Pacitanku.com, KEBONAGUNG — Konsistensi menjadi kunci keberhasilan Misgiman, Ketua Kelompok Tani Setyo Maju 2 asal Dusun Tekil, Desa Gawang, Kecamatan Kebonagung, Kabupaten Pacitan, dalam membudidayakan tanaman kakao.
Ketekunannya merawat komoditas perkebunan ini sejak tahun 2004 kini membuahkan hasil manis dengan pasar yang datang langsung ke pintu rumahnya, membuktikan bahwa sektor pertanian masih menjadi primadona ekonomi jika ditekuni dengan serius.
Pria yang membudidayakan kakao berdampingan dengan tanaman kelapa ini mengungkapkan bahwa proses bertani kakao membutuhkan kesabaran ekstra.
Berdasarkan pengalamannya puluhan tahun, bibit kakao baru akan mulai belajar berbuah setelah berumur sekitar tiga tahun.

Tidak hanya itu, siklus pembuahan hingga siap panen pun memakan waktu yang tidak sebentar sehingga menuntut ketelatenan petani dalam merawat tanaman agar terhindar dari hama dan penyakit.
“Dari munculnya bunga hingga siap panen biasanya memakan waktu sekitar 6 bulan. Namun, jika dihitung sejak buah masih kecil, rata-rata butuh waktu 5 bulan sampai buah benar-benar matang dan siap petik,”kata Misgiman saat ditemui di sela aktivitasnya di kebun kakao, belum lama ini.
Kualitas biji kakao unggulan yang dihasilkan Misgiman tidak lepas dari penanganan pascapanen yang dilakukan secara teliti dan bertahap.
Setelah buah gelondongan dipetik dan dipecah untuk diambil bijinya, ia menerapkan proses fermentasi yang ketat.
Menurutnya, fermentasi adalah nyawa dari kualitas biji kakao sehingga tidak bisa dilakukan secara instan atau terburu-buru menggunakan kotak fermentasi khusus.

“Fermentasi itu tidak cukup satu atau dua hari. Kalau saya biasanya sampai enam hari. Setelah itu, baru biji dilepas dan langsung dijemur di bawah sinar matahari,”tambahnya.
Proses panjang tersebut berlanjut pada tahap penjemuran hingga biji benar-benar kering, kemudian dilakukan sortasi atau pemilahan untuk memisahkan biji kualitas premium sebelum dikemas ke dalam karung goni.
Jerih payah dan standar tinggi yang diterapkan Misgiman terbayar lunas dengan tingginya permintaan pasar.
Ia mengaku tidak perlu bersusah payah membawa hasil panen ke pasar karena para pembeli dari berbagai kota besar di Jawa Timur justru yang aktif memburu komoditas miliknya.
“Yang kemarin saya jual itu ibaratnya tidak keluar dari rumah, pasalnya dari Tuban, Sidoarjo, dan Surabaya datang ke sini,” pungkasnya dengan rona bahagia.











