BMKG Gelar Sekolah Lapang di Pacitan, Perkuat Antisipasi Gempa dan Tsunami Selatan Jawa

oleh -118 Dilihat
Kepala BMKG, pejabat daerah, dan peserta berfoto bersama pada pembukaan Sekolah Lapang Gempabumi dan Tsunami di Desa Sidomulyo, Pacitan.
Kepala BMKG Prof. Ir. Teuku Faisal Fathani, Ph.D, Wakil Bupati Pacitan, Kepala Pelaksana BPBD, bersama 54 peserta melakukan sesi foto bersama usai pembukaan Sekolah Lapang Gempabumi dan Tsunami di Balai Pertemuan Desa Sidomulyo, Kecamatan Ngadirojo, Pacitan, Jawa Timur, Jumat (17/7/2026). Sinergi ini merupakan wujud nyata penguatan antisipasi gempa dan tsunami Pacitan. (Foto: Ario/Pacitanku)

Pacitanku.com, PACITAN – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) melalui Stasiun Geofisika Nganjuk resmi membuka kegiatan Sekolah Lapang Gempabumi dan Tsunami (SLG) di Balai Pertemuan Desa Sidomulyo, Kecamatan Ngadirojo, Kabupaten Pacitan, Jumat (17/7/2026).

Langkah strategis ini digelar sebagai upaya nyata untuk memperkuat antisipasi gempa dan tsunami Pacitan, mengingat kawasan pesisir selatan Jawa berada tepat berhadapan dengan zona subduksi yang memiliki potensi kegempaan tinggi.

Mengusung tema “Pahami Potensi dan Aksi Cepat Hadapi Gempabumi dan Tsunami Menuju Indonesia Emas 2045”, kegiatan ini ditargetkan mampu mewujudkan masyarakat yang tanggap dan siap siaga terhadap bencana.

Kepala BMKG, Prof. Ir. Teuku Faisal Fathani, Ph.D, menyatakan bahwa mitigasi bencana selatan Jawa terus menjadi prioritas institusinya guna mewujudkan target nihil korban jiwa (zero victim).

“Mengapa Kabupaten Pacitan dipilih saat ini? Karena pentingnya kita semua meningkatkan kesiapsiagaan. Daerah ini berada pada pesisir selatan Pulau Jawa yang dekat dengan zona subduksi. Dari catatan sejarah juga telah terjadi gempa dan tsunami pada masa-masa sebelumnya,”kata Prof. Faisal saat ditemui usai pembukaan SLG.

Lebih lanjut, Prof. Faisal menjelaskan bahwa program Sekolah Lapang Gempabumi dan Tsunami secara nasional telah digulirkan sejak tahun 2016 di 220 lokasi di seluruh Indonesia dengan melibatkan lebih dari 20.000 peserta.

Edukasi ini dinilai sangat krusial agar masyarakat tidak sekadar panik, melainkan memiliki pengetahuan yang mumpuni dalam merespons alarm sistem peringatan dini.

“Harapannya dengan adanya Sekolah Lapang Gempa dan Tsunami ini masyarakat bukan merasa takut, tapi untuk meningkatkan kewaspadaan. Masyarakat dapat meningkat pengetahuannya, memahami risikonya, dan mengerti bagaimana cara melakukan aksi dini ketika sistem peringatan dini memberikan peringatan akan terjadinya gempa dan tsunami di daerah ini,” tegasnya.

Tingkat kesadaran masyarakat Pacitan terhadap mitigasi bencana juga mendapat apresiasi langsung dari pihak BMKG. Menurut Prof. Faisal, wujud nyata dari resiliensi warga desa terlihat dari pengadaan sistem peringatan mandiri.

“Masyarakat dipandang sudah memiliki cukup kesadaran untuk antisipasi atau kesiapsiagaan. Terbukti tadi, ada dua sirine yang dibangun secara swadaya oleh masyarakat,” imbuhnya.

Pelaksanaan SLG di Pacitan ini tidak hanya mengandalkan pendanaan dari BMKG, tetapi juga didukung penuh oleh Bank Indonesia, Pemerintah Provinsi Jawa Timur, Pemerintah Kabupaten Pacitan, BPBD, serta berbagai mitra swasta.

Kolaborasi lintas sektor dalam antisipasi gempa dan tsunami Pacitan ini diharapkan mampu memperkokoh benteng ketangguhan masyarakat pesisir selatan secara berkelanjutan.

Kegiatan ini diikuti 38 peserta, dari unsur Pemerintahan Daerah & Organisasi Perangkat Daerah (OPD), Pemerintahan Desa, TNI & Polri, Institusi Pendidikan, Relawan & Keamanan Masyarakat, Badan Usaha & Perusahaan Energi dan Media Massa.

No More Posts Available.

No more pages to load.