Jadi Pilot Project, Program SSN Integrasikan Kurikulum Madin di Pacitan

oleh -132 Dilihat
Ratusan pelajar Pacitan antusias mengikuti peluncuran program Sekolah Sak Ngajine (SSN) di Pendopo Kabupaten.
Sejumlah siswa sekolah formal di Pacitan menunjukkan antusiasme saat mengikuti rangkaian peluncuran program Sekolah Sak Ngajine (SSN) yang dirangkaikan dengan semaan Al-Qur'an 30 juz di Pendopo Kabupaten, Selasa (10/3/2026). (Foto: Sulthan Shalahuddin/Pacitanku)

Pacitanku.com, PACITANPemerintah Kabupaten Pacitan resmi meluncurkan program Sekolah Sak Ngajine (SSN) pada Selasa (Selasa (10/3/2026) di Pendopo Kabupaten Pacitan.

Program SSN ini mengintegrasikan pembelajaran Madrasah Diniyah (Madin) ke dalam kurikulum sekolah formal guna memastikan seluruh siswa muslim mampu membaca Al-Qur’an, .

Peluncuran program ini dirangkaikan dengan peringatan Nuzulul Quran melalui kegiatan semaan Al-Qur’an 30 juz yang melibatkan ratusan siswa.

Program SSN ini menempatkan materi keagamaan seperti baca tulis Al-Qur’an dan ilmu fikih sebagai bagian dari jam pelajaran di sekolah umum.

Penasehat Forum Komunikasi Diniyah Takmiliyah (FKDT) Jawa Timur, K.H. Luqman Harist Dimyati (Gus Luqman), menyatakan bahwa SSN merupakan wujud nyata pengamalan Undang-Undang Pesantren.

K.H. Luqman Harist Dimyati (Gus Luqman) menandatangani dokumen Deklarasi Sekolah Sak Ngajine (SSN) Pacitan.
Penasehat FKDT Jawa Timur, K.H. Luqman Harist Dimyati, membubuhkan tanda tangan dalam Deklarasi Sekolah Sak Ngajine (SSN) sebagai bentuk komitmen dukungan pesantren terhadap program unggulan Pemkab Pacitan, Selasa (10/3/2026). (Foto: Sulthan Shalahuddin/Pacitanku)

Baca juga: Jawab Tantangan Degradasi Moral Siswa, Pacitan Hadirkan Satu Ekosistem Pendidikan Lewat ‘Sekolah Sak Ngajine’

Menurutnya, program ini sangat krusial karena selaras dengan fitrah dasar umat Islam dan nilai-nilai kebangsaan.

“Sebagai umat Islam, kita tahu bahwa Al-Qur’an adalah kitab suci. Bagaimana generasi kita ke depan, anak-anak kita—khususnya umat Islam—harus bisa membaca Al-Qur’an. Ini adalah nilai-nilai yang sangat Pancasilais sekali. Mau tidak mau, anak-anak kita yang beragama Islam wajib bisa membaca Al-Qur’an. Itu hal yang mutlak,”kata Gus Luqman saat dikonfirmasi awak media.

Pengasuh Perguruan Islam Pondok Tremas tersebut juga menegaskan dukungan penuh dari kalangan pesantren terhadap inovasi pendidikan ini.

Ulama yang juga Ketua Umum Gerakan Nasional (Gernas) Ayo Mondok periode 2025–2030 ini menyebut Pacitan menjadi daerah pionir yang diharapkan menjadi percontohan bagi wilayah lain.

“Kami dari pesantren, secara umum, saya katakan ‘1.000 triliun persen’ sangat mendukung program Sekolah Sak Ngajine (SSN) ini. Entah bagaimana caranya, ini harus berjalan,”tegasnya.

Untuk mendukung keberlanjutan program, Pondok Tremas telah ditetapkan sebagai ‘markas besar’ atau pusat koordinasi, baik untuk sekretariat maupun pusat pertemuan teknis guru-guru Madin se-Kabupaten Pacitan.

Acara ini dihadiri langsung oleh Bupati Pacitan Indrata Nur Bayuaji, jajaran Forkopimda, Sekretaris Daerah, serta pimpinan perangkat daerah dan instansi vertikal lainnya.

Video SEKOLAH SAK NGAJINE: Inovasi Pendidikan Pacitan untuk Indonesia

No More Posts Available.

No more pages to load.