Pacitanku.com, PACITAN — Guncangan gempa bumi tektonik berkekuatan Magnitudo 5,7 yang menerjang Kabupaten Pacitan pada Selasa (27/1/2026) pagi sempat memicu kepanikan di tengah masyarakat yang tengah memulai aktivitas.
Lindu yang terjadi akibat mekanisme pergerakan naik atau thrust fault tersebut memaksa warga di kawasan padat penduduk, khususnya di Kelurahan Ploso, Pacitan berhamburan keluar rumah demi menyelamatkan diri setelah merasakan ayunan bangunan yang cukup hebat.
Suasana mencekam seketika menyelimuti wilayah Pacitan yang sudah cukup lama tidak merasakan guncangan dengan intensitas sekuat ini.
Di Kelurahan Ploso, Kecamatan Pacitan, tanda bahaya tradisional berupa bunyi kentongan terdengar dipukul bertalu-talu dan bersahut-sahutan dari berbagai penjuru, menandakan situasi kedaruratan yang memaksa kewaspadaan warga meningkat drastis dalam hitungan detik.
Kepanikan massal tak terhindarkan karena getaran gempa dirasakan sangat nyata dan mengejutkan.
Veny, seorang warga yang tinggal di sebuah rumah indekos di kawasan Ploso, menjadi saksi bagaimana ketegangan melanda lingkungan tempat tinggalnya.
Ia menceritakan detik-detik mendebarkan ketika gempa terjadi dalam dua fase yang membuatnya trauma.
Menurut kesaksiannya, ada jeda singkat yang justru menambah ketakutan sebelum guncangan yang lebih besar benar-benar menggoyang struktur bangunan di sekitarnya.
“Awalnya terasa getaran yang cukup kuat, lalu ada jeda sesaat yang membuat suasana terasa tegang. Tidak lama kemudian, getaran kembali terasa hebat hingga membuat bangunan bergoyang,”kata Veny.
Respons spontan warga yang mendengar gemuruh dan merasakan goyangan tersebut adalah segera mengevakuasi diri ke tempat terbuka.
Veny menggambarkan situasi pagi itu berubah drastis dari yang semula tenang menjadi penuh kekalutan saat warga berlarian menghindari potensi reruntuhan bangunan.
“Suasana yang semula tenang langsung berubah panik. Saya sendiri langsung lari keluar rumah untuk menyelamatkan diri,” tambahnya.
Berdasarkan data resmi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), gempa berkekuatan Magnitudo 5,7 ini memiliki mekanisme pergerakan naik yang umum terjadi akibat aktivitas subduksi lempeng.
Meskipun guncangan ini sukses membuat warga histeris karena datang tiba-tiba di saat memori kolektif masyarakat tentang gempa besar mulai pudar, otoritas terkait tetap mengimbau masyarakat untuk tidak berlebihan dalam menyikapi situasi namun tetap waspada terhadap potensi gempa susulan yang lazim mengikuti gempa utama.
Diberitakan sebelumnya, wilayah Kabupaten Pacitan, Jawa Timur, kembali diguncang gempa bumi tektonik pada Selasa (27/1/2026) pagi.
BMKG memutakhirkan data kekuatan gempa menjadi Magnitudo 5,7 setelah sebelumnya merilis parameter sementara berkekuatan Magnitudo 5,5.
Gempa yang terjadi tepat pada pukul 08.20 WIB ini dipastikan tidak berpotensi memicu gelombang tsunami.
Kepala Pusat Gempabumi dan Tsunami BMKG, Daryono, menjelaskan bahwa episenter gempa bumi ini terletak pada koordinat 8,18 derajat Lintang Selatan dan 111,33 derajat Bujur Timur.
Pusat gempa berlokasi di darat pada jarak 24 kilometer arah Tenggara Pacitan, Jawa Timur, dengan kedalaman sumber atau hiposenter mencapai 122 kilometer. Lokasi episentrum diketahui berada di Desa Nogosari, Kecamatan Ngadirojo, Pacitan.












