Hari Santri, Kemenag Pacitan Gelar Dialog Kebangsaan Mengenang Perjuangan Ulama Ponpes Tremas

oleh -144 Dilihat
Bertepatan dengan Hari Santri Nasional, Kemenag Pacitan dan FKUB menggelar Dialog Kebangsaan (Rabu, 15/10/2025). Acara ini mengungkap peran ulama besar KH Hamid Dimyati sebagai 'Pandu Bangsa', menegaskan bahwa investasi dalam kerukunan adalah tindakan nyata yang harus terus dilakukan. (Foto: Dok. Istimewa)

Pacitanku.com, PACITAN – Bertepatan dengan peringatan Hari Santri Nasional (HSN) 2025, Kantor Kementerian Agama (Kemenag) Kabupaten Pacitan bersama Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) menyelenggarakan Dialog Kebangsaan yang menyoroti peran sentral ulama dalam merawat kebangsaan.

Acara yang digelar di Gedung Pusat Layanan Haji Umroh Terpadu (PLHUT) Kemenag Pacitan pada Rabu (15/10/2025), ini dibuka oleh Kepala Kantor Kemenag Kabupaten Pacitan, Baharuddin dan dihadiri oleh tokoh agama, ormas Islam, dan tokoh lintas agama.

Baca juga: Jalan Panjang Pengusulan Gelar Pahlawan Nasional KH Dimyathi Pacitan: Dari Wonogiri Sampai Leiden

Baharuddin menyampaikan apresiasi atas terselenggaranya kegiatan ini sebagai upaya meningkatkan kesadaran akan pentingnya nilai kebangsaan.

“Investasi dalam kerukunan bukanlah sekadar retorika, tetapi tindakan nyata yang harus terus dilakukan secara berkelanjutan,”kata Baharuddin.

Dalam dialog tersebut, terungkap sebuah fakta sejarah yang selama lebih dari 74 tahun tersembunyi mengenai peran sentral KH Hamid Dimyathi, ulama dan Pimpinan Pondok Pesantren Tremas periode 1934–1948, sebagai ‘Pandu Bangsa dari Pacitan untuk NKRI’.

Penulis buku Jejak Juang Kyai Hamid Dimyathi Subiyanto Munir, menjelaskan bahwa ini adalah kali pertama tema tersebut diangkat ke publik.

Pria yang akrab disapa Subi ini mengungkapkan bahwa KH Hamid Dimyati kini telah diusulkan kembali untuk mendapatkan gelar Pahlawan Nasional oleh Gubernur Jawa Timur kepada Dewan Gelar Nasional, bersama enam tokoh besar Jawa Timur lainnya pada Maret dan April 2025.

KH Hamid Dimyathi adalah pemimpin Pesantren Tremas generasi keempat dan pernah menjabat sebagai Kepala Penghulu Agama Islam Kabupaten Pacitan.

Subi mengatakan sosok KH Hamid adalah bagian dari Tentara Hizbullah dan wafat setelah dibunuh oleh gerombolan komunis (PKI) di Wonogiri pada tahun 1948 saat tengah bertugas.

“Inilah bukti peran ulama dalam rangka merawat semangat kebangsaan dalam rangka mempertahankan NKRI yang baru merdeka tiga tahun kala itu,”tegas Subi.

Fakta-fakta ini diharapkan dapat meyakinkan publik betapa besar kontribusi pondok pesantren dan masyarakat Pacitan terhadap NKRI.

Dialog kebangsaan ini menjadi bagian dari rangkaian peringatan HSN di Pacitan, yang puncaknya akan diselenggarakan pada 22 Oktober mendatang.

Video Napak Tilas Jejak Perjuangan Kiai Hamid Dimyathi, Mujahid dari Bani Abdul Manan Attarmasie Pacitan

No More Posts Available.

No more pages to load.