab dengan warga kota tetangganya, di Jateng.

Maklum, kota ini berada di ujung barat, berbatasan dengan Wonogiri, Jateng. Bagi kebanyakan dokter spesialis, daerah seperti ini tak menguntungkan. Mereka lebih senang berkerumun di Surabaya dan kota-kota besar lain, seperti Malang dan Sidoarjo.

“Tahun ini kami bersyukur. Ada dua dokter spesialis baru masuk,” ungkap Eko sembari tersenyum.

Mereka berdua merupakan dokter spesialis penyakit dalam pertama yang berstatus sebagai putra daerah Pacitan. Yang paling dibutuhkan di Pacitan saat ini, kata Eko, adalah dokter spesialis anak, anastesi, radiologi, dan syaraf.

Jumlah mereka saat ini baru satu orang di masing-masing keahlian. Dokter anestesi hanya satu orang, padahal semua tindakan bedah sangat membutuhkan keahliannya. Begitu juga untuk penanganan di UGD.

Redaktur : Robby Agustav