Pacitanku.com, PACITAN — Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Kabupaten Pacitan melakukan terobosan unik dalam menyosialisasikan teknologi pertanian modern dengan memanfaatkan kearifan lokal.
Melalui acara adat tradisi “Tetek Melek” yang digelar di Dusun Jarum, Desa Sukoharjo, Kabupaten Pacitan, baru-baru ini, DKPP mengenalkan penggunaan agen hayati sebagai solusi ramah lingkungan untuk mengendalikan organisme pengganggu tanaman.
Langkah ini diambil untuk menjembatani nilai budaya leluhur yang bersifat simbolis dengan pendekatan sains modern yang aplikatif bagi para petani.
Sinergi antara tradisi Tetek Melek dan teknologi agen hayati ini diharapkan menjadi titik balik bagi pertanian di Desa Sukoharjo untuk menuju sistem yang lebih sehat, produktif, dan tetap berpijak pada nilai-nilai kearifan lokal.
Tradisi Tetek Melek sendiri merupakan ritual turun-temurun masyarakat setempat yang dimaknai sebagai upaya spiritual untuk menghilangkan hama dan penyakit tanaman di area pertanian.
Momentum berkumpulnya warga dalam tradisi ini dimanfaatkan oleh pemerintah daerah untuk memberikan edukasi tanpa menghilangkan esensi budaya yang ada.
Dalam pelaksanaannya, DKPP Pacitan menghadirkan dua diorama pertanian sebagai media visual.
Diorama pertama menggambarkan sistem pertanian konvensional zaman dahulu, sedangkan diorama kedua menampilkan konsep pertanian modern yang mengedepankan teknologi agen hayati sebagai musuh alami hama.
Perwakilan DKPP Pacitan, Agus Rustamto, menjelaskan bahwa pendekatan ini bertujuan mengubah pola pikir petani dalam membasmi hama yang selama ini kerap bergantung pada bahan kimia.
Ia memaparkan bahwa agen hayati merupakan musuh alami hama berupa mikroorganisme atau mikroba yang mampu menekan populasi penyakit tanaman tanpa merusak ekosistem tanah maupun lingkungan sekitar.
“Intinya, kegiatan ini bertujuan untuk mensosialisasikan teknologi agen hayati kepada para petani. Agen hayati ini adalah musuh alami hama, tetapi bentuknya mikroba,”kata Agus Rustamto di sela-sela kegiatan.
Sebagai bentuk dukungan nyata, dalam sosialisasi tersebut DKPP juga membagikan bahan-bahan agen hayati secara cuma-cuma kepada para petani.
Hal ini dimaksudkan agar petani dapat langsung mempraktikkannya di lahan garapan masing-masing sebagai masa uji coba.
Agus berharap, stimulus ini dapat memicu kemandirian petani di masa depan. Jika hasil panen terbukti lebih baik dan lingkungan lebih sehat, petani diharapkan tidak hanya menggunakan teknologi ini secara berkelanjutan, tetapi juga mampu memproduksi agen hayati sendiri secara mandiri.
“Bahan-bahan ini kami sampaikan secara gratis kepada petani agar bisa digunakan untuk mencoba. Jika hasilnya bagus, petani diharapkan dapat menggunakan secara berkelanjutan bahkan membuatnya sendiri,”pungkasnya.











