Bagaimana Karya “Durbala Singkir” Pringkuku Memikat Dewan Juri Festival Ronthek 2019?

oleh -1.722 views
Ronthek "Durbala Singkir" Pringkuku. (Foto: Pemkab Pacitan)

Pacitanku.com, PACITAN – Karya seni Ronthek “Durbala Singkir” yang dipentaskan oleh grup Raung Bambu Kecamatan Pringkuku sukses memikat dewan juri dan masyarakat Pacitan. Pada akhirnya, dewan juri mengganjar grup Ronthek Pringkuku tersebut sebagai juara umum Festival Ronthek Pacitan tahun 2019.

Berdasarkan surat keputusan Dewan Juri Zulkarnain Mistortoify, Joko Suranto dan Sigit Setiawan, Pringkuku juga sukses meraih kategori penyaji terbaik dan penata musik terbaik.

Baca juga: Grup ‘Durbala Singkir’ Pringkuku Juara Umum Festival Ronthek Tahun 2019

Sebagai informasi, Grup Raung Bambu Pringkuku dua tahun berturut-turut menjadi juara umum Festival Ronthek. Pada tahun 2018 lalu, Raung Bambu membuat karya dengan judul “Sri Boyong.”

Sementara pada tahun ini, mengambil judul karya “Durbala Singkir”, menjadi salah satu penampil Ronthek paling istimewa sepanjang perhelatan Festival Ronthek tahun ini.

Lalu bagaimana grup Ronthek Pringkuku ini memikat dewan juri sehingga berhasil mengulangi kegemilangan tahun lalu? Salah satunya adalah detailnya konsep dari seni ini yang tentunya mampu menyedot perhatian masyarakat, serta memberi nilai plus bagi dewan juri.

Seperti dikutip Pacitanku.com dari Pimpinan Produksi Ronthek Kecamatan Pringkuku Desasylina da Ary, filosofi Durbala Singkir ini erat sekali hubungannya dengan kehidupan manusia. Ini semua tersirat dalam tarian Ilir.

Tarian ini berkembang di Kecamatan Pringkuku rayon utara yaitu Desa Pelem, Desa Glinggangan, dan Desa Tamanasri. Bentuk tarian ini mirip dengan tarian Edan-edanan di Kraton Yogyakarta. Tarian ini, digunakan sebagai salah satu rangkaian prosesi pernikahan adat jawa, yaitu pengganti cucuk lampah, dimana penari menggunakan riasan yang unik layaknya orang gila, membawa properti alat-alat rumah tangga dan menarikan tarian yang tidak terpaku pada irama dan dengan gerak-gerak lucu. Banyak orang beranggapan bahwa tarian ini hanya sebagai hiburan semata, akan tetapi jika dilihat lebih jauh tarian ini memiliki makna  mendalam tentang kehidupan manusia.

Dalam prosesi pernikahan adat Jawa di Kecamatan Pringkuku rayon utara, tari Ilir, akan mengiringi pengantin laki-laki, saat menuju ke tempat panggih. Mereka akan membawa kemonceng dan perlatan rumah tangga, dengan tujuan untuk membersihkan pelaminan dari roh-roh jahat. Tarian ini mencerminkan sebuah ekspresi sebagai penolak balak dalam pernikahan adat Jawa. Komposisi dalam tarian ini menggambarkan tentang Kiblat Papat Lima Pancer, dengan gerakan yang sarat akan simbol mengusir sesuatu yang buruk di dalam kehidupan manusia.

Keunikan dan kedalaman makna dari tarian Ilir inilah yang memberikan rangsangan ide untuk membuat sebuah komposisi musik garapan baru. Sebuah komposisi musik bambu Ronthek yang menghibur dengan kejenakaannya, akan tetapi juga sekaligus sarat akan makna.

Adapun, karya seni ronthek “Durbala Singkir” berangkat dari kesenian Ilir yang berkembang di Kecamatan Pringkuku rayon utara yaitu Desa Pelem, Desa Glinggangan, dan Desa Tamanasri. Bentuk kesenian ini mirip dengan kesenian Edan-edanan di Yogyakarta, yaitu kesenian pengganti cucuk lampah yang dibawakan oleh sepasang laki-laki dan perempuan dengan riasan yang unik dan gerak-gerak lucu.

Makna dari kesenian ini dimaksudkan untuk tolak bala atau sebagai media untuk mengusir semua gangguan dan menghilangkan hawa buruk yang bisa mengganggu prosesi pernikahan.

Dalam deskripsi tersebut, karya seni “Durbala Singkir” memiliki tujuan dan manfaat sebagai gambaran dari kearifan lokal yang dimiliki oleh masyarakat Pringkuku.Kemudian merupakan penciptaan musik garapan baru dengan media musik bambu Ronthek. Tak hanya itu, penciptaan sebuah karya musik yang berangkat dari ide dasar tari Ilir yang menghibur sekaligus sarat makna filosofi sebagai penolak balak.

Untuk format dari karya ini adalah seni pertunjukan. Jenisnya adalah pertunjukan arak-arakan. Materi yang disajikan adalah garapan musik perkusi dengan dasar instrumen kentongan bambu, bedug, dan kendang ketipung yang digabung dengan instrumen melodis bendhe.

Komposisi musik tersebut dipadukan dengan vokal-vokal yang dilantunkan seluruh penabuh. Lagu yang digarap dalam karya ini adalah Sluku Sluku Bathok dan lagu tolak balak yang masyarakat lokal menyebutnya “Gedhing Kala”, di mana syair tersebut merujuk pada cerita Murwakala. Merupakan lagu yang relevan dengan gagasan isi dan cukup untuk mempertajam konsep yang diangkat dalam karya “Durbala Singkir”.

Selain itu, untuk kostum busana yang dikenakan lebih banyak didominasi warna merah, kuning, dan hijau. Warna merah sebagai simbol keberanian untuk menolak segala macam bentuk balak dan kekuatan jahat. Warna kuning merupakan simbol kemakmuran yang akan diraih apabila segala balak telah disingkirkan.

Warna hijau merupakan lambang dari alam, dan keseimbangan. Maksudnya adalah kita selalu hidup berdampingan dengan alam dan selalu mendapatkan semuanya dari alam. Oleh karenanya kita harus menjaga alam dan hidup selaras dengan semua yang ada di dunia ini.

Salah satu yang penting dalam kostum ini adalah kain jarit. Kain yang digunakan memakai motif Kawung. Motif kawung bermakna kesempurnaan, kemurnian dan kesucian.

Dalam kaitannya dengan kata suwung yang berarti kosong, motif kawung menyimbolkan kekosongan nafsu dan hasrat duniawi, sehingga menghasilkan pengendalian diri yang sempurna. Kekosongan ini menjadikan seseorang netral, tidak berpihak, tidak ingin menonjolkan diri, mengikuti arus kehidupan, membiarkan segala yang ada disekitarnya berjalan sesuai kehendak alam.

Dalam pelaksanaanya, peralatan, Perlengkapan, dan Properti dalam karya ini adalah kentongan bambu (thethek) dan pemukul, alat-alat rumah tangga, Kemoceng, Bendhe, Bedug, Kendang ketipung, Sound System, Lighting dan generator. Selain itu instrument yang digunakan adalah 3 set Bende, 2 Bedug, 2 Kendang ketipung dan 70 Ronthek

Berikut Line Up penyaji Ronthek “Durbala Singkir Pringkuku 2019:

Tokoh Ilir:  Marjuki, Ita Puji Astuti,  Erna Dwi Yanti, Adif Jamil Pradana

Penari: Ariesta Maharani, Umi Royani, Yuliani Tri Kusuma Ningsih, Yasinta Wenda Mulasari, Anes Ayu Pratiwik, Bayu Permata Sari.

Penabuh: Aris Setiawan, Indra Fimansyah, Andrias Ari Ardiyanto, Andi Susanto, Efa Amiliya Damayanti, Meliana Puspitasari, Reny Ega Famecta, Melisa Eka Saputri, Suranto, Anton Febriatmoko, Lestari Puji Astuti, Dea  Martika Sandi, Johan Adetya Pratama, Denis Ermawati, Saydah Septikomah, Ety Kusumaningsih, Amelia Nur Indani Putri, Beni Eko Prasetyo, Langgeng Adji Saputro, Salsabila Apriliani, Wuri Lestari, Fitria Dania Julianti, Monica Eksanni Araf, Elisa Oktavia Putri R, Aryasa Yusuf Pratama, Aryosa Ibnu Rokhim, Ninik Sumini, Ridwan Akhrin Nurun N, Susiani, Endang Setyorini, Rokhana Sahfira A, Wirawan Hadi Wibowo, Angga Afriza Taufiq, Agung Pambudi Setyo, Azis Dwi Prasetyo, Feri Kusnanda, Andre Pangestu, Baharudin Nasta’in, Bintang Pasha N, Risa Nurlita, Krisna Adi Prayogo, Roviq Alwiatu Roqim, Mohamad Roy Adi Saputro, Taufiq Nur Hidayat, Endro Cahyono, Wahyu L Fajar, Defri Apriliyas S, Heru Susanto, Erna Titik Setyaningsih, Wahyu Sri Utami, Ari Wiyani, Jumanto, Tuimin, Dimas Dwi Rahayu, Poniran, Jumangat, Titi Suryati, Maruli Sitompul, Rudi Hadi Saputro, Dedy Herwin, Dimas Buyung, Nur Yasin, Indra Handayani, Astryt Kurnalia, Totok Mardianto, Trias Febi Utami, Wisnu Dwi K, Eka Fuji Rahayu, Dhaifina Fitya Awanis dan Puji Rahayu.

Pembaca Sinopsis : Ponimin, S.Pd, Penata Musik : Johan Adiyatma Baktiar, Penata Gerak : Anang Setiawan, Kostum dan Make Up Designer : Deasylina da Ary, Penata Artistik : Anang Setiawan dan  Johan Adiyatma Baktiar

Kru/Crew: Tim pembantu penyajian dalam karya ini terdiri dari lighting designer, sound engineer, driver, pendorong gerobak, dan penghubung.

Pangombyong: Dalam hal ini terdiri dari Kepala Desa se-Kecamatan Pringkuku, Camat Pringkuku beserta Forkompimca Pringkuku, Seluruh Kepala Dusun se-Desa Pelem.

Lembaga Terkait: Pemerintah Desa Pelem, Sampang Agung Centre for Performing Arts (SACPA), Pemerintah Desa se-Kecamatan Pringkuku, Pemerintah Kecamatan Pringkuku

Pelindung: Camat Pringkuku, Kepala Desa Pelem, Seluruh Kepala Dusun se-Desa Pelem

Pimpinan Produksi; Deasylina da Ary, Financial Manager; Diana Nur Hayati, Kesekretariatan; Anik Puji Rahayu, Pj. Penyaji Purwati, Pj. Rias dan Busana : Very Muharyanti, Pj. Konsumsi : Rini Widhiyastuti, Pj. Properti : Wisnu Dwi Kristanto, Pj. Peralatan&Publikasi : Aryasa Yusuf Pratama