Melalui Filosofi ‘Handarbeni’, Aipda Latip Utomo Mengabdi dengan Hati di Pacitan

oleh -164 Dilihat
Aipda Latip Utomo, Bhabinkamtibmas Desa Kalikuning, menggendong seorang anak penyandang disabilitas saat menjalankan program "Peduli dan Berbagi". Program ini merupakan wujud nyata filosofi "handarbeni" atau rasa memiliki yang ia terapkan, di mana sebagian penghasilannya disisihkan untuk membantu warga kurang mampu dan disabilitas di wilayahnya. (Foto: Dok Istimewa for Pacitanku)

Pacitanku.com, TULAKAN — Di bawah teduhnya langit Pacitan, sosok Aipda Latip Utomo (47) hadir sebagai cerminan baru dari aparat penegak hukum.

Bukan hanya sekadar berseragam, Bhabinkamtibmas Desa Kalikuning, Kecamatan Tulakan, ini telah memilih jalan pengabdian yang menghapus sekat antara polisi dan masyarakat.

Dengan filosofi hidup yang mendalam dan empati tak bertepi, Latip membuktikan bahwa kekuatan sejati seorang polisi terletak pada kemampuannya untuk mengayomi, bukan hanya melindungi.

Lahir dan besar di Pacitan, Latip menyimpan rindu mendalam untuk tanah kelahirannya.

Setelah bertahun-tahun bertugas di berbagai wilayah, sebuah niat tulus membawanya kembali pada tahun 2015.

“Ketika saya bertugas di daerah lain saja saya bisa, kenapa di tempat kelahiran saya tidak bisa,” kenangnya, saat ditemui Pacitanku.com, Minggu (17/8/2025) di Tulakan.

Sejak 2016, ia mendedikasikan diri sepenuhnya sebagai Bhabinkamtibmas, sebuah peran yang memungkinkannya untuk menyentuh kehidupan warga secara langsung.

Filosofi “Handarbeni” dan Aksi Nyata

Aipda Latip Utomo, Bhabinkamtibmas Desa Kalikuning, menyerahkan bantuan sederhana kepada seorang warga lanjut usia. Aksi ini merupakan bagian dari program pribadi “Peduli dan Berbagi” yang ia gagas sejak 2020 sebagai wujud nyata pengabdiannya kepada masyarakat di Pacitan. (Foto: Dok. Istimewa for Pacitanku)

Bagi Latip, menjadi polisi adalah panggilan jiwa, bukan sekadar profesi. Ia memegang teguh filosofi Jawa “handarbeni,” yang secara harfiah berarti ‘merasa memiliki’.

Keyakinan ini memberinya energi tak terbatas. “Kalau kita sudah bisa merasa memiliki, sudah bisa bermanfaat, insya Allah itu aman-aman saja dan tidak ada rasa capek,” ujarnya, menjelaskan bahwa rasa memiliki akan menghilangkan beban tugas dan menggantinya dengan keikhlasan.

Filosofi ini tidak hanya menjadi retorika, melainkan diwujudkannya dalam program nyata yang ia gagas sendiri: “Peduli dan Berbagi”.

Sejak 2020, Latip menyisihkan sebagian kecil dari penghasilannya untuk membantu para penyandang disabilitas dan warga kurang mampu.

Setiap bulan, ia berkeliling dari satu desa ke desa lainnya, membawa bantuan sederhana namun penuh makna. Ini bukan sekadar donasi, melainkan sebuah misi kemanusiaan yang ia laksanakan secara pribadi, tanpa mengharapkan imbalan.

“Intinya, kita yang sehat, kita yang mampu, kita yang bisa, ini harusnya malu sama mereka yang tidak diberikan kesempurnaan,” ungkapnya.

Ia meyakini bahwa kehadiran seorang polisi, bahkan tanpa membawa apa-apa, dapat menjadi sumber kebahagiaan dan motivasi.

Kolaborasi dan Pendekatan Humanis

Aipda Latip Utomo (47), Bhabinkamtibmas Desa Kalikuning, Kecamatan Tulakan, saat diwawancarai di Pacitan, Minggu (17/8/2025). Latip dikenal sebagai sosok polisi humanis yang mengabdikan diri untuk masyarakat dengan mengedepankan filosofi ‘handarbeni’ atau rasa memiliki. (Foto: Febriani Cahyaningtias/Pacitanku)

Latip juga memahami bahwa keamanan adalah tanggung jawab bersama, bukan monopoli polisi. Ia menekankan bahwa rasa aman dan tenteram adalah hasil dari kolaborasi dan komunikasi yang berkelanjutan.

Di Polsek Tulakan, ia dan rekan-rekannya memanfaatkan teknologi untuk membangun komunikasi dua arah yang kuat, membentuk grup media sosial yang melibatkan seluruh elemen masyarakat.

Melalui platform ini, setiap informasi dapat disebarkan dengan cepat, dan potensi gangguan keamanan bisa dideteksi serta diatasi secara proaktif, jauh sebelum masalah membesar.

Pendekatan humanis menjadi ciri khasnya dalam setiap tugas. Sebagai contoh, sebelum menertibkan knalpot bising yang meresahkan, ia selalu mengedepankan sosialisasi dan imbauan.

Tujuannya bukan untuk mencari kesalahan, melainkan untuk menumbuhkan kesadaran dan memberikan kesempatan bagi masyarakat untuk patuh secara sukarela.

Pengalaman yang Membentuk Karakter

Perjalanan hidup Latip dipenuhi dengan kisah-kisah yang membentuk karakternya. Dua di antaranya menjadi kenangan yang tak terlupakan. Pertama, saat bencana alam besar melanda pada 2017.

Latip memimpin tim pencarian korban longsor dan berhasil menemukan dua orang yang tertimbun. Dalam situasi genting itu, ia menyaksikan bagaimana polisi, tentara, dan masyarakat bahu-membahu tanpa pandang status sosial.

“Kita tidak mengenal saya polisi, saya tentara, saya Masyarakat, kita sudah bahu membahu,” ujarnya.

Kedua, terjadi saat pandemi COVID-19. Sebagai anggota Satgas Kecamatan, ia berada di garis terdepan, terlibat dalam setiap proses, dari sterilisasi hingga pemakaman jenazah.

Di tengah duka dan ketakutan, Latip menemukan makna baru dalam pengabdian.

“Saya berpikir, inilah kesempatan saya untuk bisa bermanfaat bagi orang lain,” kenangnya.

Meskipun menghadapi stigma negatif terhadap kepolisian, Latip memilih untuk menghadapinya dengan keyakinan diri.

Ia berpegang teguh pada prinsip, “Lebih baik tidak punya kemampuan namun kita punya kemauan daripada kita punya kemampuan tapi kita tidak punya kemauan.”

Baginya, kemauan dan keikhlasan adalah modal utama untuk diterima dan dihargai oleh masyarakat.

Dedikasi Latip telah diakui dengan berbagai penghargaan, namun baginya, penghargaan sejati adalah kepercayaan dan penerimaan dari masyarakat.

Ia berharap para polisi di Pacitan dapat terus bekerja lebih baik dan mengutamakan kehadiran mereka di tengah-tengah warga. Kepada generasi muda, ia berpesan untuk tidak sungkan berinteraksi dengan kepolisian.

“Jangan sungkan dan jangan malu atau jangan takut untuk berinteraksi, untuk memberikan informasi, untuk berkolaborasi… dengan kepolisian,” tutupnya.

Aipda Latip Utomo adalah cerminan sejati dari polisi yang mengabdi dengan hati.

Ia membuktikan bahwa peran polisi jauh lebih luas dari sekadar penegakan hukum, yaitu menjadi bagian integral dari masyarakat, hadir untuk melindungi, mengayomi, dan menginspirasi, menciptakan perubahan positif yang akan dikenang selamanya.

No More Posts Available.

No more pages to load.