Sedot Barista Bandung hingga Surabaya, Festival Kopi Pacitan 2026 Gairahkan Ekosistem Lokal

oleh -64 Dilihat
Barista sedang meracik kopi dalam kompetisi di Festival Kopi Pacitan 2026
Suasana Festival Kopi Pacitan 2026 di PLUT KUMKM yang berhasil menyedot antusiasme puluhan peserta dari berbagai daerah. Acara ini menjadi momentum kebangkitan ekosistem kopi lokal. (Foto: Putro Primanto/Pacitanku)

Pacitanku.com, PACITAN – Pemerintah Kabupaten Pacitan melalui Dinas Koperasi, Usaha Mikro, dan Perindustrian (Dikuperin) menggelar Festival Kopi Pacitan 2026 di PLUT KUMKM pada Kamis (8/10/2026) hingga Jumat (9/10/2026).

Kegiatan itu digelar guna memperkuat ekosistem bisnis lokal, sekaligus menjadi momentum pemulihan 900 hektare lahan kopi yang kini kondisinya rusak.

Kepala Dikuperin Pacitan, Ali Mustofa, menegaskan bahwa festival yang digelar selama dua hari ini merupakan langkah strategis untuk merangkul seluruh pelaku usaha kopi, mulai dari sektor hulu hingga hilir.

Kolaborasi yang solid dinilai mampu mendongkrak daya saing kopi lokal di pasaran.

“Kami mempertemukan ekosistem perkopian di Pacitan. Mulai dari petani kopi dengan kelompoknya, barista, pengusaha dan konsumen di Pacitan. Tujuannya untuk memperkuat jejaring usaha kopi di Pacitan,”kata Ali Mustofa.

Pemilihan PLUT KUMKM sebagai lokasi acara juga ditujukan agar pelaku usaha mikro semakin dekat dengan akses fasilitas pendampingan bisnis dari pemerintah.

Sambutan Kepala Dikuperin Pacitan di Festival Kopi Pacitan 2026
Kepala Dinas Koperasi, Usaha Mikro, dan Perindustrian (Dikuperin) Kabupaten Pacitan, Ali Mustofa, saat memberikan sambutan dalam ajang Festival Kopi Pacitan 2026 di fasilitas PLUT KUMKM. Ia menekankan pentingnya sinergi pelaku usaha untuk memperkuat jejaring ekosistem kopi lokal dari hulu hingga hilir. (Foto: Putro Primanto/Pacitanku)

Acara ini sukses menyedot perhatian ratusan penikmat kopi melalui beragam agenda, mulai dari pameran UMKM, deklarasi bersama, hingga kompetisi barista.

Antusiasme peserta lomba meracik kopi terbukti melampaui ekspektasi. Dari 48 peserta yang bertanding, 12 di antaranya datang dari luar daerah, termasuk dari Bandung dan Surabaya.

Di balik kemeriahan kompetisi skala nasional tersebut, Pemkab Pacitan juga tengah dihadapkan pada pekerjaan rumah besar di sektor hulu.

Berdasarkan data Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Kabupaten Pacitan, dari total 2.300 hektare perkebunan kopi di wilayah ini, terdapat 900 hektare tanaman kopi rusak akibat tidak terawat. Sisanya, 700 hektare berstatus Tanaman Menghasilkan (TM) dan 600 hektare Tanaman Belum Menghasilkan (TBM).

Merespons kondisi tersebut, Pemkab Pacitan segera mengambil langkah perbaikan. Rencananya, pemerintah akan melakukan intervensi anggaran dan penerapan teknologi tanam modern pada 2027 mendatang.

Sebagai langkah awal, DKPP telah mengantongi daftar Calon Petani Calon Lahan (CPCL) seluas 489 hektare yang akan diusulkan ke Direktorat Jenderal Perkebunan Kementerian Pertanian.

Melalui sinergi hulu-hilir ini, industri kopi Pacitan diharapkan tidak hanya dikenal luas di kancah nasional, tetapi juga mampu memberikan nilai tambah ekonomi yang berkelanjutan bagi petani.

No More Posts Available.

No more pages to load.