Kalaksa BPBD Jatim: Pantai Pesisir Selatan Indah, Tapi Potensi Bencana Juga Mengikuti

oleh -Dibaca 222 kali
TANAM MANGROVE. BNPB RI bersama jajaran terkait saat sosialisasi IDRIP di Desa Sidomulyo, Ngadirojo, Pacitan pada Minggu (18/12/2022). (Foto: Sudarsono/Pacitanku)

Pacitanku.com, NGADIROJO – Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jawa Timur Gatot Subroto menyebut jajarannya saat ini terus gencar melakukan upaya penanggulangan bencana, dimana salah satu yang menjadi fokus saat ini adalah bencana tsunami.

“Perlu kami sampaikan bahwasanya di Provinsi Jatim ada sebanyak 14 ancaman bencana, dari semua ancaman tersebut, yang jadi fokus sekarang adalah tsunami, karena kita ketahui dari 8 kabupaten/kota yang dilintasi di wilayah Jatim, ada 156 desa yang punya potensi terkena tsunami,”katanya saat kegiatan Indonesia Disaster Resilience Initiatives Project (IDRIP) yang diselenggarakan oleh Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) RI pada Minggu (18/12/2022) di Pantai Soge, Desa Sidomulyo, Kecamatan Ngadirojo, Pacitan.

Lebih lanjut, pria yang akrab disapa Gatot ini mengatakan Provinsi Jatim memiliki ancaman tinggi bencana, dimana ada sebanyak 2742 desa dengan kategori tinggi ancaman bencana. “Jumlahnya merata di seluruh Jatim,”tandasnya.

Baca juga: BNPB Launching IDRIP di Desa Sidomulyo Pacitan untuk Perkuat Ketangguhan Masyarakat Terhadap Potensi Bencana Tsunami

Atas berbagai potensi bencana itu, Gatot mengatakan jajarannya bekerja sama dengan Kabupaten/Kota terus melakukan upaya pencegahan bencana.“Baik itu pemasangan EWS, destana maupun sosialisasi kepada masyarakat, “ujar dia.

Namun demikian, Gatot mengakui yang dilakukan BPBD Jatim bersama jajarannya masih kurang mengingat potensi bencana, utamanya tsunami yang cukup tinggi.

“Tapi kami rasa apa yang kami lakukan tersebut masih sangat kurang, disitu bisa dilihat papan himbauan masih kurang,  Lalu, jalur evakuasi juga masih kurang, demikian juga shelter-shelter untuk pengungsi ataupun pada saat pengunjung di pantai tersebut melakukan evakuasi diri harus lari kemana itu belum ada,”jelas Gatot.

Belum lagi, kata dia, banyak pantai di Jatim yang pengunjungnya banyak, tetapi tidak ada petugas atau pengawas pantai yang ada di wilayah tersebut bisa mengingatkan pengunjung batas-batas mana mereka bisa melakukan aktivitas rekreasi di pantai tersebut.

“Itu yang banyak terjadi di wilayah pesisir jawa khususnya jatim, memang tidak bisa dipungkiri pantainya indah-indah, tetapi dengan adanya keindahan tersebut potensi bencana juga mengikuti,”paparnya.

Hal itulah, kata dia, yang menjadi pekerjaan rumah bagi BPBD untuk terus harus berkalobarasi dengan seluruh stakeholder seperti PU, BAPPEDA sekaranga dan saat ini world bank.

“Insyaaallah saya berharap ada support untuk sarana prasarana tersebut, kita aplaus untuk World Bank semoga dberikan bantuan yang banyak. Dan kedepan PR kebencanaan di jatim masih sangat besar,”ujarnya.

Belum lagi ada potensi baru yaitu likuifaksi, di Banyuwangi, Jember dan Lumajang. Hal itu pun, kata Gatot, menjadi PR jajarannya mengantisiapsi agar bisa mengurangi korban jiwa akibat bencana.

“Kalau bencana tidak bisa kita hindari, tetapi menurunkan korban jiwa bisa kita lakukan bersama itulah beberapa hal yang menjadi perhatian kami, dan kami sekali lagi mengucapkan terimakasih yang sudah menunjuk Pacitan menjadi salah satu tempat dalam kegiatan IDRIP ini,”pungkasnya.