Pacitanku.com, TEGALOMBO – Masyarakat Desa Pucangombo, Kecamatan Tegalombo, Pacitan tetap teguh merawat belasan tradisi leluhur seperti Megengan, Sholawat Jawa, hingga Longkangan sebagai wujud syukur dan penghormatan kepada garis keturunan di tengah gempuran zaman.
Inventarisasi terbaru melalui pengamatan lapangan dan wawancara tokoh setempat menunjukkan bahwa tradisi di Pucangombo bukan sekadar seremonial, melainkan jembatan emosional antara warga, sang pencipta, dan para pendahulu.
Tradisi seperti Megengan yang menyajikan apem dan kolak, serta Safari Ramadan di empat dusun (Mojo, Pucangombo, Kaliogan, dan Pager), menjadi bukti nyata bahwa nilai kebersamaan masih menjadi panglima di desa ini.
Selain aspek religi, masyarakat juga konsisten menjalankan Longkangan—tradisi membersihkan sumber air—serta Galungan lokal untuk merawat pusaka.
Meski kesenian seperti Tayub dan Wayang Kulit mulai jarang dipentaskan, esensi doa dalam kenduri atau Kauman tetap hidup di rumah-rumah warga.

Perangkat Desa Pucangombo, Padli, menegaskan bahwa pelestarian ini adalah bentuk tanggung jawab moral antargenerasi. Ia percaya bahwa budaya yang baik adalah warisan terbaik untuk masa depan.
“Tidak ada orang tua yang rela memberikan warisan hal-hal buruk kepada anak keturunannya. Yang baik kita teruskan dan yang kurang baik kita benahi tanpa mengurangi makna dan nilai aslinya. Selama budaya itu mengajak dalam hal kebaikan kenapa tidak? Tugas kita menjaga budaya itu benar secara etika di setiap perubahan zamannya,”kata Padli.












