Pacitanku.com, PACITAN – Psikolog Forensik dan Klinis, Denti Putri Agung Bayu Wardani, mengungkap tingginya kasus depresi yang memicu fenomena “barcode” atau self-harm di kalangan anak muda Pacitan.
Fenomena melukai diri sendiri ini utamanya dipicu oleh besarnya tekanan lingkungan, tuntutan sosial, serta kurangnya kelengkapan peran pengasuhan (parenting) dari orang tua.
Fakta tersebut diungkapkan Denti -sapaan akrabnya- saat menjadi narasumber dalam siniar Kertas Kosong episode 58 di kanal YouTube Pacitanku, baru-baru ini.
Sebagai tenaga profesional, ia mengaku terkejut dengan tingginya intensitas gangguan kesehatan mental yang melanda warga di wilayah tersebut.
Tindakan self-harm atau menyakiti diri sendiri, yang populer di kalangan remaja dengan istilah “barcode” karena bentuk luka sayatan yang menyerupai kode garis, kini semakin marak.
Sebagian besar kasus ini melibatkan remaja berusia 12 hingga 19 tahun yang memilih menyayat pergelangan tangan untuk mengatasi rasa frustrasi dan emosi negatif.
“Banyak banget kasus-kasus yang stresnya lebih mengarah ke depresi. Bahkan, maaf nih, anak-anak muda itu banyak banget yang barcode,”kata Denti memaparkan kondisi di lapangan, dikutip dari laman Youtube Pacitanku TV, Selasa (5/5/2026).
Menurut pemilik lembaa konsultasi Psyche Consulting ini, para pelaku self-harm cenderung kesulitan mengekspresikan trauma dan tekanan psikologis.
Di Pacitan, tingginya standar sosial masyarakat serta pesatnya perkembangan teknologi memperburuk keadaan.
Remaja yang memiliki kepribadian tertutup (introvert) kerap merasa kewalahan mengikuti tren (Fear of Missing Out/FOMO) dan tuntutan netizen yang tidak sesuai dengan kapasitas diri mereka.
Selain faktor lingkungan, akar masalah fenomena ini juga ditarik dari kondisi internal keluarga. Kurangnya kehadiran emosional orang tua membuat anak kehilangan tempat bersandar saat menghadapi krisis.
“Kebanyakan yang begini itu biasanya secara parenting-nya kurang mendapatkan pengasuhan yang utuh dari figur ayah dan figur ibu,”tambahnya.
Apabila tidak segera ditangani, perilaku ini berisiko menimbulkan kecanduan luka dan bahaya fisik yang fatal.
Dalam penanganannya, remaja yang menunjukkan tanda-tanda self-harm, seperti memiliki luka sayatan atau mulai menarik diri dari lingkungan sosial, memerlukan intervensi segera.
Langkah awal yang direkomendasikan adalah melakukan konsultasi dengan psikolog atau psikiater, serta membangun sistem dukungan (support system) yang kuat dari keluarga dan teman terdekat.
Video Waspada Red Flags! Kenali Tanda Bahaya Teman & Pasangan Toxic Bersama Psikolog Pacitan | Eps. 58








