Lebih dari Sekadar Keindahan Alam, Pacitan Didorong Bangun ‘Vibe’ Wisata Berbasis Seni dan Budaya

oleh -106 Dilihat
Sejumlah wisatawan berjalan-jalan dan duduk santai di hamparan pasir putih Pantai Srau, Pacitan, dengan latar belakang deburan ombak dan tebing karang pada H+3 libur Lebaran.
Wisatawan tampak antusias menikmati suasana pagi di tepi Pantai Srau, Pacitan, pada libur H+3 Idulfitri. (Foto: Febriani Cahyaningtias/Pacitanku)

Pacitanku.com, PACITAN — Ketergantungan pariwisata Pacitan pada keindahan alam dinilai tak lagi cukup untuk memikat wisatawan di tengah persaingan industri tahun 2026 ini.

Mengatasi potensi kejenuhan pengunjung, Asosiasi Pelaku dan Penggiat Pariwisata Pacitan (AP3) mendorong pemerintah dan pemangku kepentingan untuk mulai membangun nuansa atau vibe destinasi yang khas dengan mengintegrasikan kekayaan seni dan budaya lokal, seperti ornamen Wayang Beber dan Kesenian Ronthek Pacitan.

Selama bertahun-tahun, Kabupaten Pacitan dikenal luas berkat pesona alamnya, terutama deretan pantai dan ombak yang kerap memikat peselancar mancanegara.

Namun, mengandalkan bentang alam semata ternyata memiliki titik jenuh. Wisatawan dinilai hanya akan berkunjung dua hingga tiga kali sebelum akhirnya merasa bosan jika tidak ada inovasi.

Ketua AP3, Chrismillia Natalia yang akrab disapa Cik Noni, menekankan bahwa pariwisata modern harus menyentuh ranah rasa dan pengalaman, bukan sekadar memanjakan mata.

Cik Nonik Ketua AP3 membahas potensi pariwisata budaya Pacitan.
Ketua Asosiasi Pelaku dan Penggiat Pariwisata Pacitan (AP3), Cik Noni, memaparkan pentingnya mengintegrasikan seni dan budaya lokal untuk membangun nuansa pariwisata yang khas di Pacitan dalam siniar kertas kosong episode ke 60, baru-baru ini. (Foto: Sulthan Shalahuddin/Pacitanku)

Ia mencontohkan bagaimana daerah seperti Bali atau Yogyakarta mampu membuat wisatawan selalu rindu untuk kembali karena memiliki vibes atau suasana khas yang langsung terasa begitu pengunjung menginjakkan kaki.

“Kalau destinasi-destinasi alam itu kita tinggal memelihara kui diparingi Gusti, nuk kita tinggal enhance gitu meningkatkan dan memelihara ya, tapi untuk mengadakan (suasana) itu berkaitan erat dengan seni dan budaya,” tutur Cik Nonik, saat berbincang dalam siniar Kertas Kosong Pacitanku TV yang dikutip pada Kamis (11/6/2026) di Pacitan.

Menurutnya, Kabupaten Pacitan memiliki segudang potensi budaya yang bisa dioptimalkan untuk membangun identitas visual dan suasana tersebut. Pacitan memiliki warisan Wayang Beber, Kethek Ogleng, hingga festival Rontek yang megah.

Sayangnya, potensi ini dinilai belum terkoneksi dengan baik ke dalam konsep pariwisata massal (mass tourism).

Cik Noni menyarankan agar elemen-elemen budaya lokal ini mulai disematkan dalam tata kota maupun destinasi wisata.

“Misalnya bangunan-bangunan dibangun dengan ada ornamen-ornamen yang bernuansa wayang beber misalnya, atau misalnya bikin tugu Sekartaji dan Panji Asmarabangun,” sarannya.

Alih-alih membangun fasilitas yang tidak fungsional seperti air mancur yang tak menyala, ia merekomendasikan pembangunan ikon-ikon budaya lokal yang mampu memicu rasa ingin tahu wisatawan.

Dengan sinergi antara pelaku wisata, budayawan, dan pemerintah, Pacitan diharapkan tidak hanya dikenal sebagai kota seribu gua dan pantai, tetapi juga destinasi yang memiliki ruh budaya yang mengikat hati para pengunjungnya.

Video Peta Jalan Pariwisata Pacitan di Mata Pelaku Wisata Harusnya Seperti Apa? | Kertas Kosong Eps. 60

No More Posts Available.

No more pages to load.