Pacitanku.com, PACITAN — Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Pacitan terus mengintensifkan koordinasi dengan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) guna merumuskan strategi mitigasi menghadapi ancaman krisis air bersih menyusul prakiraan datangnya musim kemarau pada April 2026 mendatang.
Langkah antisipasi dini ini menjadi prioritas utama pemerintah daerah agar pendistribusian bantuan dan pemetaan wilayah terdampak dapat berjalan cepat dan tepat sasaran.
Kepala Bidang Pencegahan dan Kesiapsiagaan BPBD Pacitan, Yagus Triarso, menegaskan bahwa komunikasi dengan Stasiun Klimatologi BMKG Jawa Timur berjalan sangat aktif di masa transisi cuaca ini.
Pemantauan perkembangan iklim yang akurat sangat dibutuhkan mengingat Kabupaten Pacitan memiliki rekam jejak sejumlah wilayah langganan kekeringan yang selalu membutuhkan pasokan air bersih setiap tahunnya.
“Tentunya sebagai mitra BPBD, sampai saat ini kami selalu aktif berkoordinasi dengan BMKG,” ujar Yagus saat memberikan keterangan resmi di Pacitan.
Secara nasional, BMKG memprakirakan bahwa musim hujan di wilayah Jawa, Bali, dan Nusa Tenggara akan berakhir secara bertahap pada rentang Februari hingga Maret 2026.
Selanjutnya, pergantian menuju musim kemarau diprediksi mulai berlangsung pada bulan April. Meskipun demikian, BPBD Pacitan memilih bertindak hati-hati dan berbasis data lokal sebelum menetapkan status siaga kebencanaan di wilayahnya.
Yagus menjelaskan bahwa pihaknya belum dapat mengumumkan jadwal pasti permulaan musim kemarau khusus untuk wilayah geografis Pacitan.
BPBD saat ini bersikap menunggu dokumen panduan teknis secara tertulis dari otoritas cuaca agar langkah penanganan di lapangan tidak keliru.
“Perihal kapan prediksi awal musim kemarau tahun 2026, kami masih menunggu press release resmi dari BMKG,” tambahnya.
Validitas data dari Stasiun BMKG Klimatologi Jawa Timur nantinya akan langsung diolah menjadi peta kerawanan bencana terbaru.
Dengan peta tersebut, pemerintah daerah bisa segera menerjunkan armada tangki air bersih ke desa-desa yang sumber airnya mulai mengering.












