Rektor UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta Didaulat Menjadi Ketua Ikatan Alumni Pondok Tremas

oleh -131.815 views
Prof Drs KH Yudian Wahyudi MA PhD ketika memberikan sambutan pada Hari Kelahiran ke 65 UIN Suka Yogyakarta, Senin (26/9/2016). (foto : heri purwata/jogjapaper.com)

Pacitanku.com, ARJOSARI – Rektor Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga Yogyakarta Prof. Drs. KH. Yudian Wahyudi, MA., Ph.D terpilih menjadi Ketua Umum Ikatan Alumni Pondok Tremas (IAPT) periode  2017-2022.

Musyawarah Besar dan Reuni Nasional III IAPT Tahun 2017 tersebut digelar pada Minggu (24/12/2017) hingga Senin (25/12/2017) di Ponpes Tremas, Arjosari, Pacitan.

Yudian sendiri tercatat menjadi santri Pondok Tremas mulai tahun 1972 hingga 1978. Dia adalah salah satu santri Tremas yang sukses menembus pendidikan hingga ke Harvard Law School, Boston, Amerika Serikat.

Dalam karyanya, Yudian dosen pertama dari Perguruan Tinggi Agama Islam Negeri (PTAIN) yang berhasil menembus Harvard Law School di Amerika Serikat. Hal itu diperolehnya setelah menyelesaikan pendidikan doktor (PhD) di McGill University, Kanada.

Ia juga berhasil menjadi profesor dan tergabung dalam American Asosiation of University Professors serta dipercaya mengajar di Tufts University, Amerika Serikat (AS). Keberhasilannya menjadi guru besar dan mengajar di salah satu universitas ternama di AS, telah mengukir sejarah baru dalam dunia pendidikan Islam.

Mengutip berbagai sumber, dalam perjalanannya, Yudian menerbitkan perjalanan kisahnya dalam buku Jihad Ilmiah dan mendirikan pesantren Nawesea, yaitu pesantren khusus bagi mahasiswa pascasarjana. Ia mengharapkan buku dan pesantrennya menjadi jalan untuk menuju kesuksesan di negeri Barat.

Selain itu, dalam beberapa seminar yang diikutinya, Yudian juga sempat juga mengkritik pola pendidikan agama di sekolah formal. Dalam pandangannya, pendidikan agama yang berlangsung selama ini mendorong peserta didik menjadi pribadi yang munafik.

“Pelajaran agama kita sangat minim dan tidak ada pertanggungjawaban. Walhasil, akan muncul persepsi bahwa pelajaran agama itu tidak penting. Anak didik kita pun terbentuk menjadi pribadi yang munafik,” tuturnya di hadapan peserta seminar Kontekstualiasi Pemikiran KHM. Hasyim Asy’ari dalam Fenomena Global, beberapa waktu lalu.

Sebagai solusi, Yudian mengusulkan agar pemerintah memasukkan mata pelajaran agama ke dalam materi ujian nasional. Dengan masuknya mapel agama ke dalam UN, peserta didik akan merasakan bahwa memahami agama itu tetap relevan dengan masa depan mereka. “Sekarang ini, seorang anak yang nilai agamanya 10 sekalipun, akan menganggap tidak ada manfaatnya belajar agama karena bukan materi UN,”imbuhnya.

Terkait gagasannya tersebut, di menjelaskan empat tingkat dalam pendekatan pembelajaran agama yang perlu dirumuskan segera. Pertama,materi tentang dasar-dasar keyakinan dan doktrin ibadah masing-masing agama, diajarkan oleh guru yang seagama dengan muridnya.

Kedua, materi di bidang muamalah atau urusan kemasyarakatan dan interaksi sosial lainnya. “Materi ini juga harus diajarkan oleh guru yang seagama, untuk murid yang seagama,” tutur pendiri Pesantren Nawesea, sebuah pesantren yang dikhususkan bagi mahasiswa pascasarjana.

Pada tingkat ketiga, materi pelajaran agama mulai membahas kebutuhan nasional, seperti korupsi dan terorisme, dari kacamata masing-masing agama. Materi ini tetap diajarkan oleh guru yang seagama kepada pemeluk agama masing-masing.

Pada tingkat keempat, pelajaran agama membahas kebutuhan nasional dari kacamata semua agama.

“Doktrin agama yang telah dipelajari, dikaitkan dengan berbagai regulasi yang ada di negara kita. Dari situ, akan terbangun kembali agama sebagai penguat Pancasila. Karena, agama adalah ruh Pancasila,” pungkasnya.

Agenda Munas dan Reuni nasional ini sendiri juga dihadirioleh Menteri Negara Pemuda dan Olahraga Imam Nahrawi.

Dalam sambutannya, Imam mengagumi kebesaran sejarah Pondok Tremas di Desa Tremas, Kecamatan Arjosari, Pacitan. “Kami ucapkan terima kasih atas sambutan yang sangat sangat luar biasa ini dalam acara reuni Akbar Nasional III Ikatan Alumni Pondok Tremas (IAPT),”katanya, mengawali sambutannya.

Dia mengatakan bahwa Pondok Tremas merupakan pondok yang sangat bersejarah bagi bangsa Indonesia karena para kiayinya banyak melahirkan kitab yang dijalankan acuan pondok pondok pesantren di Indonesia.

Imam menyebut Pondok Tremas sangat bersejarah karena ulama Indonesia dan para pendiri Nahdlatul Ulama berguru di pondok ini.

“Saat ini ponpes adalah satu-satunya perguruan dan lembaga pendidikan yang memberi akhlak yang baik dalam peran sosial yang dibutuhkan negeri ini, para santrinya juga bisa beradaptasi dengan dunia modern yang saat ini berkembang pesat,” katanya pada Munas dan Renas yang diikuti 5000 lebih peserta (tahun 60-an hingga tahun 2000-an) ini. (RAPP002)