Pacitanku.com, PACITAN – Ingatan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) melayang jauh ke masa silam, menyusuri jalanan berdebu yang membelah bukit-bukit kapur di tanah kelahirannya, Pacitan.
Presiden ke-6 Republik Indonesia itu mengenang masa kecilnya yang penuh keterbatasan, di mana akses menuju dunia luar terasa begitu sulit dan jauh. Tidak ada kendaraan mewah, apalagi fasilitas nyaman.
Baginya, perjalanan keluar kota adalah sebuah perjuangan menumpang truk pengangkut hasil bumi di tengah malam buta.
“Masa kecil saya, kalau saya pergi ke Surabaya, ke Madiun, ke Surakarta, itu menggunakan truk. Truk itu berangkatnya malam hari, bus hanya satu. Bawahnya ada kopra atau kelapa, ditutup dengan terpal. Kemudian saya rebahan di atas itu, sekian jam sampai Madiun, sampai Solo,”kenang SBY, Sabtu (29/11/2025) saat memberikan sambutan dalam acara peletakan batu pertama (groundbreaking) Goed President Hotel di Pacitan.
Kenangan getir tentang isolasi wilayah itulah yang kini menjadi bahan bakar semangat SBY untuk mengubah wajah Pacitan.
Akhir pekan di akhir bulan November 2025 itu menjadi hari bersejarah yang menandai transformasi tersebut.
Di atas lahan seluas lebih dari 1,1 hektare yang berlokasi strategis tepat di seberang Museum dan Galeri Seni SBY*ANI, sebuah mimpi besar mulai dibangun. Goed President Hotel, sebuah hotel butik berkelas internasional dengan nilai investasi mencapai Rp 100 miliar, resmi mulai dikerjakan.
SBY menyadari, Pacitan dahulu tertinggal dibandingkan tetangganya. Wonogiri melesat berkat kekuatan finansial diaspora di Jakarta, sementara Ponorogo maju karena kedekatannya dengan Madiun.
SBY sempat merenung mencari keunggulan kompetitif yang dimiliki kampung halamannya. Jawabannya bukan pada industri, melainkan pada anugerah alam yang Tuhan berikan.
SBY lantas membandingkan pesona pesisir selatan Pacitan dengan kawasan wisata kelas dunia di Amerika Serikat.
“For me, yang nyata, yang real adalah keindahan tempat-tempat untuk dikunjungi. Terutama beautiful beaches along the coastline. Saya beberapa kali ke California, ada namanya 17-Mile Drive. Tahun lalu saya ke sana. Saya sempat melukis di tempat-tempat itu. So beautiful, wonderful,”ungkapnya.
“Dan apa yang hendak saya katakan? Pacitan juga punya. Bukan omong kosong, bukan hoaks ini. Sepanjang garis pantai Pacitan, 70 mil atau 113 kilometer, ada puluhan pantai yang indah,”imbuh SBY dengan mata berbinar.
Visi SBY untuk menyandingkan keindahan alam Pacitan dengan fasilitas kelas dunia ini disambut hangat oleh pengusaha nasional Hermanto Tanoko.
Melalui konsorsium yang dipimpinnya, serta menggandeng Tanrise (PT Jaya Sukses Makmur Sentosa Tbk) sebagai operator strategis, proyek ini mulai direalisasikan.
Menariknya, kolaborasi ini juga diperkuat oleh kehadiran entrepreneur dan inspirator Merry Riana dalam jajaran pemilik, menciptakan sinergi lintas generasi yang solid.
Kehadiran Goed President Hotel bukan sekadar menambah deretan bangunan beton, melainkan sebuah upaya menghadirkan keanggunan keramahan yang berakar pada kearifan lokal.
Proyek ini diharapkan menjadi katalisator yang membawa pariwisata Pacitan naik kelas ke panggung dunia.
Dengan target operasional pada tahun 2027, hotel ini diproyeksikan menjadi gerbang pembuka bagi wisatawan global untuk menikmati “California-nya Jawa Timur” dengan kenyamanan paripurna.
Bagi SBY, pembangunan ini adalah pembuktian bahwa keterbatasan masa lalu bukanlah vonis mati bagi masa depan.
Dari seorang bocah yang tidur beralaskan terpal di atas tumpukan kelapa, kini ia meletakkan batu pertama bagi sebuah bangunan yang akan menjadi simbol kebangkitan ekonomi dan pariwisata tanah kelahirannya.
Pacitan kini sedang bersiap menyongsong fajar baru, di mana keindahan alamnya tidak lagi tersembunyi, melainkan bersinar terang mengundang kekaguman dunia.












